(Minghui.org) Praktisi Falun Dafa mengadakan kegiatan latihan bersama di GOR Purwokerto, Jawa Tengah pada Sabtu pagi tanggal 4 Januari 2014. Warga setempat yang tengah ber-jogging, berjalan pagi maupun bersepeda memperoleh brosur pengenalan dan beberapa langsung mencoba perangkat latihan.

Hari itu, sekelompok pengusaha Tionghoa setempat juga tengah jalan pagi. Beberapa dari mereka mempertanyakan, “Kenapa dilarang di China?” Praktisi menjelaskan bahwa Konstitusi China sendiri tidak pernah melarang Falun Gong. Rejim komunis China di bawah mantan presiden Jiang Zemin lah, ketika melihat perkembangan sangat pesat dari Falun Gong di era 90-an, menjadi paranoid, dan akhirnya pada Juli 1999 menerapkan kebijakan genosida untuk membasmi Falun Gong dalam kurun tiga bulan.

Meskipun telah mengalami genosida kejam selama 14 tahun lebih, di daratan China pada kenyataannya masih terdapat demikian banyak praktisi. Pada perayaan Hari Tahun Baru maupun Hari Falun Dafa Sedunia, Master Li Hongzhi, pendiri dari Falun Gong, senantiasa menerima puluhan ribu kartu ucapan selamat dari para pengikut maupun yang bukan pengikut di daratan China. Sementara di dunia internasional, Falun Gong semakin menyebar dan telah dilatih di lebih dari 100 negara, termasuk di banyak daerah dan kota di Indonesia.

Setelah berbincang-bincang dengan para praktisi, seorang pengusaha Tionghoa setempat berpendapat, “Falun Gong membawakan pola pikir baru.” Seorang pengusaha Tionghoa lainnya yang juga berlatih qigong, dapat melihat kebaikan dari metode kultivasi Falun Gong yang berlandaskan pada prinsip Sejati-Baik-Sabar, dan dapat menerima bahwa tidak ada yang keliru dengan berasimilasi pada prinsip universal tersebut.

Seorang pemuda mengalami gemetar hebat pada tangan kanannya saat mencoba perangkat kedua. Pemuda itu ternyata pernah mengalami kecelakaan motor, dan sejak itu mengalami kesulitan mengendalikan dan mengangkat tangan kanannya. Relawan pembimbing memberi saran agar mencoba dan bertahan. Setelah beberapa waktu, musik latihan yang lembut dan indah membuat dirinya terlihat semakin tenang, getaran pada tangan dan kaki berkurang dan pada akhirnya pemuda itu berhasil mengangkat tangan kanannya saat melakukan ‘Liangce Baolun’ (memeluk roda di kedua sisi) yang merupakan gerakan terakhir dari perangkat kedua Falun Gong.