(Minghui.org) Sudah lama saya merasa takut untuk mengklarifikasi fakta tentang Falun Dafa (yang juga disebut Falun Gong) kepada putri saya. Ia telah dicuci otaknya secara mendalam oleh kebohongan yang disebarkan oleh media Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan memiliki pemahaman yang keliru mengenai apa itu Dafa. Setiap kali saya berbicara tentang Falun Dafa, ia akan meledak dalam kemarahan dan terus merasa marah selama berhari-hari.

Ia bekerja sebagai manajer tingkat rendah di instansi pemerintah, namun ia tetap berhati baik, jujur, dan tidak korup dalam menjalankan tugasnya. Ketika ada orang yang mencoba memberinya uang atau hadiah, ia berkata, “Sebelum pensiun, Ibu saya tidak pernah menerima pemberian seperti itu, dan saya pun tidak akan menerimanya. Ibu saya dulu sering berkata, ‘Mencari nafkah itu tidak mudah. Saya akan tetap memperlakukan Anda dengan cara yang sama, baik Anda memberi hadiah atau tidak.’”

Saya sangat senang mendengar hal ini, karena saya tidak menyadari bahwa perilaku saya telah memberikan kesan positif yang begitu mendalam baginya. Saya pun berpikir, “Karena kamu tidak mau mendengar fakta tentang Dafa, maka saya akan menunjukkan fakta itu melalui tindakan saya.”

Saya senantiasa memperhatikan perilaku saya dalam segala hal yang saya lakukan dan berupaya mencerminkan prinsip Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar) melalui tindakan nyata.

Suatu hari, putri saya berkata, “Bu, Ibu adalah orang yang paling baik hati, paling toleran, dan memiliki tekad paling kuat di seluruh dunia.” Saya memanfaatkan kesempatan itu untuk berbicara dengannya tentang Falun Dafa, namun begitu saya mengungkit topik tersebut, ia langsung berpaling dan pergi.

Saat pandemi COVID-19 semakin memburuk, putri saya pulang kerja suatu hari dan menceritakan betapa parahnya dampak penyakit tersebut terhadap masyarakat. Kebetulan televisi sedang menyala, dan kami mendengar siaran yang mengatakan, “Negara kita adalah yang terbaik dalam mengendalikan infeksi ini...”

“Yah, kenyataan yang terjadi justru sangat berbeda dengan apa yang dikatakan di televisi,” ujarnya. “Kamu benar. Mereka melakukan hal yang sama selama penganiayaan terhadap Falun Dafa.”

Betapa terkejutnya saya, begitu saya menyebut Falun Dafa, dia langsung mengamuk, berlari ke dapur, mengambil pisau, dan mengancam akan membunuh saya.

Suami saya bergegas datang untuk merebut pisau itu dan berteriak, “Apa yang sedang kamu lakukan?”

Dia justru semakin marah dan berteriak, “Ibu tidak boleh berlatih Falun Dafa!” Dia juga hendak mengambil satu-satunya buku Zhuan Falun milik saya serta pemutar MP3 yang saya gunakan untuk melakukan latihan.

“Biarkan barang-barang itu untuk ibumu!” Seru suami saya dengan lantang, namun dia tidak mendengarkan dan tetap mengambilnya.

Saya sangat terkejut dengan perilakunya dan sejak saat itu, saya tidak berani lagi menyebut Falun Dafa untuk waktu yang lama.

Belakangan, dia membawa buku dan pemutar MP3 saya kepada seorang teman saya dan berkata, “Tolong simpan ini untuk ibu saya.” Beberapa hari kemudian, teman saya mengembalikannya kepada saya.

Suami saya berkata kepada saya, “Kamu bisa membaca buku itu dan melakukan latihan setelah putri kita berangkat kerja. Setelah selesai, saya akan menyimpannya di tempat yang aman supaya dia tidak menemukannya.”

Putri saya masih tidak tahu bahwa saya menyimpan Zhuan Falun di rumah, meskipun dia tahu saya melakukan latihan. Sekarang, saat dia melihat saya sedang berlatih, dia memilih untuk tidak memedulikannya, dan dia tidak pernah lagi melayangkan keluhan sejak saat itu.

Tawaran suami saya untuk menjaga buku Dafa milik saya menunjukkan bahwa kini dia mendukung saya. Dulu, saat putri saya marah kepada saya, suami saya justru memihak putri kami dan bersama-sama dengannya menekan saya.

Suami saya adalah seorang wakil pemimpin di wilayah kami. Selama lebih dari 20 tahun sejak penganiayaan dimulai, dia selalu mengikuti perintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) untuk menganiaya saya.

Setiap kali dia mendengar atau membaca propaganda negatif tentang Falun Dafa, dia dan putri kami akan menindas saya serta melontarkan berbagai kata-kata kasar. Kemarahannya sering kali berlanjut hingga dini hari. Saya tidak ingat lagi berapa kali dia mencoba mengusir saya keluar rumah di tengah malam.

Dia melarang saya menghubungi praktisi lain dan menyimpan buku-buku Dafa di rumah. Akhirnya, saya berjuang mati-matian untuk tetap menyimpan satu buku Zhuan Falun. Mereka berdua berkata, “Karena kamu berlatih Falun Dafa, kami tidak bisa lagi menegakkan kepala—baik di depan umum maupun secara pribadi.”

Saat saya mencoba menjelaskan betapa luar biasanya Falun Dafa, mereka sama sekali tidak mau mendengarkan. Setiap kali saya membahasnya, mereka berteriak begitu keras hingga tetangga pun tidak bisa hidup dengan tenang.

Terkadang, saat saya tidak mampu menjaga xinxing (kualitas moral/watak) saya, saya berpikir, “Sangat sulit hidup dalam keluarga ini. Rasanya seperti di penjara. Tidak ada seorang pun yang peduli dengan perasaan saya, atau apakah saya hidup atau mati.”

Sesekali, ketika rasa sedih terasa begitu menyesakkan, saya ingin meninggalkan keluarga agar bisa membantu Guru dalam pelurusan Fa secara terbuka dan bermartabat.

Lalu saya berpikir, “Saya memang bisa pergi dan membebaskan diri dari penderitaan di rumah ini, tetapi bagaimana dengan suami dan putri saya? Kami adalah keluarga, yang terikat oleh jalinan takdir. Mereka juga merupakan makhluk hidup yang harus diselamatkan. Saya harus tetap di sini dan menyelamatkan mereka.”

Saya mulai memperbaiki diri dengan lebih sungguh-sungguh, memeriksa setiap pikiran saya dan memastikan semuanya berlandaskan pada Fa, agar saya bisa menunjukkan keindahan Dafa kepada keluarga saya.

Saya juga senantiasa memancarkan pikiran lurus untuk melenyapkan gangguan jahat serta unsur-unsur yang menghalangi suami dan putri saya untuk memperoleh Fa. Meskipun mereka menunjukkan sedikit perubahan, kondisi mereka masih jauh dari apa yang saya harapkan.

Akhirnya, suami saya mengalami perubahan total setelah suatu peristiwa besar terjadi.

Suatu hari, ibu saya yang berusia 90 tahun (yang juga merupakan praktisi Dafa selama 30 tahun) tampak mengalami serangan jantung dan segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter memberi tahu kami tiga kali bahwa kondisinya kritis.

Saya dan praktisi lain memahami bahwa ibu saya sebenarnya sedang menjalani proses pembersihan karma penyakit, sehingga kami tidak menghiraukan peringatan dokter. Sambil menggenggam tangan ibu, kami terus melafalkan “Falun Dafa hao (Falun Dafa baik)” dan memancarkan pikiran lurus.

Kerabat kami yang berada di ruangan itu pun turut melafalkan, “Falun Dafa hao (Falun Dafa baik).” Tak lama kemudian, ibu saya sadar dan membuka matanya. Ia bahkan bisa berbicara.

Suami saya berkata, “Sudah banyak orang mengatakan kepada saya bahwa melafalkan ‘Falun Dafa hao (Falun Dafa baik)’ bisa membantu seseorang selamat dari situasi yang mengancam nyawa. Saya tidak pernah memercayainya. Namun hari ini, saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ibumu pulih secara ajaib. Saya telah menyaksikan kekuatan luar biasa dari Falun Dafa!”

Sejak saat itu, ia benar-benar meyakini bahwa Falun Dafa baik dan sering melafalkan kalimat tersebut. Ia juga telah mengundurkan diri dari organisasi-organisasi PKT (Partai Komunis Tiongkok). Itulah sebabnya ia menawarkan diri untuk menyimpan buku Dafa saya dengan aman. Perubahannya mendorong saya untuk tetap teguh dalam membantu putri saya.

Melalui pendalaman belajar Fa, xinxing (kualitas moral/pikiran) saya meningkat, dan saya memutuskan untuk berbicara lagi kepada putri saya tentang Falun Dafa. Sehari sebelumnya, saya memancarkan pikiran lurus, baik untuk putri saya maupun untuk diri saya sendiri.

Keesokan harinya adalah hari Minggu. Saya bangun pagi-pagi dengan pikiran lurus yang kuat dan tanpa rasa takut. Setelah sarapan, kami berdua duduk di sofa. Saat saya mengatakan bahwa Falun Dafa baik, ia langsung bangkit dan berkata dengan tajam, “Mengapa Ibu masih membicarakan hal-hal seperti itu kepada saya? Saya tidak peduli jika Ibu mau berlatih, tapi jangan pernah menyebutkannya lagi kepada saya!”

Ia kemudian masuk ke kamarnya dan melakukan panggilan telepon. Dengan suara lantang, ia bertanya, “Apakah ini 110 [nomor darurat nasional]?” Setelah itu, ia merendahkan suaranya sehingga saya tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang ia katakan. Saya tetap tenang, dengan hati yang tulus untuk menyelamatkannya. Namun, ia tetap marah dan tidak berbicara kepada saya sepanjang hari.

Setelah memancarkan pikiran lurus pada tengah malam, saya melakukan beberapa perangkat latihan, lalu pergi tidur. Malam itu, saya bermimpi. Meskipun saya tahu kita tidak boleh terikat pada mimpi, saya ingin membagikan pengalaman ini karena saya sungguh tersentuh oleh apa yang terjadi di dalam mimpinya.

Dalam mimpi itu, saya memegang selembar kertas berukuran sekitar empat kali lima inci (sekitar 10 x 13 cm) yang berisi aksara dengan ukuran serupa dengan yang ada dalam buku Zhuan Falun versi kecil. Saya mulai membaca isi kertas itu dengan suara lantang.

Saat membaca, saya menyadari bahwa pesan tersebut berasal dari Guru. Meskipun saya tidak dapat mengungkapkan dengan jelas apa yang disampaikan Guru, saya merasakan kata-kata Guru begitu mendalam namun mudah dipahami.

Guru menyoroti hal-hal yang telah saya lakukan dengan baik selama 30 tahun masa kultivasi saya, serta memberikan pujian atas pencapaian tersebut. Setiap kata memancarkan belas kasih Guru yang tak terbatas. Beliau sama sekali tidak menyebutkan kesalahan apa pun yang pernah saya perbuat. Kalimat terakhir berbunyi, “Kamu telah berhasil melewati rintangan besar terakhirmu, dan kemurnian hatimu telah memastikan bahwa alam semesta masa depanmu akan abadi selamanya!”

Saya tersadar sepenuhnya saat sedang membaca pesan tersebut, dengan perasaan sangat gembira hingga sulit untuk menenangkan diri. Saya duduk dan berpikir, “Bukankah rintangan besar terakhir yang dimaksud adalah upaya saya untuk mengklarifikasi fakta tentang Dafa kepada putri saya? Meskipun saya belum berhasil, Guru telah memberikan kehormatan yang begitu besar kepada saya karena saya tetap menjaga hati yang tulus untuk menyelamatkan makhluk hidup.”

Saya benar-benar diliputi oleh belas kasih Guru yang tak terbatas. Satu-satunya cara untuk membalas anugerah Guru adalah dengan lebih tekun dalam berkultivasi.

Keesokan paginya, setelah memancarkan pikiran lurus, saya bertemu dengan putri saya saat keluar dari kamar tidur. Kami mulai mengobrol dengan hangat, seolah-olah tidak terjadi apa-apa pada malam sebelumnya. Sikapnya saat itu adalah yang terbaik yang pernah ia tunjukkan setelah sempat marah kepada saya.

Kemudian, saya mulai mencari ke dalam. Penolakannya untuk mendengarkan fakta menunjukkan bahwa pasti ada sesuatu yang keliru pada diri saya. Masih ada keterikatan manusia yang harus saya temukan dan lepaskan. Saya harus belajar Fa dengan lebih saksama dan melakukan introspeksi diri secara lebih mendalam dan cermat untuk menyingkirkan segala hal buruk yang tidak selaras dengan prinsip-prinsip Fa, yaitu Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar).

Saya teringat sesuatu dari salah satu puisi Guru,

“…Pikiran sejati mengubah seantero langit menjadi cerah…” (“Ungkapan Rasa Takjub”, Hong Yin IV)

Saya percaya bahwa saya akan mencapai kemurnian pikiran itu cepat atau lambat

Saya juga percaya bahwa tidak akan lama lagi putri saya akan datang kepada saya untuk mempelajari fakta kebenaran.

Terima kasih, Guru.

(Artikel terpilih untuk Fahui Tiongkok ke-23 di Minghui.org)