(Minghui.org) Pada dua hari Sabtu berturut-turut—tanggal 23 dan 30 Maret 2024—Praktisi Falun Dafa mengadakan acara di Plovdiv dan Varna untuk meningkatkan kesadaran akan penganiayaan yang sedang berlangsung di Tiongkok. Partai Komunis Tiongkok (PKT) terus melakukan penganiayaan, termasuk pengambilan organ secara paksa dari mereka yang berlatih Falun Dafa.

Stan informasi dan spanduk praktisi menyerukan akhiri kekejaman dan penindasan yang dilakukan PKT terhadap praktisi Falun Dafa (juga dikenal sebagai Falun Gong) dipasang di dekat jalan perbelanjaan yang sibuk dan menarik perhatian orang yang lewat.

Untuk membantu orang-orang mengetahui situasi di Tiongkok, praktisi mengumpulkan tanda tangan pada dua petisi: petisi pertama mengecam berbagai kekejaman hak asasi manusia yang dilakukan PKT di Tiongkok, dan petisi kedua mendukung inisiatif Dokter Menentang Pengambilan Organ Paksa (DAFOH). Petisi DAFOH menyerukan kepada pemerintah Bulgaria untuk memastikan bahwa negara, warga negara, dan organisasi Bulgaria tidak terlibat dalam penganiayaan dan pengambilan organ paksa dari praktisi.

 

Saluran media sosial lokal mewawancarai praktisi Nicol dari Varna tentang acara tersebut.

“Penganiayaan Ini Sangat Kejam dan Menjijikkan!”

Cuaca hangat yang tidak biasa menarik ratusan orang keluar ke jalan perbelanjaan setelah musim dingin, dan banyak yang berhenti di stan praktisi untuk mengetahui lebih banyak tentang situasi tersebut. Banyak dari mereka mengatakan, kekejaman sampai ketarap demikian yang terjadi di Tiongkok terhadap warga yang tidak bersalah sangatlah mengejutkan.

Radka menandatangani kedua petisi praktisi setelah mendengar tentang penganiayaan dan pengambilan organ paksa dari praktisi di Tiongkok. Dia bertanya: “Apa yang saya dengar sungguh mengerikan, bagaimana mungkin ini benar?” Sebelum pergi, dia berharap praktisi sukses dalam memberi tahu lebih banyak orang tentang penganiayaan di Tiongkok.

 

Radka menandatangani kedua petisi tersebut untuk membantu menghentikan penganiayaan dan pembunuhan terhadap praktisi di Tiongkok.

Michaela dari Sofia sedang mengunjungi kerabatnya di Plovdiv. Dia mengatakan melihat spanduk dengan isi yang sama di ibu kota, menyerukan diakhirinya penganiayaan dan pengambilan organ oleh PKT, namun mengabaikannya. Hari ini, dia ingin mengetahui lebih banyak.

Praktisi memberi tahu dia tentang penganiayaan yang telah berlangsung selama 24 tahun dan upaya komunitas Falun Dafa di seluruh dunia untuk menghentikan penganiayaan. Michaela berseru: “(Penganiayaan) ini adalah kejahatan!” Dia menandatangani kedua petisi tersebut, menyemangati praktisi, dan menambahkan bahwa dia akan membantu mereka memberi tahu orang-orang tentang pelanggaran hak asasi manusia yang mengerikan.

 

Michaela mengatakan akan memberi tahu teman dan keluarganya tentang penganiayaan Falun Dafa di Tiongkok.

Seorang ibu dan anak berhenti di depan stan petisi. Sang ibu, Velimira, menanyakan banyak pertanyaan kepada praktisi tentang penganiayaan dan mengapa hal itu terjadi, serta rincian bagaimana praktisi di Tiongkok diperlakukan.

Ketika dia mendengar praktisi disiksa dan organ mereka diambil saat mereka masih hidup, dia berkata: “Ini sangat kejam dan menjijikkan!” Velimira bertanya apakah ada upaya lain di seluruh dunia untuk melawan penganiayaan. Dia tertarik dengan tindakan yang diambil oleh pemerintah untuk menunjukkan solidaritas dengan praktisi.

Dia membubuhkan tanda tangannya pada kedua petisi tersebut untuk menyatakan dukungannya terhadap praktisi di Tiongkok.

Siswa Tertarik Belajar Latihan

Siswa dari sekolah terdekat juga penasaran dengan kegiatan praktisi. Simona dan Bojidara adalah siswa berusia 15 tahun di Sekolah Menengah Rusia di Plovdiv. Mereka diam-diam mendengarkan praktisi menceritakan penganiayaan dan pelanggaran hak asasi manusia terhadap praktisi Falun Gong di Tiongkok. Simona berkata: “Apakah ini hanya terjadi di Tiongkok? Sungguh sulit dipercaya!”

Keduanya tertarik pada informasi yang ada di brosur tentang latihan ini dan setelah menandatangani kedua petisi, gadis-gadis tersebut bertanya untuk bisa berlatih, di mana praktisi Plovdiv melakukan latihan Falun Dafa.

 

Simona dan Bojidara mempelajari informasi tentang Falun Dafa dan penganiayaan PKT di Tiongkok.

Martin dan Daniel, juga berusia 15 tahun, adalah siswa di sekolah teknik elektro di Plovdiv. Setelah mereka diberitahu tentang penganiayaan, mereka segera menandatangani petisi untuk mengecam kejahatan hak asasi manusia yang dilakukan oleh PKT.