(Minghui.org) Pada Sabtu sore 24 Mei 2008 sekitar jam 14.00 waktu setempat, pelabuhan Padang Bai Karang Asem Bali dipadati oleh ratusan peserta pawai dan ribuan penonton untuk memeriahkan Padang Bai Festival’ 2008. Ini adalah Festival yang ke dua kalinya yang pertama kalinya diselenggarakan pada tahun 2006. Kedepannya Padang Bai Festival akan di selenggarakan setahun sekali yang dulunya sempat direncanakan dua tahun sekali.

Menurut ketua umum pawai tahun ini, Yuda Suparsana SH, MBA, tujuan dari Festival ini adalah untuk ikut berpartisipasi di dalam program pengembangan potensi seni budaya daerah Karang Asem dan sekitarnya, yang dikaitkan dengan Seratus Tahun Kebangkitan Nasional dan Visit Indonesian Years 2008.

Ketua pelaksana pawai, Wayan Suardika mengatakan ada sekitar delapan peserta yang ikut bergabung berpartisipasi dalam pawai tersebut termasuk anggota dari Falun Dafa. Dari delapan peserta tersebut diperkirakan mencapai 300 orang yang terdaftar. Kelompok Falun Dafa diperkirakan mencapai 100 orang peserta dan merupakan peserta pawai terpanjang dan terbanyak dari delapan peserta.

Jarak tempuh pawai kurang lebih 1 km yang mengambil start sekaligus finish di depan Banjar Kaler Padang Bai Karang Asem Bali.

Para penonton sangat mengagumi barisan dari Falun Dafa. Sepanduk yang bertuliskan “Falun Dafa” telah memimpin barisan tersebut yang kemudian disusul oleh spanduk yang bertuliskan “Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar)” yang merupakan prinsip alam semesta. Di belakangnya terlihat seorang praktisi cilik yang sedang duduk di atas bunga lotus dalam keadaan hening bermeditasi. Pasukan anak-anak sekolah Minghui menyusul dengan membawa huruf “Zhen-Shan Ren” yang dihiasi dengan pernak-pernik berwarna warni yang diiringi oleh para penari pita cilik. Puluhan pemain gendrang pinggang dan puluhan bendera panji kebesaran Falun Dafa pun menyusul yang diiringi oleh tarian lotus dari anak-anak sekolah Minghui. Kemudian muncul sebuah mobil hias dengan tiga orang praktisi yang sedang duduk bersila ganda memperagakan latihan meditasi. Barisan Falun Dafa diakhiri oleh puluhan barisan para praktisi Falun Dafa dengan seragam putih kuningnya dengan memegang bendera kecil yang bertuliskan “Falun Dafa Hao.”



Pawai tiba di depan panggung kehormatan setelah melakukan perjalanan kurang lebih 500 meter, Falun Dafa diberikan kehormatan untuk menampilkan atraksinya di depan panggung kehormatan. Para praktisi menampilkan atraksi gendrang pinggang dengan formasinya yang sederhana namun meyakinkan. Kemudian disusul oleh tarian lotus dari anak-anak sekolah Minghui yang diiringi oleh alunan musik bak surgawi yang sangat mengesankan para penonton. Seorang narator perwakilan dari praktisi Falun Dafa menjabarkan dari atraksi yang ditampilkan tersebut. Yang mana gendrang pinggang merupakan salah satu kebudayaan Tiongkok Kuno pada Zaman Dinasty Tang yang sempat punah kini bangkit kembali, sebuah kebudayaan semi Dewa yang diturunkan kepada umat manusia di dunia. Sedangkan tarian lotus adalah melambangkan kehidupan manusia yang hidup di dalam lumpur kemudian naik ke atas secara perlahan dan kemudian mekar indah di atas. Sungguh indah sekali bunga lotus tersebut. Seseorang yang ingin menjadi bunga lotus yang mekar dan indah adalah dengan melalui jalan Xiulian satu-satunya. Mengkultivasikan watak dan raga, berpikir dan berbuat sesuai dengan prinsip “Sejati-Baik-Sabar.” Narator juga menghimbau kepada masyarakat luas bahwa Falun Dafa masih dianiaya di China, sedangkan Falun Dafa adalah senam dan meditasi kesehatan yang para praktisinya sedang menempa diri untuk menjadi orang baik sesuai denga prinsip alam semesta “Sejati-Baik-Sabar.”

Disaat atraksi berlangsung para praktisi yang mengenakan kostum bidadari secara antusias menaiki panggung kehormatan dan dengan senyum ramah membagi-bagikan bingkisan kepada para undangan kehormatan berupa materi-materi klarifikasi fakta.

Usai atraksi, para praktisi Falun Dafa kembali melanjutkan pawai menyusuri jalan menuju garis finish. Materi-materi klarifikasi fakta pun tersebar sepanjang pawai. Masyarakat Padang Bai Karang Asem Bali benar-benar menyambut dengan baik hehadiran Falun Dafa di daerahnya. Anak-anak banyak yang berebut untuk mendapatkan brosur-brosur mengenai Falun Dafa.