(Minghui.org) Saya ingin berbagi cerita tentang bagaimana suami saya selamat dari kecelakaan yang mengancam jiwa, serta bagaimana saya meningkatkan diri melalui kultivasi. Pengalaman kami menunjukkan bahwa, bahkan saat menghadapi ujian berat, selama kita terus berkultivasi sesuai dengan Fa, kekuatan Dafa yang luar biasa akan tampak nyata. 

Nyawa Suami Saya Terancam Setelah Mengalami Kecelakaan Serius

Saya dan suami adalah petani berusia 50-an tahun. Kami memiliki seorang putri yang sudah menikah dan tinggal di kota lain. 

Saat Dafa pertama kali diperkenalkan di desa kami, suami saya dan penduduk desa lainnya merasa sangat gembira. Suami dengan tekun membaca buku-buku Dafa, berhenti merokok dan minum alkohol, serta tidak lagi bermain kartu. Ia juga mengubah tabiat buruknya; ia tidak lagi berkata kasar maupun berkelahi dengan orang lain. 

Setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) memulai penganiayaan terhadap Falun Gong pada bulan Juli 1999, pemerintah daerah dan kepolisian mengerahkan anggota milisi untuk melakukan penggeledahan ilegal di rumah-rumah praktisi, menyita barang-barang pribadi, dan melakukan penangkapan sewenang-wenang. Beberapa praktisi yang sedang bekerja di ladang pun ditahan tanpa mengikuti aturan hukum. 

Suami saya menjadi takut dan berhenti berlatih, namun ia senantiasa mendukung latihan kultivasi saya. Meski demikian, pada akhirnya kekuatan lama tetap menjadikannya sasaran penganiayaan. 

Karena saya pergi ke Beijing dua kali untuk memohon keadilan bagi Falun Gong, saya ditahan secara ilegal beberapa kali dan dikirim ke kamp kerja paksa sebanyak tiga kali. Selama setiap masa penahanan, pihak berwenang memaksa setiap praktisi Falun Gong untuk membayar 20 yuan per hari sebagai biaya hidup. Suami membayar uang pemerasan ini dari penghasilannya yang sangat kecil, yang diperolehnya dengan menjual sayuran hasil tanamannya sendiri. 

Suatu hari di bulan April 2000, saat keluarga saudari ipar kedua sedang menghadiri pemakaman, saya menjaga rumah mereka. Sekitar pukul 22.00, tiga petugas polisi setempat datang dan mengetuk pintu. 

Para petugas tersebut—yang sebelumnya telah minum-minum alkohol dalam jumlah banyak di rumah seorang kepala desa—menuduh bahwa saudari ipar kedua saya telah pergi ke Beijing untuk mengajukan permohonan kepada pihak berwenang. Mereka menuntut agar saya menyerahkan saudari ipar, dan mengancam akan menangkap saya jika saya gagal melakukannya. 

Mereka kemudian menendang pintu dengan kasar hingga terbuka dan menerobos masuk ke dalam rumah untuk menangkap saya. Suami saya bergegas datang setelah mendengar kabar tersebut. Ia berkata kepada polisi, “Tidak pantas bagi tiga petugas polisi pria untuk membawa pergi seorang wanita pada larut malam begini. Tunggu saja sampai besok.” 

Salah satu petugas maju, menempelkan senjatanya ke dada suami, lalu mengancam, “Anda menghalangi tugas resmi. Akan saya tembak mati Anda!” Mereka kemudian menyeret saya secara paksa ke kantor polisi, tempat saya ditahan secara ilegal selama 15 hari. 

Setelah dibebaskan, saya kembali pergi ke Beijing untuk mengajukan permohonan kepada pihak berwenang demi menuntut keadilan. Namun, saya dihadang, dibawa kembali secara paksa, dan ditahan secara ilegal di sebuah pusat penahanan selama beberapa bulan. 

Menjelang Tahun Baru Imlek, polisi, kader desa, serta pejabat pemerintah tingkat kota praja mendatangi rumah saya. Mereka menyita perangkat televisi, kipas angin listrik, blender, serta satu-satunya potongan daging babi awetan dan sekaleng lemak yang telah disimpan keluarga untuk perayaan Tahun Baru Imlek. 

Suami memohon kepada mereka agar meninggalkan daging babi yang telah diawetkan dan sekaleng lemak untuk kami, seraya menjelaskan bahwa hanya itulah persediaan yang kami simpan untuk perayaan Tahun Baru Imlek. Namun, permohonan suami saya diabaikan; mereka tetap membawa pergi semua barang yang telah mereka ambil. Akibatnya, suami dan putri kami yang masih kecil harus menjalani hari Tahun Baru Imlek dengan penuh kesedihan, ketakutan, serta kecemasan. 

Kemudian, saya dijatuhi hukuman secara tidak sah selama dua tahun di kamp kerja paksa. Di sana, saya mengalami berbagai bentuk penyiksaan karena menolak untuk melepaskan keyakinan saya pada Dafa. Saya tetap teguh dengan pikiran lurus dan menolak untuk “diubah” di dalam sarang kegelapan tersebut.

Suatu sore di bulan Februari 2025, saat sedang menyeberang jalan, ia tertabrak sepeda motor yang melaju kencang hingga terpelanting ke tanah. Ia kehilangan kesadaran dan mengalami pendarahan hebat di bagian kepala. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan dirawat di ruang ICU. 

Diagnosis menunjukkan adanya cedera otak traumatis tertutup yang parah, patah tulang rusuk di kedua sisi, patah tulang selangka, serta berbagai cedera lainnya. 

Seluruh keluarga kami menolak tindakan kraniotomi. Sebagai gantinya, dokter melakukan trakeostomi untuk membantunya bernapas dan membersihkan saluran pernapasannya dari lendir.

Sekitar sepuluh hari kemudian, suami dipindahkan ke bangsal umum. Ia terus-menerus tampak mengantuk sepanjang hari dan menerima asupan nutrisi cair melalui selang yang dimasukkan ke lambungnya. 

Meskipun terkadang ia membuka mata sejenak dan menunjukkan adanya sensasi pada tangan serta kakinya, tidak ada peningkatan berarti dalam aspek lainnya. 

Pihak rumah sakit berencana memindahkannya dari Departemen Bedah Saraf ke Departemen Kedokteran Rehabilitasi. Di sana, biaya harian untuk perawatan rehabilitasi mencapai lebih dari 3.000 yuan, ditambah lebih dari 300 yuan untuk layanan keperawatan, serta 100 yuan untuk biaya pendamping pasien. 

Karena tidak mampu menanggung biaya yang tinggi tersebut, kami sepakat untuk memindahkannya ke Departemen Kedokteran Rehabilitasi di sebuah rumah sakit yang lebih kecil, yaitu Rumah Sakit Kesehatan Ibu dan Anak. Meskipun rumah sakit tersebut tidak menyediakan layanan rehabilitasi medis, biaya pengobatan harian tetap cukup tinggi—lebih dari 1.000 yuan per hari—belum termasuk biaya tambahan untuk layanan keperawatan dan pendamping pasien. 

Satu bulan berlalu, dan kondisi suami saya tetap sama. Ia terus-menerus mengantuk sepanjang hari, menerima asupan nutrisi cair melalui selang yang dimasukkan ke lambungnya, dan lendir di saluran pernapasannya harus dibersihkan melalui selang trakeostomi. Ia tidak bisa bergerak sama sekali dan tidak menunjukkan tanda-tanda peningkatan melalui rehabilitasi.

Saat itu, kami telah menghabiskan hampir 200.000 yuan—hampir seluruh tabungan kami dari hasil bercocok tanam dan menjual sayuran bertahun-tahun. Suami tidak mendapatkan kompensasi apa pun atas kecelakaan tersebut karena ia tidak menyeberang jalan melalui jalur penyeberangan pejalan kaki. 

Kami mulai meminjam uang, dan tidak lagi mampu membiayai perawatan suami di rumah sakit. Karena tidak melihat adanya perubahan pada kondisinya, kami meminta agar ia diperbolehkan pulang. 

Dokter yang menangani suami menolak permintaan tersebut dengan berkata, “Nyawanya akan terancam jika ia dipulangkan dalam kondisi seperti ini. Lagipula, kalian tidak tahu cara merawatnya. Jika ia dibawa pulang, ia mungkin tidak akan bertahan sampai sepuluh hari.” 

Maksud dokter tersebut adalah, meskipun suami saya telah dipindahkan ke bangsal umum, kondisinya masih sangat kritis dan ia bisa meninggal kapan saja. 

Putri saya berkata kepada saya, “Bu, ayo kita bawa ayah pulang. Ibu bisa membantunya dan memberinya kesempatan.” 

Saya berpikir: Saya adalah seorang praktisi Dafa, sementara anggota keluarga, kerabat, dan teman-teman saya adalah manusia biasa. Jika saya membawa suami pulang, mereka mungkin tidak akan mendukung atau memahami alasan saya, bahkan bisa jadi muncul kesalahpahaman mengenai Dafa. Namun, karena putri saya sendiri yang meminta agar ayahnya dibawa pulang, mungkin ini adalah hal yang baik dan bisa memberi suami saya kesempatan lagi. Akhirnya, saya menyetujui usulannya. 

Suami Saya Kembali dari Ambang Kematian 

Meskipun dokter sangat keberatan, kami tetap membawa suami saya pulang. Tubuhnya menjadi sangat kurus dan ia masih dalam keadaan tidak sadar, bergantung pada selang untuk bernapas serta mendapatkan asupan makanan. 

Tiga minggu kemudian, saat saya pergi ke rumah sakit untuk meminta resep obat anti kejang, dokter bertanya, “Di mana pasien sekarang? Apakah kondisinya sudah membaik?” 

“Dia sudah sangat sehat sekarang,” jawab saya kepada dokter tersebut, yang merasa sangat terkejut mendengarnya. 

“Anda mengatakan dia sudah sehat sekarang? Itu sebuah keajaiban! Siapa yang melepas selang yang terpasang di lambungnya?” 

“Dia sendiri yang melepasnya,” jawab saya. 

Dokter itu kemudian bertanya, “Dimana trakeostomi-nya dilepas?” 

“Saya yang melepasnya,” kata saya kepada dokter itu. 

“Anda yang melepasnya? Ini benar-benar sebuah keajaiban! Bagaimana kondisinya sekarang?” tanya dokter itu dengan penuh antusias. 

“Dia sekarang sudah bisa makan sendiri dan pergi ke toilet tanpa bantuan siapa pun,” ujar saya. 

“Sungguh keajaiban!” seru dokter itu dengan penuh semangat. Perawat lain yang ada di dekat situ yang mengetahui kasus suami saya pun menimpali, “Ya, benar-benar sebuah keajaiban!” 

Keampuhan Dafa 

Suami saya—yang menurut perkiraan dokter akan meninggal dalam waktu sepuluh hari setelah kami membawanya pulang—secara ajaib pulih berkat keampuhan dan keajaiban Dafa yang nyata, setelah saya melenyapkan keterikatan egois melalui kultivasi berdasarkan Fa. 

Mengultivasi Diri Saat Menghadapi Penderitaan 

Awalnya, saya sangat terkejut serta diliputi kecemasan dan kekhawatiran saat mengetahui suami saya mengalami kecelakaan serius. Kemudian, saya teringat apa yang disampaikan Guru dalam Zhuan Falun:

“Saat sanak keluarga dan handai tolan mengalami penderitaan, apakah hati anda tak terusik, bagaimana anda mempertimbangkan hal tersebut, selaku seorang praktisi Gong memang demikian sulit!” (Ceramah 8, Zhuan Falun)

Saya menenangkan diri dan berpikir: Suami saya seharusnya bisa pulih jika kami mengikuti rencana perawatan yang diatur oleh pihak rumah sakit. Kekhawatiran yang berlebihan hanya akan muncul akibat keterikatan pada qing (perasaan sentimental). Saat ini, waktu sangatlah berharga untuk menyelamatkan orang-orang. Jika kekuatan lama menggunakan kecelakaan suami saya untuk mengganggu waktu dan upaya saya dalam membantu Guru menyelamatkan makhluk hidup, saya pasti akan menyangkal dan tidak mau menerimanya. 

Putri saya mengambil cuti kerja dan datang untuk membantu. Dialah yang menghabiskan paling banyak waktu merawat ayahnya di rumah sakit. Jadi, setelah suami saya dipindahkan ke bangsal umum, setiap hari saya memiliki waktu untuk menjelaskan fakta kebenaran kepada orang-orang dan membantu mereka mundur dari organisasi-organisasi PKT, sebelum pergi ke rumah sakit untuk menjenguk suami. Terkadang, saya juga tinggal di rumah untuk memberi makan domba dan ayam, atau menyelesaikan pekerjaan tani yang belum sempat diselesaikan oleh suami. 

Setiap kali saya pergi menjenguk suami bersama saudari ipar kedua (yang juga seorang praktisi Dafa), kami akan melafalkan ajaran Fa untuk suami dan memancarkan pikiran lurus guna melenyapkan gangguan jahat di ruang dimensi lain—gangguan yang mencoba memanfaatkan penderitaan keluarga untuk menghalangi saya menyelamatkan makhluk hidup. 

Mengultivasi Belas Kasih yang Penuh Kebaikan 

Putri saya kembali bekerja setelah merawat ayahnya di rumah selama seminggu, jadi saya mengambil alih semua tugas perawatan suami—mulai dari menyiapkan nutrisi cair, memberinya makan melalui selang di lambungnya, membersihkan lendir dari saluran pernapasannya, mengganti kantong urine, memiringkan tubuhnya agar tidak terkena luka baring (dekubitus), memandikan, dan sebagainya. 

Suami saya sering melepas kantong urine, yang membuat tempat tidurnya basah. Setiap kali saya memasang kantong urine yang baru, ia akan melepasnya kembali. Terkadang, saya harus mengganti seprai tempat tidurnya hingga empat kali dalam sehari. 

Setiap kali saya berusaha memindahkan posisinya untuk mengganti seprai, saya biasanya langsung kehabisan napas karena mengerahkan tenaga. Terkadang, ia juga buang air besar di tempat tidur lalu memegang kotorannya sendiri, melumurkannya ke seluruh tubuh dan tangannya, bahkan ke wajahnya. Ia menjadi sangat kotor dan berbau tidak sedap; membersihkannya adalah tugas yang sangat melelahkan sekaligus membuat frustrasi. 

Kami sempat meminta bantuan dari seorang penyedia layanan perawatan di rumah, namun begitu melihat betapa beratnya perawatan yang dibutuhkan suami saya, ia langsung pergi begitu saja.

Putri saya tampaknya tidak terlalu kesulitan saat merawat ayahnya, tetapi situasi yang saya hadapi jauh berbeda. Rasanya seolah-olah segala sesuatu bersekongkol untuk menyiksa saya, dan saya merasa sangat sulit untuk menanggungnya.

Sepanjang hari saya kelelahan, dengan rasa nyeri di punggung bawah dan seluruh tubuh. Saya hampir tidak sanggup berdiri. Selain itu, saya juga masih harus memberi makan ternak yang tersisa di rumah kami. 

Saya merasa sangat lelah, frustrasi, cemas, marah, dan penuh kebencian di dalam hati. Terkadang, saya benar-benar ingin memukul suami. Namun, tepat saat sifat keiblisan saya muncul, saya menyadari ada yang tidak beres dengan kondisi pikiran saya, lalu saya berkata pada diri sendiri, “Ini tidak pantas bagi seorang praktisi Dafa.” 

Guru mengatakan dalam Tanya Jawab Ceramah Fa di Guangzhou: 

“Segala kejadian semuanya punya hubungan sebab-akibat, bukan eksis secara kebetulan. Karena hal itu tidak diatur untuk anda, maka anda tidak akan mengalaminya. Apakah hal-hal itu ada hubungannya dengan Xiulian anda? Tidak ada kaitan apa pun dengan Xiulian anda, kami sebisanya tidak mengaturnya untuk anda.” (Tanya Jawab Ceramah Fa di Guangzhou, Zhuan Falun Fajie)

Ajaran Guru mengingatkan saya bahwa saya adalah seorang praktisi Dafa. Saya bertanya pada diri sendiri: Apa hubungan sebab-akibat antara diri saya dan penderitaan yang sedang saya hadapi? Bagaimana kaitannya dengan kultivasi saya? Keterikatan apa yang perlu saya lepaskan? 

Saya mulai mencari ke dalam dan merenungkan diri, lalu menyadari bahwa saya menyimpan kemarahan yang mendalam. Setiap kali sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan, saya akan mengeluh dan merasa kesal; kemarahan semacam ini memicu sifat keiblisan dalam diri saya, hingga muncul pikiran jahat untuk memukul suami. 

Saya terus mengingatkan diri sendiri, “Saya adalah seorang praktisi Dafa. Saya tidak boleh bersikap seperti ini.” Saya berpikir: Saat saya menjelaskan fakta kebenaran kepada orang lain untuk menyelamatkan mereka dari bahaya kehancuran, saya melakukannya dengan kebaikan dan belas kasih. Bukankah seharusnya saya menunjukkan kebaikan dan belas kasih yang sama kepada suami saat merawatnya? 

Sebagai seorang praktisi Dafa, saya harus mengukur perilaku saya berdasarkan prinsip-prinsip Fa, dan berkultivasi berdasarkan Fa saat menghadapi kesulitan. 

Di bawah bimbingan Fa, saya mulai merasa tenang dan damai, dan segalanya tiba-tiba menjadi jelas bagi saya. Hal-hal yang saya hargai dan sukai dari suami saya pun kembali teringat dengan jelas. 

Meskipun suami saya berhenti berkultivasi Dafa karena rasa takut, selama bertahun-tahun ini ia tetap mendukung saya dalam menjalani kultivasi Dafa

Karena saya pergi ke Beijing dua kali untuk memohon keadilan bagi Falun Gong, saya ditahan secara ilegal beberapa kali dan dikirim ke kamp kerja paksa sebanyak tiga kali. Selama setiap masa penahanan, pihak berwenang memaksa setiap praktisi Falun Gong untuk membayar 20 yuan per hari sebagai biaya hidup. Suami membayar uang pemerasan ini dari penghasilannya yang sangat kecil, yang diperolehnya dengan menjual sayuran hasil tanamannya sendiri. 

Suatu hari di bulan April 2000, saat keluarga saudari ipar kedua sedang menghadiri pemakaman, saya menjaga rumah mereka. Sekitar pukul 22.00, tiga petugas polisi setempat datang dan mengetuk pintu. 

Para petugas tersebut—yang sebelumnya telah minum-minum alkohol dalam jumlah banyak di rumah seorang kepala desa—menuduh bahwa saudari ipar kedua saya telah pergi ke Beijing untuk mengajukan permohonan kepada pihak berwenang. Mereka menuntut agar saya menyerahkan saudari ipar, dan mengancam akan menangkap saya jika saya gagal melakukannya. 

Mereka kemudian menendang pintu dengan kasar hingga terbuka dan menerobos masuk ke dalam rumah untuk menangkap saya. Suami saya bergegas datang setelah mendengar kabar tersebut. Ia berkata kepada polisi, “Tidak pantas bagi tiga petugas polisi pria untuk membawa pergi seorang wanita pada larut malam begini. Tunggu saja sampai besok.” 

Salah satu petugas maju, menempelkan senjatanya ke dada suami, lalu mengancam, “Anda menghalangi tugas resmi. Akan saya tembak mati Anda!” Mereka kemudian menyeret saya secara paksa ke kantor polisi, tempat saya ditahan secara ilegal selama 15 hari. 

Setelah dibebaskan, saya kembali pergi ke Beijing untuk mengajukan permohonan kepada pihak berwenang demi menuntut keadilan. Namun, saya dihadang, dibawa kembali secara paksa, dan ditahan secara ilegal di sebuah pusat penahanan selama beberapa bulan. 

Menjelang Tahun Baru Imlek, polisi, kader desa, serta pejabat pemerintah tingkat kota praja mendatangi rumah saya. Mereka menyita perangkat televisi, kipas angin listrik, blender, serta satu-satunya potongan daging babi awetan dan sekaleng lemak yang telah disimpan keluarga untuk perayaan Tahun Baru Imlek. 

Suami memohon kepada mereka agar meninggalkan daging babi yang telah diawetkan dan sekaleng lemak untuk kami, seraya menjelaskan bahwa hanya itulah persediaan yang kami simpan untuk perayaan Tahun Baru Imlek. Namun, permohonan suami saya diabaikan; mereka tetap membawa pergi semua barang yang telah mereka ambil. Akibatnya, suami dan putri kami yang masih kecil harus menjalani hari Tahun Baru Imlek dengan penuh kesedihan, ketakutan, serta kecemasan. 

Kemudian, saya dijatuhi hukuman secara tidak sah selama dua tahun di kamp kerja paksa. Di sana, saya mengalami berbagai bentuk penyiksaan karena menolak untuk melepaskan keyakinan saya pada Dafa. Saya tetap teguh dengan pikiran lurus dan menolak untuk “diubah” di dalam sarang kegelapan tersebut.

Ketika suami dan penduduk desa lainnya mendengar kabar ini, mereka sangat tersentuh oleh keberanian dan tekad saya yang tak tergoyahkan. 

Dua tahun kemudian, saat saya dibebaskan, suami merayakan kepulangan saya dengan menyalakan petasan serta menyiapkan beberapa meja yang penuh dengan makanan dan minuman untuk menjamu penduduk desa. 

Setelah itu, saya melakukan berbagai pekerjaan serabutan di kota—termasuk bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah pusat perbelanjaan—demi membiayai sekolah putri saya. Pihak kepolisian berulang kali mengganggu saya maupun tempat saya bekerja, yang menyebabkan saya kehilangan pekerjaan berkali-kali. Situasi sulit ini menambah beban finansial yang semakin berat bagi suami. 

Pada masa itu, akses transportasi di kampung halaman saya masih kurang memadai. Oleh karena itu, saya menyewa tempat tinggal di kota terdekat, yang memberi saya lebih banyak waktu untuk membantu Guru dalam menyelamatkan makhluk hidup. Saya mengerjakan apapun pekerjaan yang tersedia, seperti memasak, mengasuh anak, merawat lansia, hingga melakukan pekerjaan kebersihan. 

Saya mendatangi berbagai kota kecil pada hari pasar untuk menjelaskan fakta kebenaran kepada orang-orang demi menyelamatkan mereka, tanpa memedulikan biaya perjalanan. Terkadang, saya harus berganti bus hingga tiga kali untuk sampai ke suatu tempat, yang menghabiskan biaya puluhan yuan. 

Saya menjalani kehidupan yang sangat sederhana; rumah sewaan saya hanya berisi sedikit perabotan. Semua barang rumah tangga saya merupakan barang-barang bekas yang saya pungut. Saat lapar, saya bahkan merasa berat hati untuk mengeluarkan uang sekadar untuk membeli semangkuk mi. Akibatnya, hampir tidak ada uang yang bisa saya kirimkan ke rumah. 

Di tengah penganiayaan oleh PKT (Partai Komunis Tiongkok) yang jahat, keluarga dari para praktisi Dafa juga menanggung penderitaan yang luar biasa. Namun, adakah orang yang benar-benar memahami penderitaan yang mereka simpan jauh di dalam hati mereka? 

Tidak ada alasan bagi saya untuk bersikap tidak baik kepada suami. Selama bertahun-tahun saya bekerja serabutan di luar kota, ia senantiasa memberikan dukungan dan pengertian. Hal itu tentu tidak mudah baginya, dan saya patut bersyukur.

Ajaran Fa dari Guru membimbing saya untuk menghadapi berbagai ujian secara positif dengan pikiran lurus. Ketika kebaikan dan belas kasih muncul di dalam hati, saya tidak lagi merasakan kebencian atau dendam terhadap ujian sulit yang saya hadapi. Seiring dengan meningkatnya Xinxing (kualitas moral/watak) saya, taraf kondisi saya dalam berkultivasi pun turut meningkat. 

Menyangkal Penganiayaan Kekuatan Lama 

Penderitaan yang datang tiba-tiba, beban keuangan yang meningkat tajam, serta tekanan fisik dan emosional yang berat membuat saya benar-benar kelelahan untuk sementara waktu. Saya tidak memiliki waktu maupun energi untuk belajar Fa, dan hanya mampu membaca beberapa halaman Zhuan Falun setiap harinya, apalagi untuk pergi menyelamatkan makhluk hidup. 

Saya menyadari bahwa kondisi pikiran saya tidak tepat, lalu teringat akan ajaran Fa dari Guru: 

“Kekuatan lama telah mengatur seperangkat benda mereka bagi seluruh pengikut Dafa, jika pengikut Dafa berbuat tidak menuruti permintaan Shifu, maka pasti adalah sedang berbuat menuruti pengaturan kekuatan lama.” (Sadar dengan Jernih, Petunjuk Penting Gigih Maju III) 

“Tentu saja kita tidak mengakui segala sesuatu yang diatur oleh kekuatan lama, saya sebagai Shifu tidak mengakui, pengikut Dafa semua tentu saja tidak mengakui.” (Ceramah Fa pada Konferensi Fa Tahun 2004, Ceramah Fa di Berbagai Tempat 4) 

Saya berpikir: Pikiran suami saya sedang tidak jernih saat ia terus-menerus terbaring di tempat tidur, dan ia tanpa sengaja menimbulkan masalah-masalah tersebut bagi saya. Sebenarnya, ia sangat patut dikasihani. Adalah kekuatan lama yang menciptakan semua masalah itu untuk memperparah penderitaan yang ada. Kekuatan lama tidak hanya menganiaya suami, tetapi juga saya—menguras waktu, tenaga, dan sumber daya finansial saya—dengan tujuan menghalangi saya untuk pergi menyelamatkan orang-orang. 

Saya sama sekali tidak mengakui pengaturan mereka, dan saya menyangkal semuanya. Saya berada di bawah perlindungan Guru. Kekuatan lama tidak memiliki hak untuk mengganggu saya. 

Dengan mengikuti ajaran Guru, saya mulai memperlakukan suami dengan kebaikan dan belas kasih. Pada saat yang sama, saya lebih sering memancarkan pikiran lurus untuk melenyapkan roh-roh jahat dan iblis busuk yang berada di balik suami saya. 

Ketika saya meluruskan diri sendiri dan mulai melakukan hal-hal yang lurus berdasarkan pemahaman baru saya terhadap prinsip-prinsip Fa, terjadi perubahan yang luar biasa dan drastis dalam keluarga saya. 

Melepas Selang yang Terpasang di Lambung dan Saluran Pernapasan 

Suatu pagi, saya mendapati suami telah mencabut selang yang terpasang di lambungnya. Saya bingung harus berbuat apa dengan selang panjang berwarna gelap tersebut, jadi saya menelepon putri saya. Ia sangat khawatir, karena untuk mendapatkan selang pengganti, kami harus membawa suami ke rumah sakit yang letaknya cukup jauh. Perjalanan ke sana cukup sulit karena sebagian jalan dari desa kami masih berupa jalur pegunungan yang terjal dan tidak aman untuk dilalui mobil maupun bus. 

Saya dan rekan-rekan praktisi lainnya menyadari bahwa ini pastilah sebuah petunjuk dari Guru bahwa suami saya tidak lagi membutuhkan selang tersebut.

Saya memutuskan untuk tidak perlu mengganti selang itu, lalu mulai menyuapi suami bubur bernutrisi menggunakan sendok. Saya menyuapinya dengan sangat hati-hati agar ia tidak tersedak. Sembari menyuapi, saya juga melafalkan, “Falun Dafa Hao (Falun Dafa baik), Zhen-Shan-Ren Hao (Sejati-Baik-Sabar baik).” 

Saat sedang disuapi, ia tertidur. Saya membangunkannya dengan lembut lalu melanjutkan menyuapinya. Dalam waktu sekitar setengah jam, ia berhasil menghabiskan hampir setengah mangkuk bubur tanpa kendala apa pun. Sejak saat itu, ia sudah bisa makan dengan normal. 

Beberapa hari kemudian, saya dan beberapa rekan praktisi belajar Fa bersama suami saya. Kami membaca Fa, sementara ia mendengarkan. Tiba-tiba, ia terbatuk hingga kanula bagian dalam dari selang trakeostominya keluar, menyisakan bagian selang lain yang menonjol dari lubang tersebut. 

Kami memahami bahwa ini adalah petunjuk dari Guru bahwa sudah saatnya selang tersebut dilepas. 

Maka, saya melepas kanula bagian dalam maupun luar, mensterilkan area di sekitar lubang trakeostomi, lalu menutupnya dengan plester yang diberi bubuk Yunnan Baiyao. Beberapa hari kemudian, lubang tersebut menutup dan sembuh dengan sendirinya. 

Sebelumnya, jika saya mendengar suara berderik atau gemericik dari selang trakeostomi suami—yang menandakan adanya penumpukan lendir di saluran pernapasannya—saya akan segera menyedot keluar lendir tersebut. Kini, setelah selang trakeostomi dilepas, ia tidak lagi batuk, dan kondisinya telah kembali normal. 

Saat dokter bertanya kepada saya, “Bagaimana anda berani melepas selang itu sendiri?” 

Saya menjawab, “Saya tidak terlalu memikirkannya, saya langsung saja melakukannya.” Sejujurnya, dalam hati saya tahu bahwa Guru berada tepat di samping kami untuk melindungi kami. Saya juga meminta suami untuk diam-diam melafalkan “Falun Dafa baik, Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar) baik” bersama saya, sampai akhirnya saya berhasil melepas selang-selang tersebut. 

Kemudian, saya menyemangati suami untuk bangkit dari tempat tidur, dan membantunya duduk dengan hati-hati agar ia bisa mendengarkan ceramah Fa Guru. Tak lama berselang, suami saya—yang menurut dokter tidak akan bertahan lebih dari sepuluh hari—sudah mampu bangkit dan makan sendiri. Bahkan, hanya berselang dua puluh hari lebih sedikit setelah dibawa pulang dari rumah sakit, ia sudah bisa bekerja di ladang. 

Beban berat yang selama ini saya pikul pun terangkat, sehingga saya kembali memiliki waktu dan energi untuk menjalankan tiga hal dengan baik. Terima kasih, Guru! 

Yang lebih luar biasa lagi, suami saya kini belajar Fa bersama saya. Meskipun ia masih baru dan perlu mengejar ketertinggalan, ia telah menjalin kembali hubungan takdirnya dengan Dafa.

Kini, suami saya sering mendengarkan dan menonton materi audio serta video yang menjelaskan fakta kebenaran tentang Dafa. Ia juga meluangkan lebih banyak waktu untuk belajar Fa. 

Berat badannya kini kembali normal, kulitnya halus, dan wajahnya tampak sehat serta bersemu merah. Meski tidak banyak bicara, ia selalu menyapa setiap orang dengan senyuman hangat. 

Sekarang, setiap hari saya pergi ke pasar untuk menjelaskan fakta kebenaran kepada orang-orang dan mengajak mereka untuk mundur dari organisasi-organisasi PKT. Suami pun sudah bisa memasak untuk dirinya sendiri tanpa kendala apa pun.

Suami saya telah berhenti mengonsumsi obat epilepsi yang seharusnya ia minum seumur hidup. Kini sudah dua bulan berlalu, dan ia sama sekali tidak mengalami kejang epilepsi. 

Mukjizat selamatnya suami saya dari kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya tidak hanya menunjukkan keampuhan Dafa, tetapi juga menyingkap keajaiban dan keindahan Dafa yang terpancar dari peningkatan kultivasi para pengikut Dafa.

Jalan yang ditunjukkan oleh Dafa kepada kita sungguh sangat cerah. Selama kita terus berkultivasi berdasarkan Fa, kita akan mampu melewati segala kesengsaraan dan ujian, serta pada akhirnya mencapai kesempurnaan. 

Tidak ada bahasa di dunia manusia yang mampu mengungkapkan rasa terima kasih saya yang mendalam kepada Guru. Saya bertekad untuk terus menjalankan tiga hal dengan baik demi memenuhi sumpah prasejarah saya dan agar layak menerima penyelamatan penuh belas kasih dari Guru. 

Terima kasih, Guru! 

(Artikel terpilih untuk Konferensi Fa Tiongkok ke-23 di Minghui.org)