(Minghui.org) Setelah mulai berlatih Falun Dafa pada Agustus 1998, saya merasa bahagia, dan tanpa beban, serta sembuh dari berbagai penyakit, seperti rhinitis, faringitis, bronkitis, gastritis atrofik kronis, dan neurosis (takut naik kendaraan, yang menyebabkan mual, muntah, dan ketegangan fisik yang ekstrem).
Putra saya dan keluarganya tinggal di kota lain. Saya dan suami menabung selama bertahun-tahun, dan kami berencana membeli apartemen di kota itu.
Namun, pada musim semi tahun 2024, putra dan menantu perempuan meminta kami untuk membantu mereka membeli apartemen di distrik sekolah yang diinginkan. Dengan berat hati, saya dan suami membatalkan rencana kami; kami menanggung sebagian besar biaya, sehingga mereka dapat membeli properti tersebut secara tunai. Putra saya dan istrinya hanya menyumbang sebagian kecil dari total harga apartemen.
Pada bulan September itu, saya pergi tinggal bersama mereka dan membantu merawat cucu saya. Saya kebetulan mendengar menantu perempuan mengatakan kepada seseorang, “Kami memiliki dua properti; mertua saya tidak memiliki rumah di sini, jadi kami mengizinkan mereka tinggal di salah satu rumah kami.” Saya terkejut dan sangat sakit hati ketika mendengar ini. Meskipun benar bahwa akta kepemilikan apartemen di distrik sekolah itu atas nama putra dan menantu perempuan, tapi saya dan suami yang membayar sebagian besar harga pembeliannya.
Selain itu, apartemen yang mereka tempati beberapa tahun lalu dibeli secara tunai dan direnovasi sepenuhnya dengan dana yang disediakan oleh saya dan suami. Tentu saja, saya mengharapkan akta kepemilikan properti tersebut mencantumkan nama saya dan suami. Meskipun mereka bahkan belum bertunangan saat itu, calon menantu perempuan ini bersikeras agar akta tersebut hanya atas nama dia dan putra saya. Karena tidak ingin menempatkan putra saya dalam posisi sulit, kami menyetujui permintaannya, meskipun pengaturan tersebut selalu membuat saya merasa sedikit tidak nyaman.
Sekarang mereka juga memiliki apartemen di kawasan sekolah unggulan. Ketika mendengar menantu perempuan melontarkan komentar seperti itu kepada orang luar, yang tidak mengetahui cerita lengkapnya, itu benar-benar membuat saya merasa sakit hati.
Masalah itu terus berputar-putar di dalam pikiran saya. Saya merasa ia seharusnya tidak berbicara seperti itu. Saya sering kali diam-diam bertekad untuk menabung cukup uang agar saya dan suami bisa membeli rumah sendiri di kota itu dengan nama kami tercantum dalam akta kepemilikan. Selama lebih dari setahun, pikiran ini terus muncul, dan saya tidak pernah merasa itu salah.
Baru-baru ini saya mulai menghafal Fa dan belajar Fa dengan pikiran tenang, sambil juga berusaha membaca artikel-artikel berbagi pengalaman dari praktisi lain di situs web Minghui. Saya mulai merenungkan situasi keluarga saya. Guru berkata, “Sebagai orang Xiulian, mengintrospeksi ke dalam adalah sebuah pusaka.” (“Ceramah Fa pada Konferensi Fa Washington D.C. Tahun 2009“)
Saya mengintrospeksi ke dalam diri, dan bertanya pada diri sendiri mengapa saya mengalami situasi ini. Bagi praktisi Dafa, tidak ada yang kita alami secara kebetulan. Ketika kita mengamati perilaku orang lain, kita harus merenungkan diri sendiri dan bertanya keterikatan apa yang perlu kita singkirkan. Mengapa saya begitu peduli apakah nama kami tercantum dalam akta kepemilikan kedua apartemen itu? Karena kami telah membayar sebagian besar harga pembelian, saya percaya nama kami seharusnya dicantumkan. Saya merasa berhak atas bagian dari investasi properti ini. Saya takut jika hanya nama mereka yang tercantum dalam akta, seolah-olah properti itu tidak ada hubungannya dengan kami. Kami memberikan hampir seluruh tabungan kami, yang terkumpul dari kerja keras seumur hidup, dan saya merasa tidak adil dan dirugikan. Saya juga merasa bahwa putra dan menantu perempuan tidak berterima kasih kepada kami.
Ketika mengintrospeksi ke dalam diri, saya menemukan keterikatan yang tersembunyi mengenai masalah ini—saya memiliki keterikatan kuat terhadap keuntungan finansial. Saya gagal membiarkan segala sesuatunya berjalan secara alami, gagal memahami bahwa apa yang benar-benar milik saya tidak akan hilang, dan apa yang bukan milik saya harus dilepaskan. Saya seharusnya tidak perlu merasa terganggu.
Setelah merenungkan pola pikir saya, saya menyadari bahwa saya telah memiliki keterikatan ini selama bertahun-tahun, bersamaan dengan memiliki pikiran bahwa sebagian dari uang saya sendiri harus dihabiskan untuk diri sendiri, dan bahwa dukungan finansial apa pun yang diberikan kepada orang lain, bahkan anak-anak atau keluarga saya sendiri, tidak boleh melebihi batasan yang saya tetapkan. Saya mencoba untuk berpegang teguh pada Kebuddhaan (spiritualitas) dengan satu tangan dan kepentingan duniawi dengan tangan lainnya—keterikatan saya ini disertai dengan keinginan untuk menahan sesuatu untuk kepentingan diri sendiri.
Melepaskan Rasa Iri Hati, Keinginan Mengejar Nama, dan Mentalitas Pamer
Saya juga menyadari bahwa saya memiliki keinginan untuk diakui. Meskipun nama suami maupun nama saya tidak tercantum dalam akta properti, saya merasa menantu perempuan setidaknya harus bersyukur dan menjelaskan situasi sebenarnya kepada orang lain, khususnya, kami telah membayar sebagian besar harga pembelian. Ini adalah keinginan untuk diakui dan tidak mau kehilangan muka.
Setelah menggali lebih dalam, saya menyadari bahwa saya tidak bisa melupakan fakta bahwa nama menantu perempuan tercantum dalam akta kepemilikan kedua properti tersebut. Saya menyimpan rasa kesal dan ketidakadilan, merasa bahwa ia tidak bekerja keras selama bertahun-tahun untuk mendapatkan uang itu, juga tidak mau mengurus anak-anaknya atau melakukan pekerjaan rumah tangga, namun sekarang ia menuai hasilnya dan memiliki dua rumah, tanpa memberikan kontribusi apa pun. Hal ini berakar dari perasaan kesal dan iri hati.
Sebenarnya, keterikatan saya pada ketenaran dan keuntungan muncul di luar lingkungan keluarga. Meskipun saya sekarang sudah pensiun, setiap kali saya mendengar bahwa mantan kolega saya mendapat promosi atau jabatan profesional yang lebih tinggi, saya merasakan sedikit rasa sakit hati dan tidak nyaman. Saya menyadari bahwa saya berpikir, “Kemampuan profesionalnya hanya rata-rata, atau kemampuannya bahkan tidak sebaik saya!” Namun, mereka dipromosikan dan diberi jabatan senior. Saya mulai menghitung, “Berapa penghasilan mereka sekarang? Berapa besar lebih banyak dari pada uang pensiun saya?” Pikiran ini membuat saya merasa gelisah. Ketika saya tenang dan mengintrospeksi ke dalam untuk memeriksa diri sendiri, saya bertanya pada diri sendiri mengapa saya merasa sakit hati. Mengapa saya terus membuat perbandingan ini? Saya menyadari bahwa semua itu berakar dari keterikatan yang kuat pada uang dan keuntungan pribadi, rasa iri hati, serta keinginan untuk mengejar nama.
Sebaliknya, ketika mengetahui bahwa uang pensiun saya lebih tinggi dari pada uang pensiun kerabat, teman, atau kenalan, saya merasa superior dan ingin pamer, yang juga didorong oleh keterikatan untuk mendapatkan keuntungan, mengejar nama, dan keterikatan pada rasa iri hati.
Saya menyadari bahwa pikiran yang tidak lurus ini semuanya berpusat pada rasa “ego (diri)” yang kuat. Semuanya melibatkan mengutamakan diri sendiri tanpa memperhatikan orang lain, dan itu egois. Ketika membandingkan perilaku saya dengan apa yang diajarkan Guru, saya menyadari xinxing (kualitas moral) saya jauh di bawah standar Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar). Saya harus menyingkirkan keterikatan yang kotor dan mementingkan diri sendiri ini. Saya perlu mempertimbangkan orang lain, melihat masalah dari perspektif mereka, dan menjadi orang yang benar-benar baik yang selaras dengan prinsip Dafa, seperti yang dikatakan Guru: “... mengultivasi diri hingga mencapai kesadaran lurus yang tanpa ego dan tanpa mementingkan diri sendiri.” (“Sifat Kebuddhaan Tanpa Kebocoran,” Petunjuk Penting Untuk Gigih Maju I)
Setelah melepaskan pikiran dan keterikatan negatif ini, saya mendapati hati saya menjadi ringan dan terbuka. Ketika membantu orang lain, saya tidak lagi khawatir tentang keuntungan atau kerugian pribadi; sebaliknya, saya dapat memberi dengan bebas dan tenang, dan membiarkan segala sesuatunya berjalan secara alami. Saya merasa damai ketika hal-hal baik terjadi pada orang lain, saya tidak memiliki rasa sakit hati atau iri hati, dan saya tidak lagi mementingkan ketenaran dan keuntungan atau menyimpan rasa iri hati. Rasanya benar-benar seperti menemukan laut benar-benar seluas langit, dunia yang sama sekali berbeda.
Saya merenungkan mengapa, dalam jangka waktu yang begitu lama hingga bertahun-tahun, saya tetap begitu terikat pada masalah sepele. Dulu saya memandang keuntungan materi dengan tidak peduli; mengapa sekarang saya menjadi begitu terikat? Saya melihat akar penyebabnya adalah saya lalai dalam kultivasi. Saya sering terjebak dalam urusan manusia biasa, seperti memeriksa ponsel, belanja online, dan fokus pada penampilan saya. Saya gagal untuk tekun dalam kultivasi; saya jarang belajar Fa dan tidak mampu belajar dengan pikiran yang tenang dan fokus.
Ketika memancarkan pikiran lurus, pikiran saya kacau, dipenuhi pikiran-pikiran yang liar. Partisipasi saya dalam proyek klarifikasi fakta terkadang menjadi sekadar formalitas, sebuah tugas yang sekadar diselesaikan, bukannya sebuah tindakan yang dilakukan dengan hati yang murni dan sakral yang berakar pada Fa. Saya sering bergantian antara periode ketekunan dan periode kelalaian. Siklus ini terus berulang, dan untuk waktu yang lama, saya tidak membuat terobosan yang berarti.
Kultivasi bagaikan berlayar melawan arus. Jika seseorang tidak maju, maka ia sedang mundur. Saat saya mulai mengendur dalam belajar Fa, xinxing saya perlahan-lahan merosot, dan saya semakin seperti manusia biasa, mudah terjebak dalam pikiran manusia biasa. Apa yang awalnya berupa keterikatan kecil terhadap kepentingan pribadi, yang terabaikan tumbuh tanpa terkendali, meluas tanpa saya sadari, hingga akhirnya menjadi keterikatan yang besar.
Di sisa waktu singkat ini, kita harus berkultivasi. Saya harus sadar dan menghayati ajaran Guru yang khidmat. Saya tidak boleh lagi lalai atau mengendur. Saya akan berkultivasi dengan tekun, berusaha melakukan tiga hal dengan baik, memenuhi janji sakral saya, dan mengikuti Guru pulang ke rumah saya yang sesungguhnya.
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org