(Minghui.org) Lebih dari 200 negara dan wilayah sedang mengatasi pandemi virus Corona, banyak pejabat pemerintah dan orang-orang pada umumnya mencari obatnya. Ada yang mulai merenung beberapa masalah mendasar masyarakat kita dan diri kita sendiri.

“Penyakit epidemi bukanlah peristiwa acak yang menimpa masyarakat secara acak dan tanpa peringatan,” tulis Frank Snowden, seorang profesor emeritus sejarah dan sejarah kedokteran di Yale dalam bukunya Epidemics and Society: From the Black Death to the Present, diterbitkan pada Oktober 2019, beberapa minggu sebelum wabah virus Corona di Wuhan, Tiongkok.

“Epidemi adalah kategori penyakit yang sepertinya memberi cermin bagi umat manusia tentang siapa diri kita sebenarnya,” jelasnya saat wawancara dengan The New Yorker pada 3 Maret 2020. “Epidemi juga merefleksikan hubungan kita dengan lingkungan – lingkungan buatan yang kita ciptakan dan lingkungan alam yang merespon. Epidemi menunjukkan hubungan moral yang kita miliki terhadap satu sama lainnya sebagai manusia, dan kita melihatnya pada hari ini.”

Dengan mengingat hal itu, kita mungkin ingin menjelajahi apa yang telah terjadi selama pandemi virus Corona, apa yang bisa dipelajari dari sejarah, dan apa yang harus kita melakukan untuk menemukan solusinya.

Virus PKT

Sejak Desember 2019, Partai Komunis Tiongok (PKT) tidak berupaya untuk mengatasi wabah awal, meremehkan tingkat keparahannya, angka yang dilaporkan rendah, dan menyalahkan orang lain untuk mengalihkan tanggung jawab. “Bukti bahwa Tiongkok secara sengaja menutup-nutupi wabah virus Corona di Wuhan adalah masalah catatan publik,” lapor The Atlantic pada 19 Maret 2020.

Untuk memperburuk keadaan, pemerintah Tiongkok menyensor dan menahan para dokter serta whistleblower yang secara berani berusaha untuk membunyikan alarm serta memperingatkan sesama warga ketika mereka memahami bahaya yang akan terjadi.

Karena PKT harus bertanggung jawab atas pandemi ini, surat kabar Epoch Times yang bermarkas di New York menyebut penyakit itu sebagai “virus PKT” dalam editorialnya pada 18 Maret “Memberikan Nama yang Tepat untuk Virus yang Menyebabkan Pandemi Seluruh Dunia.”

Josh Rogin dari Washington Post pun setuju. Dalam artikelnya pada 19 Maret, dia juga menyebutnya virus PKT, menambahkan nama ini “lebih akurat dan hanya menyinggung orang-orang yang pantas mendapatkannya.” “Kita semua harus secara spesifik menyalahkan Partai Komunis Tiongkok atas perbuatannya. Adalah PKT yang menyembunyikan wabah virus selama berminggu-minggu, membungkam para dokter, memenjarakan jurnalis dan menghalangi ilmu pengetahuan – terutama dengan menutup laboratorium Shanghai yang secara terbuka merilis genom virus Corona pertama,” jelasnya.

Rute Infeksi

Pejabat pemerintah, ilmuwan, dan profesional medis telah memeriksa rute penularan virus, berharap bisa mempelajari lebih lanjut tentang penyakit tersebut. “Setiap masyarakat menghasilkan kerentanan spesifiknya sendiri,” tulis Snowden dalam bukunya.

Di luar Tiongkok, di mana data nyata tidak tersedia karena PKT menutupinya, Italia menduduki puncak kematian terbanyak (total 14.681 dan 243 per satu juta populasi), diikuti Spanyol, yang melaporkan 10.935 kematian (234 per satu juta populasi), per tanggal 2 April. Amerika Serikat melaporkan paling banyak kasus infeksi (266.558) dan 6.803 kematian (21 per satu juta populasi).

Jadi apa kesamaan negara-negara ini? Mereka semua memiliki hubungan dekat dengan PKT.

Italia

Banyak analis khawatir ambisi Tiongkok untuk menjadi kekuatan dunia dan mencurigai One Belt and One Road (OBOR, juga dikenal Belt and Road Initiative, or BRI) bisa menjadi kuda Trojan bagi pengembangan regional dan ekspansi militer yang dipimpin Tiongkok

Akan tetapi, mengabaikan peringatan dari Uni Eropa dan Amerika Serikat, Italia menjadi negara G7 pertama dan satu-satunya yang menandatangani program itu pada Maret 2019, membuka “serangkaian sektor untuk investasi Tiongkok, dari infrastruktur hingga transportasi, termasuk membiarkan BUMN Tiongkok memegang saham di empat pelabuhan utama Italia. Kesepakatan itu memberi pijakan komunis Tiongkok di jantung Eropa,” lapor The Federalist pada artikel 17 Maret.

Setelah total 29 kesepakatan ditandatangani antara dua negara ini, Wakil Perdana Menteri Italia mengatakan kepada CNBC, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Kasus infeksi virus Corona pertama di Italia dilaporkan di wilayah Lombardy pada 21 Februari, dua hari sebelum Wuhan lockdown. Wilayah ini, yang telah menarik investasi besar dari Tiongkok, sekarang merupakan wilayah yang paling terpukul di Italia.

Spanyol

Spanyol adalah anggota pendiri Asian Infrastructure Investment Bank dan telah berpartisipasi dalam KTT BRI sambil mendorong investasi Tiongkok yang lebih besar. “Pada tahun 2009, perdana menteri Tiongkok saat itu, Wen Jiabao menyebut Spanyol sebagai ‘teman terbaik Tiongkok di Eropa.’” Spanyol adalah negara Uni Eropa pertama di mana menteri luar negerinya mengunjungi Beijing setelah protes di Lapangan Tiananmen tahun 1989 dan kemudian berupaya menghentikan embargo senjata Uni Eropa terhadap Tiongkok,” menurut sebuah artikel dari Pusat Studi Strategis dan Internasional pada Oktober 2019 berjudul “Spanyol dan Tiongkok: Pendekatan Eropa untuk Hubungan Asimetris.”

Di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, Telefónica, salah satu operator telepon dan provider jaringan seluler terbesar di dunia, telah banyak berinvestasi dalam peralatan 5G Huawei. Tidak hanya itu, dengan Spanyol sebagai jembatan, Tiongkok berhasil memperluas BRI ke Amerika Latin (dengan menekan pada Venezuela) dan “mengambil alih Uni Eropa sebagai mitra dagang terbesar kedua (setelah Amerika Serikat) di wilayah tersebut.”

“Sejauh itu menyangkut HAM Tiongkok, Spanyol berhati-hati untuk tidak mengakui atau membela mereka,” tambah artikel tersebut.

Amerika Serikat

Sejauh ini Amerika Serikat memiliki jumlah infeksi tertinggi tetapi kematian relatif rendah (21 per satu juta populasi). Hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok masih terus berkembang. Menurut Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer, “mengizinkan Tiongkok masuk dalam WTO pada tahun 2001 adalah kesalahan historis yang merugikan jutaan pekerjaan AS dan triliunan dolar dalam akumulasi defisit perdagangan.”

Amerika Serikat sekarang mengabaikan aturan WTO dan mengancam Beijing dengan tarif hingga “$500 miliar barang impor,” lapor Wall Street Journal dengan artikel berjudul “Ketika Dunia Membuka Pintu Gerbang untuk Tiongkok” pada Juli 2018.

Bertolak belakang dengan apa yang diharapkan para pendukung WTO, “Beijing menjinakkan internet dengan membatasi penggunanya pada perdagangan, teknologi, dan media sosial. Dia memblokir organisasi politik dengan mengancam dan kadang-kadang memenjarakan mereka yang memposting komentar berisi kritis. Baru-baru ini, Tiongkok telah mengubah internet itu sendiri menjadi instrumen negara dengan menggunakannya untuk mengidentifikasi serta melacak para pembangkang. ‘Itu adalah Orwellian,’ kata Jerome Cohen, seorang profesor hukum Universitas New York dan ahli masalah Tiongkok.”

“Pertumbuhan ekonomi yang lebih besar menyebabkan kontrol politik makin besar,” tambah Mark Wu, seorang profesor dari Harvard Law School yang penelitiannya berfokus pada Tiongkok dan WTO.

Situasi Saat Ini di Tiongkok

Fang Fang, seorang penulis dan blogger di Wuhan, menulis pengalamannya di buku harian yang kemudian diposting di internet.

“Sepertinya kematian semakin dekat ke diri kita dari hari ke hari. Sepupu tetangga saya meninggal, saudara laki-laki teman saya meninggal, orang tua dan istri teman lainnya meninggal setelah dirinya. Orang-orang menangis sangat sedih hingga air mata mereka mengering…” tulisnya pada 9 Februari.

“Bagi mereka yang terinfeksi sebelumnya, yang paling mengganggu mereka bukanlah kematian, tetapi keputus-asaan. Orang-orang itu meminta bantuan, tetapi tidak ada yang datang; mereka menghubungi dokter dan mencari obat-obatan, tetapi bantuan tidak datang. Rasa sakit dan putus asa sebelum kematian mereka adalah lebih buruk dari jurang maut mana pun,” lanjutnya.

Pada 15 Februari. Fang menulis bahwa salah satu teman SMU-nya meninggal karena penyakit tersebut. Walaupun banyak teman sekolah lainnya biasa memuji PKT, kali ini mereka tahu kematian itu disebabkan oleh pemerintah yang menutupi dan disinformasi. “Mereka [para pejabat] terus mengatakan ‘tidak ada penularan manusia ke manusia,’ dan penyakit ‘dapat dicegah serta dikendalikan.’ Para pembohong ini harus dimintai pertanggungjawaban!” kata salah satu teman sekolah.

“Wuhan menjadi bencana sekarang,” tulisnya di buku harian pada 26 Februari. “Bencana tidak berarti Anda harus mengenakan masker atau tinggal di rumah; bencana berarti sertifikat kematian di rumah sakit – satu buku digunakan selama berbulan-bulan dan sekarang hanya digunakan beberapa hari; bencana berarti truk ke krematorium yang dulu mengangkut satu mayat dalam peti mati dan sekarang mengangkut berkantong-kantong mayat; bencana berarti seluruh keluarga meninggal dalam hitungan hari atau dua minggu.”

Postingan Fang segera dihapus di media sosial seperti WeChat atau Weibo, dilaporkan Quartz dengan judul “Seorang penulis buku harian yang mencatat kehidupan di Wuhan selama lockdown virus Corona, telah menyelesaikan catatan terakhirnya.”

Watak Komunisme yang Permanen

Setelah Li Wenliang, salah satu dari delapan dokter di Wuhan dihukum pada 1 Januari karena memberikan peringatan tentang epidemi, meninggal pada 7 Februari, para pejabat berjanji akan melakukan penyelidikan untuk meredakan kemarahan publik.

Sebulan kemudian, dua petugas polisi setempat dihukum, seorang menerima hukuman dan lainnya mendapat peringatan. “Bagaimana bisa membiarkan polisi ini di bagian paling bawah menanggung beban?” salah satu komentar di media sosial Weibo. “Mereka hanya menjalankan perintah.”

Taktik kambing hitam seperti ini sering digunakan oleh PKT. Setelah setiap kampanye besar atau bencana buatan manusia, Partai Komunis memilih individu-individu tertentu dan menghukum mereka. Karena Partai Komunis “tidak bersalah” dan “mampu mengatasi masalah,” orang-orang melupakan rasa sakit mereka dan memihak PKT lagi, hanya untuk menghadapi tragedi berikutnya.

“Seperti setiap perkembangan historis yang hebat, kegagalan komunisme tidak dapat direduksi menjadi satu penyebab tunggal. Tetapi, pada umumnya, mereka memang permanen,” tulis David Satter, seorang jurnalis dan penulis Amerika. “Jika kita menambahkan ini ke daftar kematian yang disebabkan rezim komunis yang diciptakan dan didukung Uni Soviet – termasuk yang ada di Eropa Timur, Tiongkok, Kuba, Korea Utara, Vietnam, dan Kamboja – jumlah total korban mendekati 100 juta orang. Itu membuat komunisme menjadi bencana terbesar dalam sejarah umat manusia,” tulisnya dalam artikel Wall Street tahun 2017 dengan judul “100 Tahun Komunisme – dan 100 Juta Kematian.”

Di antara kematian itu adalah Lompatan Jauh ke Depan pada akhir tahun 1950-an, di mana saat itu 45 juta orang mati kelaparan. Alih-alih memilih individu-individu tertentu untuk disalahkan seperti dalam kampanye sebelumnya, PKT hanya menepisnya, mengatakan itu adalah hasil dari bencana alam.

Untuk bergabung dengan PKT, setiap orang harus bersumpah mengabdi kepada Partai Komunis. Dalam sumpah itu, seseorang berjanji untuk “… secara ketat mengikuti ajaran Partai Komunis, menjaga rahasia Partai, setia kepada Partai… berjuang untuk komunisme sepanjang hidup saya… dan tidak mengkhianati Partai.” Ideologi ini meresap ke dalam sistem pendidikan, media, dan hampir setiap aspek dari masyarakat Tiongkok.

Mengingat cuci otak yang tak henti-hentinya, mesin komunisme tidak memiliki masalah dalam menyebarkan kebohongan-kebohongan yang tak terhitung jumlahnya yang kita dengar dalam beberapa bulan terakhir.

Melindungi Kemanusiaan

Selama pandemi ini, banyak orang, termasuk pejabat pemerintah, telah melihat pandemi masa lalu, berharap menemukan petunjuk untuk solusi krisis saat ini. Misalnya, pandemi apa yang terburuk dalam abad terakhir ini?

Banyak yang percaya itu adalah Flu Spanyol pada tahun 1918, yang menyebabkan sekitar 50 juta kematian. Tetapi kampanye dan gerakan politik PKT selama beberapa dekade terakhir ini menyebabkan kematian hampir 100 juta rakyat Tiongkok.

Pemerintah AS telah mewaspadai potensi bahaya PKT sampai Nixon mengunjungi Tiongkok pada tahun 1972. Leonid Brezhnev, pemimpin Uni Soviet antara tahun 1964 dan 1982, pernah memperingatkan Nixon tentang Tiongkok. Menurut sebuah laporan dari Dewan Keamanan Nasional Harvard Law School pada September 2015, Brezhnev percaya bahwa “kebijakan Tiongkok tidak akan berubah, bahkan setelah kematian Mao; dia yakin seluruh kepemimpinan Tiongkok secara naluriah agresif.”

Pengganti Mao, Deng Xiaoping, dengan sungguh-sungguh mengikuti saran Nixon untuk membuka ekonomi Tiongkok. Sementara itu, dia “tidak pernah melupakan ajaran Mao bahwa ‘kekuatan politik tumbuh dari laras senjata’” – baik ranah domestik maupun internasional. Dia “memberi pelajaran” kepada Vietnam pada tahun 1978 dan mahasiswa Tiongkok pada tahun 1989.

Setelah Jiang Zemin naik ke puncak saat Pembantaian di Tiananmen pada tahun 1989, dia memperketat kontrol atas ideologi. Satu contoh adalah penganiayaan terhadap Falun Gong, sebuah latihan meditasi berdasarkan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Sejak Juli 1999, puluhan juta praktisi Falun Gong telah didiskriminasi karena keyakinan mereka. Sejumlah besar telah ditangkap, dipenjara, dan disiksa, seringkali dengan kerja paksa dan pelecehan psikiatris.

Seperti menutupi pandemi virus Corona yang sedang berlangsung, tingkat penganiayaan terhadap Falun Gong tidak diketahui karena sensor dan disinformasi oleh PKT. Tetapi sejak tahun 2006, semakin banyak bukti telah mengkonfirmasikan keberadaan pengambilan organ berskala besar dari praktisi yang masih hidup di Tiongkok. Kekejaman itu begitu mengejutkan sehingga para penyelidik menyebutnya sebagai “bentuk kejahatan baru yang belum pernah terjadi di planet ini.”

Tribunal rakyat independen di London, didirikan untuk menyelidiki pengambilan organ paksa dari para tahanan tidak bersalah di Tiongkok, mengumumkan temuannya pada 17 Juni 2019. Panel menyimpulkan bahwa PKT telah mengambil organ para praktisi Falun Gong yang masih hidup di Tiongkok selama bertahun-tahun dan masih terus berlangsung.

Waktu untuk Merenung

Melalui peristiwa virus Corona, dunia telah menyaksikan bagaimana PKT berbohong tentang wabah awal dan terus berbohong setelah epidemi memburuk menjadi pandemi. Namun apakah kita akan bisa mencegah hal ini terjadi lagi?

Pendekatan holistik diperlukan karena PKT telah merambah ke hampir setiap sudut masyarakat kita dan sekarang menjadi ancaman langsung bagi kelangsungan hidup kita sendiri. “Pengaruh [PKT] itu bukanlah hal yang baru. Tekanan langsung dari PKT, sensor diri, dan ketakutan akan keterlibatan dalam liberalisme Tiongkok telah memperdayai perusahaan teknologi Amerika, Hollywood, universitas, jaringan hotel, fasyen, dan bahkan perusahaan game video,” menurut sebuah artikel dari The Diplomat pada Februari 2020, Google dan Apple masuk ke dalam daftar perusahaan yang menghasilkan kekuatan otoriter.

Pejabat pemerintah, termasuk administrasi AS saat ini, juga mengakui hal ini. “Warisan Amerika dan janji Amerika sangat berharga dan genting. Jika kita tidak membelanya dengan keras, tidak ada orang lain yang mau,” tulis Senator AS Ben Sasse dalam sebuah artikel di The Atlantic pada 26 Januari 2020, dengan judul “Tanggung Jawab untuk Melawan Ambisi Tiongkok Ada Di Tangan Kita.”

Sejak Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis dipublikasikan oleh Epoch Times pada tahun 2004, lebih dari 353 juta orang Tiongkok telah mundur dari keanggotaan mereka pada Partai Komunis, juga termasuk organisasi pemuda Liga Pemuda dan Pionir Muda.

Pandemi ini, di sisi lain, telah mengubah sikap sejumlah besar jurnalis dan warga negara Tiongkok seperti Tu Long, seorang milenial di Beijing. “Mayoritas orang Tiongkok, termasuk diri saya, tidak bersalah. Kami membiarkan [kepemimpinan PKT] untuk melakukan kejahatan, bahkan ada yang membantunya untuk melakukan kejahatan,” katanya dalam wawancara dengan Voice of America.

Ucapan jujur seperti itu tidak akan terasa aneh di Tiongkok selama beberapa ribu tahun yang lalu – setidaknya sampai komunis merebut kekuasaan pada tahun 1949. Orang-orang pada umumnya percaya keharmonisan langit, bumi, dan umat manusia. Ketika bencana besar terjadi, semua orang, dari kaisar hingga warga biasa, cenderung mencari ke dalam untuk melihat apakah mereka telah melakukan kesalahan yang menyebabkan ketidakseimbangan. Pada tingkat tertentu, itu mirip dengan orang Romawi kuno yang bertobat selama terjadi wabah setelah penganiayaan terhadap orang Kristen.

Selama wawancara baru-baru ini dengan Wall Street Journal, Snowden merefleksikan hubungan kita dengan pandemi. “Untuk semua kecakapan biomedis Barat modern, beberapa alat memiliki pemahaman yang rendah terhadap penyakit sama dengan apa yang pertama kali terjadi pada abad ke-14,” katanya pada 27 Maret, menambahkan bahwa, setelah Perang Dunia II, “ada keyakinan nyata bahwa semua penyakit menular akan menjadi sesuatu dari masa lalu.”

Seburuk apa pun yang akan terjadi, pandemi ini memberi kesempatan kepada kita untuk merenungkan masyarakat kita dan diri kita sendiri. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah kehidupan kita. Tetapi sebagai umat manusia, baik sebagai individu maupun keseluruhan, kita masih harus memenuhi kewajiban moral kita daripada sekadar menikmati harta benda, untuk menantang tirani alih-alih menyetujui dalam diam, dan menegakkan prinsip alih-alih hanyut mengikuti arus.

Meskipun pandemi tersebut mengejutkan, itu bukan kebetulan; melainkan, ini adalah produk dari PKT yang masif dan rumit. Peristiwa beberapa bulan terakhir telah mengajarkan kita betapa berbahayanya sistem itu. Namun, satu pertanyaan adalah, mekanisme seperti apa yang sedang menanti kita, sebelum ia hancur berantakan?

Artikel terkait dalam bahasa Mandarin:

http://www.minghui.org/mh/articles/2020/3/22/香港教堂直播弥撒防病毒传播-402827.html

http://www.minghui.org/mh/articles/2020/3/27/洪水猛兽让我们在每天加速变化中开始了2020-403002.html