(Minghui.org) Salam, Guru! Salam, rekan-rekan praktisi!
Sehubungan dengan penyelenggaraan Fahui Tiongkok ke-23 di Minghui, saya ingin berbagi pengalaman kultivasi saya selama setahun terakhir. Mohon tunjukkan jika ada hal yang tidak selaras dengan Fa.
Menghilangkan Mentalitas Rasa Takut Saat Pertama Kali Mengklarifikasi Fakta
Praktisi Ailing, Baihe, dan saya pergi bersama ke sebuah pasar untuk mengklarifikasi fakta. Di sebuah kios yang terletak tidak jauh dari pintu masuk pasar, mereka mulai mengklarifikasi fakta kepada seorang pedagang. Sebelumnya, pedagang tersebut menolak untuk mundur dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan organisasi afiliasinya. Saya berdiri di dekat situ untuk mendengarkan.
Seorang praktisi lain mengatakan bahwa ia harus segera pergi bekerja dan meminta saya untuk mencatat nama seseorang yang bersedia mundur dari PKT. Saya setuju, dan tepat setelah saya mencatat nama tersebut, praktisi Baihe juga berhasil meyakinkan seorang pelanggan untuk mundur dan meminta saya mencatat namanya. Saat sedang mencatat nama itu, melalui sudut mata, saya menyadari ada seseorang yang memperhatikan saya.
Saya mendongak dan melihat seorang pria berusia sekitar 40 tahun dengan penampilan yang cukup mengintimidasi. Ia berusaha keras untuk melihat buku catatan kecil saya. Saya segera memasukkan kertas dan pena ke dalam tas. Pria itu terus menatap saya tanpa berkedip, lalu beralih menatap tas saya.
Saya berkata kepada Baihe, "Ayo kita pergi melihat-lihat di tempat lain." Kami mengamati perilaku pria tersebut yang tidak wajar dan merasa bahwa ia mungkin seorang petugas polisi yang menyamar. Belakangan, seorang praktisi lain mengonfirmasi bahwa dugaan kami benar. Kami berjalan perlahan, namun ia terus mengikuti dengan jarak sekitar dua hingga tiga meter.
Saya berpikir, "Dia tidak mungkin bisa mengawasi kami semua; saya akan memancingnya pergi." (Belakangan saya sadar bahwa saya lupa kalau saya adalah seorang pengikut Dafa yang bisa menggunakan kemampuan supranatural untuk membuatnya terpaku di tempat atau membuatnya pergi menjauh.) Saat saya berjalan cepat ke depan, benar saja, ia terus mengikuti dengan dekat. Saya sampai di sebuah tikungan, lalu tiba-tiba berjongkok di depan sebuah kios untuk membeli sayuran. Di sela-sela kerumunan orang yang sibuk, saya melihat dia sedang mencari-cari saya.
Namun, saya tidak bisa terus berjongkok di sana, jadi saya segera bangkit, berbelok ke jalan lain, dan menyelinap di antara orang-orang yang sedang membeli buah. Setelah membeli buah, saya berbalik dan mendapati dia sudah berdiri tepat di belakang saya. Saya berjalan perlahan ke arahnya karena dia menghalangi jalan saya. Dia berjalan mundur sambil menjaga jarak kurang dari dua meter dari saya, terus menatap tajam ke arah saya.
Ini adalah pertama kalinya saya keluar untuk mengklarifikasi fakta kebenaran, dan saya langsung menghadapi situasi seperti ini bahkan sebelum sempat berbicara. Saya merasa bingung, dan pikiran saya benar-benar kosong. Meski begitu, saya terus melafalkan kata kunci untuk memancarkan pikiran lurus yang diajarkan oleh Guru kepada kami.
Saat saya terus berjalan, ajaran Guru tiba-tiba terlintas di benak saya: "...hadapilah orang-orang jahat dengan pikiran lurus setiap saat..." yang dikutip dari artikel "Pikiran Lurus Pengikut Dafa Memiliki Keampuhan" (Petunjuk Penting untuk Gigih Maju II). Saya pun segera berhenti, menegakkan kepala, dan menghadapinya dengan sikap yang agung dan bermartabat. Dia juga berhenti, dengan jarak kurang dari dua meter. Dia terus mengamati saya dari ujung kepala sampai ujung kaki, terutama tas yang saya bawa. Kami pun terus saling menatap.
Setelah kurang dari satu menit, dia tiba-tiba berbalik dan mulai menjauh (seolah-olah dia terkejut). Saya tetap diam di tempat dan terus menatapnya. Setiap beberapa langkah, dia menoleh ke belakang. Saat jaraknya sekitar 20 meter, dia tampak hendak berlari, lalu dengan cepat berbelok ke jalan lain dan menghilang. Pada saat itu, seorang praktisi bernama Ailing menemukan saya dan melihat saya berdiri mematung. Dia mengira sesuatu telah terjadi pada saya, lalu melambaikan tangannya di depan wajah saya. Saya pun tersadar, namun tiba-tiba muncul rasa takut; jantung saya berdegup kencang, dan saya berusaha keras untuk menenangkan diri.
Guru berkata,
“… Perihal mengklarifikasi fakta untuk menyelamatkan makhluk hidup, kekuatan lama tidak berani menentangnya, kuncinya adalah kondisi pikiran kita ketika melakukan pekerjaan jangan sampai disusupi mereka dari celah kekosongan.” (“Ceramah Fa pada Konferensi Fa Boston Tahun 2002”, Ceramah Fa di Berbagai Tempat - II)
Saya mencari ke dalam diri untuk menemukan akar dari gangguan jahat tersebut. Pertama adalah mentalitas takut dalam diri saya: takut tertinggal jika tidak keluar untuk mengklarifikasi fakta; takut dilaporkan dan dianiaya jika keluar untuk mengklarifikasi fakta; takut tidak tahu cara berbicara dengan orang lain atau orang lain tidak mau menerima; serta takut kehilangan muka jika tidak berhasil meyakinkan orang untuk mundur (dari Partai Komunis Tiongkok dan organisasi afiliasinya). Bagaimana mungkin saya bisa menjalankan tugas mulia menyelamatkan makhluk hidup dengan begitu banyak pikiran egois dan menyimpang?
Saya terus mengingat kembali kejadian-kejadian di pasar dan memancarkan pikiran lurus untuk melenyapkan rasa takut yang menghambat upaya saya dalam mengklarifikasi fakta. Tiba-tiba saya menyadari bahwa ini adalah petunjuk dari Guru bahwa kejahatan itu sebenarnya bukan apa-apa, dan pikiran lurus seorang pengikut Dafa mampu membuat orang-orang yang dimanfaatkan oleh kejahatan menjadi takut dan pergi.
Guru telah menjelaskannya dengan sangat jelas di dalam Fa. Selain itu, para pengikut memiliki Guru yang penuh belas kasih dan berhati mulia di sisi mereka, jadi apa yang perlu ditakuti? Saya merasa telah memperoleh pikiran lurus yang sejati dan yakin bahwa saya mampu mengklarifikasi fakta serta menyelamatkan makhluk hidup dengan cara yang lurus dan bermartabat.
Meningkatkan Xinxing Saat Mengklarifikasi Fakta Tatap Muka
Saat pertama kali mulai mengklarifikasi fakta, saya cenderung memilih untuk berbicara dengan orang-orang yang tampak baik hati atau berusia lebih tua. Meskipun tahu seharusnya tidak pilih-pilih dalam menyelamatkan orang, saya tetap sulit melepaskan kebiasaan itu. Belakangan saya menyadari bahwa apa yang saya sampaikan kepada orang lain sebenarnya mirip dengan apa yang disampaikan oleh praktisi lain, namun mereka bisa dengan mudah meyakinkan orang untuk dengan senang hati mundur dari organisasi-organisasi PKT (Partai Komunis Tiongkok). Sebaliknya, bagi saya, bahkan orang yang tampak baik hati pun sepertinya enggan mendengarkan. Akibatnya, saya tidak berhasil meyakinkan mereka untuk mundur.
Saya mencari ke dalam diri dan menemukan bahwa meskipun saya mengucapkan kata-kata yang sama dengan praktisi lain, saya tidak memiliki ketenangan atau keleluasaan seperti yang mereka miliki. Saya menyadari bahwa di dalam diri saya masih terdapat rasa takut untuk melindungi diri sendiri, kekhawatiran, sifat kompetitif, serta keterikatan pada citra diri. Saya memancarkan pikiran lurus untuk melenyapkan keterikatan-keterikatan manusiawi yang menghambat penyelamatan makhluk hidup ini. Setiap kali mengklarifikasi fakta, saya terus-menerus memperbaiki diri. Akhirnya, saya pun mampu meyakinkan orang untuk mundur dari organisasi PKT dengan mudah.
Suatu kali di pasar, saya melihat seorang pria berusia sekitar 60-an sedang berdiri di bawah payung di sebuah kios sambil menyeka keringatnya. Saya menghampirinya dan berkata sambil tersenyum, “Bolehkah saya ikut berteduh di sini?” Ia menjawab dengan senyum, “Wah! Panas sekali. Di ponsel tertulis suhu yang dirasakan mencapai 37ºC.” Saya menimpali, “Benar sekali!” Melihat alisnya yang panjang, saya bertanya, “Apakah Anda seorang praktisi Tao?
Anda tampak memiliki pembawaan seperti seorang yang abadi.” Ia menyentuh alisnya lalu tersenyum, “Banyak orang bilang penampilan saya istimewa, tapi saya tidak berkultivasi dalam aliran Buddha maupun Tao.” Saya bertanya, “Oh ya? Saya kira Anda berkultivasi dalam aliran Tao.” Ia pun tertawa dengan riang.
Saya berkata, “Saya sendiri meyakini aliran Buddha.” Ia menjawab, “Saat melihat Anda, saya langsung tahu bahwa anda adalah orang yang sangat baik hati.” Saya berkata, “Dalam ajaran Buddha, kita mengenal konsep jodoh atau hubungan yang telah ditakdirkan; pertemuan kita ini pun merupakan bagian dari takdir tersebut. Izinkan saya menyampaikan sesuatu yang baik kepada anda—Anda bisa mendengar hal ini karena anda adalah orang yang diberkati.” Dia bertanya, “Hal baik apa itu?” Saya menjawab, “Ingatlah kalimat ini: ‘Falun Dafa hao, Zhen-Shan-Ren hao’ (‘Falun Dafa baik, Sejati-Baik-Sabar baik’). Melafalkan kedua kalimat ini dengan tulus dapat menjaga keselamatan anda.” Dia tersenyum kepada saya.
Saya melanjutkan, “Falun Gong tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh PKT (Partai Komunis Tiongkok) di televisi. Falun Gong adalah sebuah latihan spiritual tingkat tinggi yang mengajarkan orang untuk menjadi pribadi yang baik berdasarkan prinsip Sejati-Baik-Sabar. Jiang Zemin [mantan pemimpin PKT] adalah sosok yang menganiaya orang-orang baik karena rasa iri hati. Anda tahu bahwa penganut ajaran Buddha tidak diperbolehkan membunuh makhluk hidup; jadi, bagaimana mungkin mereka melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain? Padahal, Jiang Zemin telah menipu dan menyesatkan seluruh rakyat melalui rekayasa insiden bakar diri di Lapangan Tiananmen. Katakanlah, apakah salah menjadi orang baik?”
Dia terus mengangguk dan berkata, “Benar, Falun Gong mengajarkan orang untuk menjadi baik, jadi tidak mungkin itu salah. Partai Komunis memang gemar melancarkan berbagai gerakan (untuk menganiaya orang-orang baik). Sejak kecil, orang tua saya selalu mendidik kami untuk menjadi orang baik dan bersikap ramah kepada sesama.”
Saya bertanya, “Apakah Anda dulu mengenakan syal merah saat duduk di bangku sekolah dasar?” Dia menjawab, “Bahkan saya pernah bergabung dengan Liga Pemuda.” Saya berkata, “PKT berakar pada pemikiran Marx dan mengajarkan ateisme. Kita adalah keturunan bangsa Tiongkok, bukan keturunan Marx ataupun Lenin. Sebaiknya mundurlah dari Liga Pemuda maupun Pionir Muda. Dewa melihat isi hati seseorang; baik menggunakan nama asli, nama panggilan, maupun nama samaran, semuanya bisa. Sebagai warga biasa, kita sepatutnya menghormati dan memercayai dewa, menjadi orang baik, serta memohon belas kasih dan perlindungan dari-Nya. Bukankah begitu?” Dia terus mengangguk dan berkata, “Ya.”
Dia kemudian berkata, “Semua yang anda katakan benar. Menurut saya, kalian sungguh luar biasa. Kalian berani menyuarakan kebenaran dan mengajak orang lain untuk menjadi pribadi yang baik.” “Saya bisa melihat bahwa anda semua adalah orang-orang baik. Manusia seharusnya berbuat baik dan memohon belas kasih dari dewa. Partai Komunis sudah tamat. Saya menggunakan nama asli saya.” Saya berkata, “Anda benar-benar berpikiran jernih. Jangan lupa dua kalimat yang saya sampaikan kepada anda.” Dia menjawab, “Falun Dafa baik, Sejati-Baik-Sabar baik.” Kami kemudian berpamitan dengan senyuman.
Suatu hari di pasar pagi, saya berjalan menuju sebuah kios buah persik untuk membeli beberapa buah. Saat sedang memasukkan buah persik ke dalam kantong, saya bertanya kepada pedagangnya, “Apakah Anda pernah mendengar tentang gerakan mengundurkan diri yang bisa menjaga keselamatan seseorang?” Dia menjawab, “Ada seseorang yang pernah memberi tahu saya tentang hal itu.” Saya bertanya lagi, “Apakah anda sudah mengundurkan diri?” Dia menjawab, “Saya tidak pernah bergabung dengan apa pun. Dari apa saya harus mengundurkan diri?” Saya berkata, “Usia kita mungkin sebaya. Bagaimana mungkin anda bahkan tidak pernah mengenakan syal merah?” Saya bisa merasakan bahwa dia berusaha menghindari topik tersebut.
Saya yakin dia takut mendengarkan kebenaran, sehingga dia mengaku tidak bergabung dengan apa pun agar orang yang berbicara dengannya sebelumnya tidak terus membujuknya untuk mengundurkan diri. Saya berkata, “Kita semua tahu—ada dewa yang mengawasi tepat di atas kepala kita.” Dia menjawab, “Setuju.” Saya pun melanjutkan, “Kita mungkin bisa menipu sesama manusia, tetapi tidak bisa menipu dewa. Bergabung dengan organisasi mana pun di bawah naungan PKT (Partai Komunis Tiongkok) mengharuskan seseorang untuk mengucapkan sumpah.
Dewa menyaksikan sumpah tersebut. PKT mengusung ateisme. Jika orang tidak lagi percaya keberadaan dewa, mereka akan berani melakukan apa saja. Lihatlah berbagai bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia yang terjadi. Bukankah orang-orang tua sering berkata, ‘Langit sedang memanggil orang-orang untuk kembali?’ Itu karena moral manusia sudah merosot. Sebagai warga biasa, kita harus percaya pada dewa. Mengundurkan diri dari PKT yang ateis di dalam hati Anda sama sekali tidak akan merugikan Anda. Bukankah baik jika kita berusaha menjadi orang yang berbudi luhur dan memohon perlindungan dari dewa?” Sikapnya melunak, lalu dia berkata, “Benar sekali!”
Setelah membayar, saya bertanya, “Apakah anda dulu pernah mengenakan syal merah?” Dia mengangguk sambil tersenyum. Saya sempat menanyakan nama keluarganya, tetapi dia kemudian sibuk melayani pelanggan lain. Saya pun beralih ke kios-kios lain untuk membeli sayuran, sembari mengajak beberapa orang lainnya untuk mengundurkan diri. Setelah suasana di kios buah persik itu kembali lengang, saya pun kembali ke sana.
Saya berkata, “Tadi pembicaraan kita belum selesai. Saya pergi karena tidak ingin mengganggu kegiatan dagang anda. Saya adalah praktisi Falun Gong dan berusaha menjadi orang baik dengan berpedoman pada prinsip Sejati, Baik, dan Sabar. Falun Gong tidak seperti apa yang digambarkan oleh PKT di televisi.” Kemudian saya menceritakan kepadanya apa itu Falun Gong dan bagaimana ajaran ini telah menyebar ke seluruh dunia. Saya menjelaskan tentang insiden bakar diri yang direkayasa oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dia terus mendengarkan dengan tenang.
Lalu saya berkata, “Mari mundur dari organisasi Pionir Muda dengan menggunakan nama samaran. Mari kita lepaskan diri dari ateisme, menjadi orang baik berdasarkan prinsip Sejati-Baik-Sabar, serta memohon perlindungan kepada dewa. Bagaimana menurut anda?” Dia menjawab, “Tentu.” Saya berkata, “Jika nanti ada yang bertanya lagi, Anda cukup katakan bahwa anda sudah mundur, jadi tidak perlu mundur lagi.” Dia menatap saya sambil tersenyum tanpa memberikan jawaban. Saya pikir penjelasan saya kurang jelas, jadi saya mengulanginya. Dengan ekspresi malu-malu, dia berkata, “Saya juga seorang anggota Partai.”
Saya pun berkata, “Saya ikut senang karena anda berani mengungkapkan kebenaran.” Saya mengacungkan jempol dan berkata, “Kalau begitu, mari kita mundur dari semua organisasi PKT agar Anda menjadi keturunan Tionghoa yang bersih dari kejahatan. Semoga anda senantiasa aman dan sehat!” Dia terus mengucap, “Terima kasih! Terima kasih!” Saya menjawab, “Jangan berterima kasih kepada saya. Berterima kasihlah kepada Guru. Gurulah yang meminta kami untuk menyelamatkan orang-orang.” Dia terus mengangguk. Saya berpesan, “Falun Dafa hao, Zhen-Shan-Ren hao. Sering-seringlah melafalkannya, niscaya Anda akan diberkati!” Dia menjawab, “Saya akan mengingatnya.”
Saya mendapati bahwa saat mengklarifikasi fakta, hasilnya akan jauh lebih baik jika pikiran saya murni dan bersih, tanpa kekhawatiran atau pikiran yang melantur. Pernah suatu kali, saya melihat seorang wanita bertubuh besar sedang menyeka keringat di tempat yang teduh. Punggungnya basah kuyup oleh keringat. Saya menghampirinya dan berkata, “Panas sekali, ya.” Dia menjawab, “Iya, saya memang mudah sekali berkeringat. Berat badan saya juga berlebihan.” Saya berkata, “Wah, berarti hati anda lapang dan hidup anda bahagia tanpa beban. Anda pasti orang yang berpikiran terbuka dan santai.”
Dia tertawa dan berkata, “Benar, memang seperti itulah kepribadian saya.” Saya berkata, “Kalau begitu, saya juga akan berterus terang dan menyampaikan sesuatu yang baik kepada Anda. Mohon ingat dua kalimat ini: ‘Falun Dafa baik, Sejati-Baik-Sabar baik.’ Jadilah orang baik agar anda senantiasa aman.” Dia menjawab, “Tentu!” Saya menjelaskan, “Falun Gong adalah sebuah latihan spiritual yang mengajarkan orang untuk menjadi baik berdasarkan prinsip ‘Sejati-Baik-Sabar.’ PKT (Partai Komunis Tiongkok) bersifat ateis dan menganiaya orang-orang baik yang menjalankan latihan ini. Kita tidak boleh mendengarkan perkataan mereka.” Dia menanggapi, “Benar sekali.”
Saya bertanya kepadanya, “Apakah anda sudah bergabung dengan Partai, Liga Pemuda, atau Pionir Muda?” Dia menjawab, “Liga Pemuda.” Saya bertanya, “Apakah ada yang pernah memberi tahu anda tentang pengunduran diri dari organisasi-organisasi tersebut?” Dia menjawab, “Tidak.” Saya bertanya, “Siapa nama keluarga Anda?” Dia menjawab, “Qi.” Saya berkata, “Bagaimana jika anda mengundurkan diri dari Liga Pemuda dan Pionir Muda dengan menggunakan nama samaran ‘Qi Hele’ [yang berarti harmoni dan sukacita]?” Dia setuju tanpa ragu-ragu.
Seorang pemuda penjual ubi jalar selalu memasang ekspresi wajah yang galak dan serius. Seorang praktisi sudah beberapa kali mencoba mengklarifikasi fakta kepadanya, namun dia menolak untuk mendengarkan atau justru dengan lantang memintanya untuk pergi. Suatu hari, saat saya berjalan di dekat sana, ada sepasang suami istri lanjut usia yang sedang membeli ubi jalar darinya. Saya mendekat untuk mengklarifikasi fakta kepada pasangan tersebut. Namun, setelah mulai berbicara, saya menyadari bahwa mereka berasal dari daerah lain, sehingga komunikasi menjadi sulit. Saya tidak berhasil menyampaikan fakta kebenaran, dan mereka pun pergi setelah membeli ubi jalar.
Saya menatap pemuda penjual ubi jalar itu dan bertanya, “Apakah ubi jalar jenis ini bisa dipanggang?” Dia menjawab, “Jangan beli jenis ini untuk dipanggang, karena terlalu banyak mengandung pati. Sebaiknya beli jenis yang itu (sambil menunjuk ke arah dagangan penjual lain).” Saya berkata, “Anak muda, Anda sungguh orang yang baik dan jujur. Biasanya orang akan memuji dagangannya sendiri, tetapi anda justru menyarankan saya untuk tidak membeli milik anda. Karena kejujuran anda, saya akan tetap membelinya, terlepas dari apakah rasanya enak atau tidak.” Wajahnya yang serius kini sedikit tersenyum.
Saat dia sedang menimbang ubi jalar tersebut, saya berkata, “Izinkan saya menyampaikan beberapa kata yang tulus dan jujur: Falun Gong adalah sebuah latihan yang mengajarkan orang untuk menjadi baik berdasarkan prinsip ‘Sejati-Baik-Sabar’. Mohon ingatlah dua kalimat ini. Menjadi orang baik dapat membantu Anda terhindar dari bencana dan tetap aman.” Wajahnya kembali tampak muram, namun dia tidak marah. Saya menatapnya dan berkata dengan tulus, dengan hati yang penuh belas kasih, “Pertemuan kita ini adalah suatu kebetulan. Saya tidak berniat mengubah apa pun dari diri anda. Anda boleh percaya atau tidak dengan apa yang saya katakan. Saya hanya berharap, jika kelak benar-benar terjadi bencana, anda bisa mengingat dua kalimat yang saya sampaikan tadi. Mungkin itu bisa mengubah nasib buruk menjadi keberuntungan. Saya sungguh berharap Anda senantiasa selamat.” Wajahnya sedikit lebih rileks, lalu ia menjawab pelan, “Baiklah.”
Saat ia memberikan uang kembalian, saya melihat namanya pada kode QR pembayaran. Setelah menyebut namanya, saya berkata, “Keluarlah dari organisasi ‘Pionir Muda yang anda ikuti semasa sekolah dulu. Kita sebaiknya tidak tetap berada dalam kelompok ateis. Kita perlu memohon perlindungan kepada dewa. Dewa mengetahui isi hati kita; selama kita menyetujuinya di dalam hati, itu sudah cukup. Saya benar-benar berharap anda selamat.” Ia tersenyum tipis—seolah terpaksa—lalu mengangguk dan berkata, “Terima kasih.” Saya sempat melangkah pergi sejauh dua langkah, lalu menoleh dan bertanya, “Apakah Anda dulu bergabung dengan ‘Liga Pemuda?” Ia menjawab, “Tidak.” Saya tersenyum dan berkata, “Tebakan saya benar.” Kali ini, ia tersenyum dengan tulus.
Menyerahkan Nama-Nama Mereka yang Bersedia Mundur dari PKT
Mengklarifikasi fakta secara tatap muka berarti berinteraksi dengan berbagai macam orang. Xinxing saya ditempa setiap hari. Pada malam hari, saat saya menyusun daftar nama orang-orang yang bersedia mundur dan mengirimkannya ke situs web, itu menjadi kesempatan yang sangat baik untuk mencari ke dalam diri. Sembari menatap nama setiap orang, saya teringat kembali pada interaksi yang terjadi dengan mereka.
Bagi mereka yang memahami fakta dan dengan sukarela mundur dari PKT, saya mengingatkan diri sendiri agar tidak timbul rasa bangga yang berlebihan, karena segala sesuatu sesungguhnya dilakukan oleh Guru. Bagi mereka yang takut untuk mendengarkan, saya memeriksa ke dalam diri apakah saya sendiri masih memiliki rasa takut. Bagi mereka yang masih ingin mengikuti PKT, saya mengevaluasi apakah pemahaman saya mengenai PKT sudah cukup jelas.
Bagi mereka yang tidak percaya pada keberadaan dewa, saya memeriksa apakah masih ada konsep-konsep modern atau pemikiran yang berakar pada budaya komunis dalam diri saya yang belum saya sadari. Bagi mereka yang melontarkan makian, merekam, atau bahkan menelepon untuk melaporkan saya, saya merasa mereka adalah orang-orang yang paling patut dikasihani, dan dalam hati saya berharap semoga mereka segera sadar. Setiap kali saya berhasil mengirimkan daftar nama pengunduran diri, saya mengucapkan terima kasih kepada Guru atas penyelamatan penuh belas kasih-Nya yang diberikan kepada makhluk hidup yang telah diselamatkan!
Terima kasih, Guru yang agung dan penuh belas kasih!
(Artikel terpilih untuk Fahui Tiongkok ke-23 di Minghui.org)
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org