(Minghui.org) Guru berkata, “Ketika sulit bersabar anda mampu bersabar. Ketika sulit dilakukan anda harus mampu melakukan.” (Ceramah 9, Zhuan Falun)
Pemahaman saya tentang ajaran ini adalah bahwa kita harus selalu ingat bahwa kita adalah praktisi—apa pun yang kita hadapi—dan dengan teguh mengikuti Fa. Kemudian kita dapat mengatasi tantangan apa pun dan akhirnya menemukan jalan keluar dari situasi yang tampaknya mustahil.
Suatu malam, saat saya sedang belajar Fa, tiba-tiba saya merasa panik tanpa sebab. Kemudian, penglihatan saya menjadi kabur dan saya kesulitan membaca.
Biasanya saya tidak belajar Fa di malam hari karena penglihatan saya cenderung buruk di siang hari berikutnya, dan saya akan berakhir dengan sakit kepala atau dada sesak. Sudah seperti ini selama bertahun-tahun. Tetapi pada malam itu, saya menyadari bahwa persepsi saya telah menghalangi untuk belajar Fa di malam hari.
Saya ingat Guru pernah berkata:
“Anda duduk di sana dengan nyaman, sambil minum teh, nonton TV sudah dapat berkultivasi naik ke atas, ingin mencapai seberapa tinggi akan tercapai seberapa tinggi, ini mutlak tidak mungkin.” (Ceramah Fa di Sydney)
Saya selalu mempunyai keterikatan takut akan ketidaknyamanan. Begitu saya merasa tidak nyaman, saya akan panik. Kemudian, dari pada belajar Fa, saya malah meminta bantuan rekan-rekan praktisi. Saya tidak mampu mengatasi rasa takut akan ketidaknyamanan ini selama bertahun-tahun. Meskipun saya menyadarinya malam itu, saya tidak yakin bisa mengatasinya sendiri. Meskipun demikian, saya merasa tidak berdaya, saya tidak mau menerima kekalahan. Saya memutuskan untuk mencoba mengatasi keterikatan ini.
Saya mengingatkan diri sendiri bahwa ketidaknyamanan adalah hal yang baik—itu adalah ujian yang diatur oleh Guru untuk saya. Saya memutuskan untuk tidak mengesampingkan. Betapa pun tidak nyamannya perasaan saya atau betapa sulitnya menanggungnya, saya tidak akan menyerah. Saya terus belajar Fa meskipun penglihatan kabur. Namun, kepanikan dan ketidaknyamanan saya tidak hilang, dan mulai ragu apakah saya mampu mengatasi situasi ini. Sementara itu, keinginan untuk merasa lega juga muncul. Namun, berkata pada diri sendiri bahwa saya harus tenang dulu—apa pun yang terjadi.
Kemudian kata-kata Guru kembali terlintas di benak, jadi saya terus bertahan. Pikiran saya perlahan-lahan menjadi tenang. Saya terus belajar Fa, bersabar dan teguh. Setelah beberapa saat, saya perlahan-lahan memahami bahwa apa yang saya lakukan adalah kultivasi sejati. Kesadaran utama saya terkendali, dan kemauan semakin kuat. Saya melanjutkan selama sekitar dua jam, hingga saya selesai belajar dua ceramah Fa.
Ini adalah pertama kalinya saya tidak menyerah, pertama kalinya saya mampu bertahan dengan mengandalkan keyakinan teguh pada Guru dan Fa. Saya menyadari bahwa berkultivasi seperti ini dapat diterapkan pada setiap penderitaan.
Keesokan harinya, saya kembali kesulitan belajar Fa. Keteguhan hati saya dari hari sebelumnya telah lenyap sepenuhnya. Seolah-olah itu terjadi berabad-abad yang lalu. Saya merasa putus asa dan tak berdaya. Meskipun saya sadar harus seteguh hari sebelumnya, saat saya mengambil buku, saya diliputi kepanikan, terjerumus kembali ke keadaan gelisah yang sama seperti sebelumnya.
Sekali lagi, saya mengingatkan diri akan kata-kata Guru: “Ketika sulit bersabar anda mampu bersabar. Ketika sulit dilakukan anda harus mampu melakukan.” (Ceramah 9, Zhuan Falun)
Namun, tidak seperti hari sebelumnya, saya merasa tidak mampu melakukannya. Pada saat itu, saya menyadari keterikatan saya yang mudah jatuh ke dalam keadaan tak berdaya dan putus asa, dan teringat akan ajaran Guru:
“Sesungguhnya segala yang tidak sesuai dengan Dafa dan Zheng Nian pengikut Dafa, semuanya juga disebabkan oleh keterlibatan kekuatan lama, termasuk segala unsur yang tidak lurus dari diri sendiri,” (Pergolakan yang Ditimbulkan oleh Sebuah Artikel tentang Fu Yuanshen)
Saya mulai menolak pikiran-pikiran yang menyedihkan itu—pikiran-pikiran itu bukan berasal dari saya. Saat saya terus belajar ajaran untuk beberapa waktu, pikiran-pikiran itu secara bertahap melemah dan akhirnya lenyap. Ini juga merupakan proses penguatan tekad dan melenyapkan keterikatan manusia.
Pada pagi hari ketiga, saya memutuskan untuk melanjutkan belajar Fa. Awalnya saya merasa sedikit panik, dan penglihatan saya sedikit kabur, tetapi saya tetap teguh, bertekad untuk bersabar. Inilah proses kultivasi itu sendiri. Bahkan jika saya harus memulai lagi, seperti yang saya lakukan dua hari sebelumnya, saya tetap bisa melewatinya! Kepanikan saya lenyap, dan saya hanya bersabar dan gigih. Seiring tekad semakin kuat, saya memahami dengan jelas telah berhasil melewatinya. Akhirnya, saya merasakan telah gigih dan menemukan cahaya di ujung terowongan!
Kemudian saya mulai secara konsisten menerapkan apa yang dikatakan Guru: “Ketika sulit bersabar anda mampu bersabar. Ketika sulit dilakukan anda harus mampu melakukan.” (Ceramah 9, Zhuan Falun)
Perlahan-lahan saya menyadari dengan pasti bahwa, apa pun ujian atau kesulitan yang muncul, seseorang tidak boleh takut tetapi harus tetap teguh pada Fa. Semua rintangan dapat diatasi dan kemenangan akan selalu menyertainya. Proses membangun keyakinan yang teguh sungguh berharga. Setiap ujian yang dilewati memperkuat keyakinan seseorang dan menandai langkah maju di jalur kultivasi.
Di atas adalah uraian singkat tentang latihan pribadi saya dalam menerapkan kata-kata Guru: “Ketika sulit bersabar anda mampu bersabar. Ketika sulit dilakukan anda harus mampu melakukan.” (Ceramah 9, Zhuan Falun)
Mohon tunjukkan yang tidak sesuai dengan Fa.
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org