(Minghui.org) Pada Hari Hak Asasi Manusia, 10 Desember 2025, praktisi Falun Gong di 48 negara menyerahkan daftar pelaku terkait penganiayaan Falun Gong di Tiongkok kepada pemerintah mereka. Mereka juga meminta agar para pelaku dan anggota keluarganya dilarang memasuki negara tersebut dan aset mereka dibekukan.
Berikut adalah rincian penganiayaan yang dilakukan oleh Li Wensheng, direktur Biro Administrasi Penjara Kementerian Keamanan Publik.
Informasi Pelaku
Negara: Tiongkok
Tanggal/Tahun Lahir: Tidak Diketahui
Tempat Lahir: Tidak Diketahui
Jabatan atau Posisi
Li Wensheng mulai bekerja di Biro Urusan Hukum Kementerian Keamanan Publik pada 1996. Kemudian ia menjabat sebagai wakil direktur dan direktur Divisi Peraturan Pidana Biro Urusan Hukum. Selama bertahun-tahun, ia telah terlibat dalam legislasi keamanan publik dan bimbingan penegakan hukum.
2024 – Sekarang: Sekretaris Komite PKT dan direktur Biro Administrasi Penjara Kementerian Keamanan Publik
(Catatan: Biro Administrasi Penjara Kementerian Keamanan Publik bertanggung jawab untuk mengelola semua pusat penahanan dan rumah tahanan dalam sistem keamanan publik.)
Kejahatan Utama
Sejak PKT mulai menganiaya Falun Gong pada Juli 1999, Kementerian Keamanan Publik telah secara aktif ikut serta di dalamnya. Banyak praktisi Falun Gong yang tidak bersalah telah ditangkap dan ditahan di semua tingkatan sistem keamanan publik. Di bawah kebijakan rahasia seperti “memukuli mereka sampai mati dianggap sebagai bunuh diri” dan “membunuh tanpa ampun,” pusat-pusat penahanan di semua tingkatan telah menggunakan berbagai bentuk penyiksaan terhadap praktisi Falun Gong yang menolak untuk melepaskan keyakinan mereka. Banyak yang terluka atau menjadi cacat. Beberapa bahkan dipukuli sampai mati.
Sejak Li menjadi direktur Biro Administrasi Penjara Kementerian Keamanan Publik pada Januari 2024, setidaknya 10 praktisi Falun Gong telah dianiaya sampai mati saat ditahan, termasuk Dong Yusu, Wang Shuzhi, Zhao Jiuzhou, Zhang Fengxia, Zhou Guixiang, Wang Qingxiang, Wang Yuying, Tian Yuchun, dan Zheng Wenchao.
Mengidentifikasi Kasus Kematian
Kasus 1. Wanita 59 Tahun Meninggal dalam Tahanan, Kurang dari Dua Bulan Setelah Ditangkap
Wang Shuzhi, dari Kota Jixi, Provinsi Heilongjiang, meninggal di Pusat Penahanan Kota Jixi pada 19 Juli 2025, kurang dari dua bulan setelah penangkapan terakhirnya. Ia berusia 59 tahun.
Kematian Wang adalah akibat dari penganiayaan yang semakin intensif terhadap praktisi Falun Gong setempat oleh pemerintah Kota Jixi, Komite Urusan Politik dan Hukum, serta Kantor 610 sejak awal 2025. Mereka memilih Distrik Hengshan sebagai lokasi percontohan dan menginstruksikan penegak hukum untuk memantau secara ketat praktisi yang tinggal di distrik tersebut mulai April 2025. Polisi juga menawarkan hadiah bagi warga setempat untuk melaporkan para praktisi. Lebih dari sepuluh praktisi dilecehkan dan buku-buku Falun Gong mereka disita. Tiga praktisi ditahan dan didenda.
Wang ditangkap pada 22 Mei 2025, dan dibawa ke Pusat Penahanan Kota Jixi, yang awalnya menolak untuk menerima Wang karena kesehatannya yang buruk. Polisi menahannya di lokasi yang tidak diketahui dan berhasil membuat pusat penahanan menerimanya seminggu kemudian.
Wang melakukan mogok makan untuk memprotes penahanan sewenang-wenang dan dicekok paksa makan. Dia jatuh sakit parah dan dirawat di rumah sakit pada 13 Juli 2025. Begitu dia sedikit pulih, dia dibawa kembali ke pusat penahanan pada 17 Juli, dia meninggal di sana pada 19 Juli pukul 3 pagi.
Kasus 2. Wanita Heilongjiang Meninggal dalam Tahanan Tujuh Hari Setelah Penangkapan Terakhir
Zhang Fengxia, dari Kota Daqing, Provinsi Heilongjiang, meninggal dalam tahanan tujuh hari setelah ditangkap karena keyakinannya pada Falun Gong. Ia berusia 52 tahun.
Segera setelah Zhang dan suaminya kembali ke rumah sekitar pukul 14.00 pada 11 Agustus 2025, mereka mengalami pemadaman listrik (keluarga kemudian mengetahui bahwa itu adalah jebakan polisi). Tidak lama kemudian, seseorang menelepon suami Zhang dan mengatakan bahwa mobilnya tergores. Ketika suami Zhang membuka pintu untuk turun memeriksa mobilnya, tiga petugas mendobrak masuk dan membawa Zhang pergi. Ia dimasukkan ke Pusat Penahanan Kedua Kota Daqing pada malam harinya dan didakwa dengan “merusak penegakan hukum,” dalih standar yang digunakan untuk mengkriminalisasi praktisi Falun Gong di Tiongkok.
Tujuh hari kemudian, pukul 14.00 pada 17 Agustus, keluarga Zhang menerima telepon dari Hou, direktur pusat penahanan. Hou meminta mereka untuk segera datang ke rumah sakit, karena Zhang sedang sekarat. Dia berkata, “Sebaiknya kalian cepat datang ke ruang gawat darurat. Jika kalian terlambat, kalian mungkin tidak akan melihatnya lagi!”
Keluarga bergegas ke rumah sakit dan melihat bahwa Zhang telah dipasangi beberapa selang, dan dia mengenakan masker oksigen. Dokter mengatakan dia mengalami pecah aneurisma serebral, dan dia telah kehilangan lebih dari 200 cc darah. Dia mengatakan mereka tidak dapat melakukan kraniotomi atau hal lain untuk menyelamatkannya. Keluarga setuju untuk membawanya ke unit perawatan intensif dan memasangkannya ventilator. Dia dinyatakan meninggal tak lama kemudian.
Kasus 3. Wanita Guizhou Berusia 77 Tahun Meninggal dalam Tahanan, Jenazahnya Dikremasi Tanpa Persetujuan Keluarga
Zhou Guixiang, seorang warga Kota Guiyang, Provinsi Guizhou, berusia 77 tahun, menjadi kurus kering dan ditemukan memiliki tumor di hati dan ususnya, saat ditahan di Pusat Penahanan Wanita Kota Guiyang. Permohonan pembebasannya masih tertunda ketika ia meninggal pada 23 Oktober 2024. Jenazahnya telah dikremasi tanpa persetujuan keluarga pada saat mereka tiba di pusat penahanan setelah diberitahu bahwa ia telah meninggal.
Mengidentifikasi Kasus Penyiksaan
Kasus 1: Wanita Dipukuli dan Dihina karena Tidak Meninggalkan Falun Gong
Sun Chan, dari Kabupaten Susong, Provinsi Anhui, yang tinggal di Kota Haikou, Provinsi Hainan, ditangkap pada 26 Maret 2025, karena menyebarkan brosur Falun Gong di lingkungannya. Malam itu, para penjaga di penjara setempat mengikatnya di tempat tidur dan tidak melepaskan ikatan tersebut selama tiga hari. Setelah dua hari tambahan, direktur Li Yubo dan enam petugas dari Kantor Keamanan Dalam Negeri Kota Haikou datang dan mencoba memaksanya untuk meninggalkan Falun Gong. Ketika dia tidak patuh, mereka memukuli dan menghinanya. Dia melakukan mogok makan untuk memprotes penganiayaan tersebut. Setelah ditahan selama 15 hari, dia dibebaskan dan dibawa kembali ke Susong.
Kasus 2: Disiksa dan Dipaksa Makan dalam Tahanan, Pria Heilongjiang Dijatuhi Hukuman Enam Tahun
Feng Guoqing, sekitar 59 tahun, dari Kota Yichun, Provinsi Heilongjiang, ditangkap pada 4 Desember 2024, dan rumahnya berulang kali digeledah. Lebih dari 200.000 yuan uang tunai disita selama penggeledahan. Beberapa uang kertas tersebut bertuliskan pesan tentang penganiayaan Falun Gong yang tercetak di atasnya sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran meskipun ada sensor ketat di Tiongkok.
Karena ia menolak menjawab pertanyaan apa pun selama interogasi dan melakukan mogok makan selama lebih dari 40 hari, polisi melepaskan pakaiannya, dan mengikat dia di tempat tidur dengan posisi kaki terentang. Kemudian mereka memaksanya makan. Ia tidak punya pilihan selain buang air besar di tempat tidur. Dia kemudian mengalami gagal ginjal sebagai akibat dari penyiksaan tersebut.
Rekonstruksi penyiksaan: Diikat dalam posisi terentang
Feng dijatuhi hukuman enam tahun dan denda 10.000 yuan oleh Pengadilan Kabupaten Nancha pada 5 Juli 2025. Uang kertas yang dicetak dengan pesan Falun Gong yang disita darinya dirampas.
Kasus 3: Wanita Liaoning Disiksa Hingga Mengalami Kondisi Serius di Pusat Penahanan
Chen Yan, 44 tahun, dari Kota Benxi, Provinsi Liaoning, ditangkap pada 14 Juli 2024, karena menyebarkan informasi tentang Falun Gong. Ketika pengacaranya mengunjungi dia di Pusat Penahanan Kota Benxi pada 30 Oktober 2024, ia mengetahui bahwa ia dipukuli tiga kali pada 5 Agustus oleh empat narapidana yang diperintahkan oleh penjaga untuk menyiksanya.
Pengacara memperhatikan bahwa Chen tampak lesu, lambat merespons, dan tampak lemah. Ia kembali keesokan harinya untuk pertemuan lain dan terkejut karena Chen tidak ingat pertemuan mereka sehari sebelumnya. Ia mengeluh jantung berdebar-debar dan terdapat darah dalam dahaknya.
Ketika pengadilan setempat kemudian menjadwalkan sidang kasusnya, Chen menolak untuk hadir, karena ia memprotes penjaga yang terus-menerus mendorong para tahanan untuk memukuli dan melarangnya mengajukan banding guna mengakhiri penyiksaan tersebut.
Kasus 4: Ditangkap dalam Operasi Penyisiran Polisi, Dua Wanita Hebei Digeledah Setiap Hari
Li Li dan Shi Rui, dari Kota Cangzhou, Provinsi Hebei, keduanya ditangkap pada 17 April 2024, dan dibawa ke Pusat Penahanan Kota Cangzhou pada hari yang sama. Setelah masuk ke pusat penahanan, Li diperintahkan untuk melepas pakaiannya untuk digeledah. Ketika ia menolak untuk mematuhi, para penjaga memerintahkan beberapa tahanan untuk menelanjanginya. Proses yang sama terjadi lagi pada malam harinya.
Li melakukan mogok makan untuk memprotes penggeledahan dua kali sehari dan ia menjadi kurus kering setelah sekitar dua minggu. Baru kemudian para penjaga menghentikan penggeledahan tubuh yang memalukan tersebut.
Menurut sumber internal, praktisi Falun Gong dan yang bukan praktisi sama-sama digeledah secara telanjang di pusat penahanan, yang terjadi saat Li dan Shi dibawa ke sana.
Kebijakan baru itu juga mengharuskan para tahanan untuk difilmkan dalam keadaan telanjang sebelum mereka dibebaskan atau dipindahkan ke fasilitas lain. Mereka dipaksa untuk menghadap kamera dan menjawab pertanyaan seperti: “Apakah Anda diberi cukup makanan?” dan “Apakah Anda pernah dipukuli di sini?” Mereka yang tidak menjawab pertanyaan dengan “benar” tidak dibebaskan sesuai jadwal.
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org
