(Minghui.org) Pada awal bulan April 2021, lima anggota dari satu keluarga besar di Provinsi Guangdong ditangkap dalam waktu 48 jam karena keyakinan mereka pada Falun Gong. Pada saat penulisan, hanya satu dari mereka dibebaskan dan empat lainnya dipenjara di dua pusat penahanan terpisah.

Falun Gong, juga dikenal sebagai Falun Dafa, adalah latihan spiritual yang telah dianiaya oleh rezim komunis Tiongkok sejak tahun 1999.

Kakak perempuan tertua, Zeng Yuefang, berusia 50 tahun, adalah orang pertama yang ditangkap di rumahnya di Kota Xingning pada tanggal 7 April.

Dua hari kemudian, pada pagi hari tanggal 9 April, polisi di Kota Guangzhou menangkap adik laki-laki Zeng, Zeng Xingyang, di tokonya. Polisi juga menggledah rumah Zeng sore itu dan menangkap istrinya, Deng Fang. Adik perempuannya, Zeng Yaoling, yang kebetulan mengunjungi mereka, juga ditangkap setelah polisi menemukan pamflet Falun Gong di tasnya. Saudara perempuan Deng, Deng Yu, ditangkap dan rumahnya juga digeledah. Penangkapan dilakukan oleh petugas dari Departemen Kepolisian Distrik Tianhe dan Kantor Polisi Shipai.

Pada tanggal 22 April, setelah 15 hari ditahan, Zeng Yaofang dibebaskan. Zeng Xingyang, adik perempuannya, dan ipar perempuannya saat ini ditahan di Pusat Penahanan Distrik Tianhe. Istrinya ditahan di Pusat Penahanan Distrik Zhuhai. Penangkapan pasangan itu meninggalkan putra mereka yang berusia 4 tahun tanpa perawatan orang tua.

Saudara orang tua Zeng berusia 70-an. Ibu mereka baru saja pulang dari rumah sakit setelah menderita serangan jantung ketika dia mengetahui tentang penangkapan anak-anaknya. Dia sakit parah dan berjuang untuk pulih dari kondisi medisnya.

Guru Matematika yang Dihormati

Zeng Yaoling berusia 40-an dan meraih gelar sarjana matematika dari Universitas Normal Lingnan. Dia adalah guru matematika untuk siswa sekolah dasar dan sekolah menengah. Murid-muridnya dan orang tua mereka menghormati dan menyukainya karena dia berperilaku berdasarkan ajaran Falun Gong, Sejati-Baik-Sabar.

Guru tetap di sekolah saat ini sering mengajar sebagian dari kurikulum dan menyimpan sebagian lagi untuk pelajaran privat sepulang sekolah sehingga mereka dapat menghasilkan uang tambahan. Ini adalah praktik umum meskipun sekolah melarangnya. Ada juga guru yang membagikan pekerjaan rumah dalam jumlah besar setiap hari dan menghukum siswa yang tidak bisa menyelesaikannya. Mereka melakukan ini untuk meningkatkan nilai ujian siswa dan meningkatkan reputasi mereka sebagai guru yang baik. Para siswa ini sering menderita tekanan mental yang luar biasa.

Sebagai guru matematika, Zeng bersimpati dengan para orang tua yang harus membiayai sekolah dan les sepulang sekolah. Dia membebankan biaya rendah untuk kelasnya dan mendedikasikan banyak upaya untuk pengajarannya. Untuk siswa yang memiliki prestasi akademik buruk, ia menawarkan kelas tambahan tanpa biaya. Dia mengawasi para siswa menyelesaikan pekerjaan rumah mereka setelah kelas dan mengunggah pekerjaan rumah yang dia tandai secara online sehingga para siswa dapat belajar di rumah. Dia bekerja berjam-jam dan sering melewatkan waktu makan dan istirahat. Banyak muridnya meningkat secara signifikan dalam sikap dan prestasi akademik mereka. Siswa sekolah dasar masih mendapat nilai terbaik setelah mereka masuk ke sekolah menengah.

Zeng adalah panutan bagi murid-muridnya. Beberapa siswa mungkin tidak meningkat secara signifikan dalam nilai mereka, tetapi mereka belajar bagaimana bersikap sopan dan hormat dari Zeng. Akibatnya, orang tua masih bersedia membayar untuk kelasnya. Orang tua sangat percaya pada potensi mengajarnya sehingga orang tua rela membiarkan Zeng mengajar fisika dan kimia sekolah menengah putranya, mata pelajaran yang harus dia pelajari saat dia mengajar. Nilai siswa terus meningkat dan ia menjadi siswa terbaik di semester kedua di sekolah menengah, meskipun siswa memiliki nilai biasa-biasa saja di semester pertama.

Putri yang Penuh Perhatian

Tinggal di daerah pedesaan, orang tua Zeng tidak memiliki tunjangan pensiun, tetapi hanya beberapa ratus yuan tunjangan kesejahteraan minimum per bulan. Saudara-saudaranya juga tidak mampu secara finansial. Dia secara rutin mengirim uang kepada orang tuanya dan mentraktir makan semua orang di keluarga saat hari ulang tahun orang tuanya.

Menantu yang Peduli

Mertua Zeng tinggal di pedesaan dan juga bergantung pada tunjangan kesejahteraan minimum bulanan. Dia tidak hanya mengirimkan mereka uang setiap bulan, dia dan suaminya membayar renovasi rumahnya untuk memastikan bahwa mereka hidup dengan nyaman. Akibatnya, pasangan muda itu tidak mampu membeli rumah untuk mereka sendiri. Kakak laki-laki suaminya menolak untuk berbagi biaya karena dia masih ada hipotek yang harus dibayar.

Suaminya meninggal karena limfoma beberapa tahun yang lalu, meninggalkan dia dan anak mereka yang berusia sembilan tahun. Sambil membesarkan anak sendirian, Zeng terus merawat mertuanya, secara finansial dan fisik. Ibu mertuanya menderita sakit kaki parah dan kesulitan bergerak. Dia tidak memiliki asuransi kesehatan jadi tidak ingin menghabiskan uang untuk pengobatannya. Putranya, yang tinggal di kota lain, meminta ibunya untuk pergi ke rumahnya dan mengasuh anaknya, namun menolak untuk merawat penyakitnya.

Percaya bahwa itu adalah tugasnya untuk merawat mertuanya, Zeng menggunakan waktu luangnya untuk membantu ibu mertuanya. Dia memanggil taksi dan membawa ibu mertuanya ke rumah sakit di kota tempat dia bekerja dan merawatnya. Dia kemudian meminta taksi membawa ibu mertuanya ke tempat ipar laki-lakinya. Dia tidak meminta kompensasi uang, dan tidak ada yang berterima kasih padanya. Meskipun demikian dia senang, mengetahui bahwa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan sebagai seorang praktisi Falun Gong.

Laporan terkait dalam bahasa Inggris:

Five Members of an Extended Family Detained for Their Faith