(Minghui.org) Pada hari Minggu tanggal 22 Juli 2007 sekitar jam 15.30 Wita, kurang lebih 300 praktisi Falun Dafa dari berbagai kabupaten di Bali tengah berkumpul di Pantai Kuta depan HardRock Café untuk melaksanakan serangkaian kegiatan dalam rangka mengklarifikasi fakta untuk mengekspos kejahatan Partai Komunis China (PKC) yang telah menindas Falun Gong selama 8 tahun sejak tanggal 20 Juli 1999.



Kegiatan tersebut terdiri dari pawai jalan kaki di sepanjang pantai yang menempuh jarak kurang lebih 2 kilometer, latihan Gong bersama, peragaan penganiayaan dan pengambilan organ serta pengumpulan petisi untuk mendukung Obor Etafet HAM .

Pawai menampilkan keindahan Falun Dafa yang terdiri dari barisan pasukan genderang pinggang, bendera-bendera dan spanduk, tarian lotus dan tarian kipas, serta barisan pembawa foto-foto praktisi yang telah dianiaya hingga meninggal di China. Tak ketinggalan, sebuah tarian Liong (Naga) meliuk-liuk mengelilingi seluruh barisan pawai dari depan hingga belakang silih berganti.

Pada waktu yang bersamaan, sebagian praktisi melakukan latihan bersama Lima Perangkat Metode Gong dengan membentuk empat barisan panjang. Beberapa praktisi lainnya terlihat sedang memperagakan berbagai bentuk penyiksaan dan penganiayaan yang dilakukan Polisi PKC terhadap praktisi Falun Gong di China.

Beberapa praktisi juga memperagakan transplantasi pengambilan organ dan perdagangan organ ilegal oleh PKC. Sebuah spanduk bertuliskan “CIPFG: Perdagangan Organ Manusia di China Mempermalukan Semangat Olimpiade” terbentang tidak jauh dari tempat itu.

Seorang wisatawan asal Perth, Australia, Joshua Kailis secara spontan ikut melakukan latihan Gong bersama praktisi lainnya. Kepada salah seorang praktisi yang sedang memberikan contoh gerakan kepadanya, Joshua mengatakan bahwa ia dapat merasakan suatu medan energi yang mengalir pada kedua tangan dan perutnya.

Beberapa praktisi lainnya dan praktisi cilik sedang membagi-bagikan brosur kepada kerumunan pengunjung dan wisatawan yang sedang antusias menyaksikan rangkaian kegiatan itu.

Dalam kegiatan itu, para praktisi juga mengumpulkan dukungan Obor Estafet HAM untuk menghentikan penganiayaan.

Sementara kegiatan berlangsung, sebuah layang-layang yang bergambar lambang Falun dan bertuliskan ‘Zhen-Shan-Ren, Falun Dafa Hao!” sedang menari-nari di langit Pantai Kuta.

Pada pukul 18.55 Wita, para praktisi melakukan Pemancaran Pikiran Lurus bersama (Fa Zhengnian). Bersamaan dengan itu, beberapa praktisi mementaskan sebuah drama “Pasir Putih Bersimbah Darah” yang mampu menyedot banyak penonton di tempat wisata itu. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut kemudian diakhiri dengan acara Nyala Lilin bersama.