(Minghui.org) Setelah mulai berlatih Falun Dafa, tubuh dan pikiran saya berubah. Saya benar-benar menyaksikan keindahan Dafa dan merasakan kebahagiaan serta kegembiraan berkultivasi! Saya berusaha mengikuti prinsip Zhen, Shan, Ren (Sejati, Baik, Sabar). Ketika menghadapi konflik, saya mencari ke dalam dan mengutamakan orang lain. Apa pun situasinya, saya hanya melihat sisi baik orang lain.

Menantu Perempuan Saya

Pacar putra saya pendiam dan tertutup, tetapi setelah mereka menikah, perilakunya berubah. Setelah melahirkan putrinya, dia berhenti memanggil saya "Ibu," dan akhirnya berhenti berbicara dengan saya. Ketika saya tidak sengaja menjatuhkan papan di samping tempat tidur cucu perempuan saya, dia membentak saya. Saya terkejut. Dia menelepon orang tuanya tetapi saya menahan diri dan tidak membantah. Sepertinya dia ingin saya keluar dari rumah, yang menjelaskan mengapa dia marah.

Menantu perempuan saya mencoba menjual rumah saya dua kali. Suatu malam, dia tiba-tiba muncul di rumah saya, berdiri di depan pintu, dan membentak saya. Saya tidak melawan. Saya pikir jika dia benar-benar membutuhkan rumah saya, saya akan memberikannya. Lagipula, uang hanyalah harta benda. Jadi saya memberinya rumah saya, dan dia mengambil semua uang hasil penjualan. Saya pindah ke rumah kecilnya, tetapi saya tidak membencinya karena saya memiliki Guru dan Dafa. Saya memiliki Dafa universal yang paling mulia, sebuah harta karun bagi seluruh umat manusia. Setelah mulai berlatih Falun Dafa, kesehatan saya membaik. Saya tidak lagi membutuhkan suntikan atau obat-obatan. Ini adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan uang sebanyak apa pun. Saya benar-benar orang paling bahagia di dunia.

Hanya Mengingat Kebaikannya

Karena saya berlatih Falun Dafa, dan Partai Komunis Tiongkok (PKT) masih menganiaya kami, menantu perempuan saya, karena takut dia akan terlibat, mencoba memaksa saya pergi ke kantor polisi tiga kali untuk bekerja sama dengan mereka ketika mereka melecehkan saya. Saya mengatakan kepadanya, "Kultivasi saya tidak ada hubungannya dengan kamu. Saya tidak akan pergi!" Namun sebagai seorang praktisi Dafa, saya harus berpegang teguh pada standar Dafa. Saya harus toleran dan tidak membenci menantu perempuan saya. Saya terus merawatnya dan memperlakukannya dengan baik, seolah-olah dia adalah putri saya sendiri. Saya hanya mengingat kebaikannya. Mengenai perilaku negatifnya, saya menganggapnya sebagai utang saya dari kehidupan lampau—saya telah membayarnya di kehidupan ini.

Jika saya tidak berlatih Falun Dafa, saya tidak akan menoleransi perilakunya dan saya akan bertengkar dengannya. Dulu saya tidak toleran dan keras kepala. Ketika orang lain mengkritik saya, saya akan menyimpan dendam seumur hidup, dan tidak akan pernah berbicara dengan mereka lagi.

Karena saya berlatih Falun Dafa, saya menjadi lebih toleran. Saya terus-menerus mengultivasi Xinxing saya melalui Falun Dafa dan saya tidak lagi peduli bagaimana dia memperlakukan saya. Ketika praktisi menunjukkan kebaikan, mereka juga menyebarkan Dafa, memungkinkan orang-orang melihat keindahan Dafa.

Memperlakukan Menantu Perempuan Saya Seperti Putri Saya

Tahun lalu, saya meminta menantu perempuan saya untuk membantu memasang koneksi internet saya. Dia menjawab, “Saya tidak bisa melakukannya besok, tapi lusa.” Keesokan harinya, dia datang, tetapi saya tidak ada di rumah. Hari berikutnya, pembantunya datang, tetapi dia tidak ada di sana.

Pada hari yang sama, cucu perempuan saya meminta sayap ayam, dan saya membuatkan untuknya. Ketika menantu perempuan saya tidak datang untuk mengambilnya, saya menelepon dan menawarkan untuk mengantarkannya. Dia berkata, "Saya tidak punya waktu." Saya mengatakan kepadanya bahwa saya akan mengantarkannya besok. Kemudian dia tiba-tiba berteriak, "Saya tidak punya waktu, jadi ibu tidak perlu datang!"

Saya merasa sangat bersalah hingga tak kuasa menahan tangis. Saya berpikir, "Mengapa kamu memperlakukan saya seperti ini?" Saya mengingatkan diri sendiri bahwa saya adalah seorang praktisi Dafa dan harus mengikuti ajaran Guru dan berperilaku sesuai dengan tuntutan Dafa. Saya menyadari bahwa saya harus lebih belas kasih terhadap menantu perempuan saya. Begitu pikiran ini muncul, saya berhenti merasa diperlakukan tidak adil. Saya diam-diam melafalkan sebaris puisi Guru, “Mengalami penderitaan dianggap bahagia.(“Derita Pikiran dan Hatinya” Hong Yin I)

Saya tersenyum. Bukankah ini hal yang baik? Menantu perempuan saya membantu saya melenyapkan pikiran buruk saya. Saya sungguh berterima kasih padanya!

Kultivasi Dafa didasarkan pada prinsip Zhen, Shan, Ren (Sejati, Baik, Sabar). Meskipun saya tidak dapat mengubah orang lain, saya dapat fokus mengubah diri sendiri dan meningkatkan taraf kondisi saya. Saya berusaha untuk bersikap pengertian—saya mengingatkan diri sendiri bahwa menantu perempuan saya adalah manusia biasa, anak tunggal, dan seseorang dengan kepribadian yang kuat. Sebagai seorang praktisi, saya harus menghadapi kesulitan dengan sikap positif, menjaga pola pikir yang damai, menghindari pertengkaran, dan menanggapinya dengan memaafkan dan kebaikan. Ketika konflik muncul, saya harus mengenali kesalahan saya sendiri dan fokus pada kultivasi diri. Melepaskan pikiran buruk membawa saya pada kebahagiaan sejati.

Saya melepaskan keterikatan saya, dan tak lama kemudian, menantu perempuan saya datang dan mengambil sayap ayam. Saya dengan senang hati memberikannya kepadanya dan berkata, "Beri tahu saya jika kamu mau lagi." Saya mengingatkan diri sendiri bahwa praktisi harus belas kasih dan menghadapi segala sesuatu dengan sikap riang. Saya harus selalu menggunakan Zhen, Shan, Ren (Sejati, Baik, Sabar) untuk mengendalikan kata-kata dan tindakan saya dengan ketat, serta menyingkirkan pikiran-pikiran negatif saya.

Menjelang liburan Tahun Baru Imlek, saya memberi tahu menantu perempuan saya bahwa saya ingin membeli meja samping tempat tidur. Dia berkata, "Saya akan mengantar ibu dan membantu membawanya." Saya bertanya apakah dia punya waktu. Dia mengatakan dia bisa pergi minggu depan. Saya senang. Namun, setelah seminggu menunggu, dia masih belum datang. Saya pikir karena dia sudah tidak bekerja lagi, seharusnya dia punya waktu. Jika dia tidak datang, saya akan membelinya sendiri. Tetapi ketika saya sampai di mal, tokonya tutup. Saya merasa kecewa, dan menyalahkan menantu perempuan saya karena telah membuang-buang waktu saya.

Saya mencari ke dalam, dan bertanya pada diri sendiri mengapa ini terjadi. Saya menyadari itu karena saya memendam rasa kebencian. Setelah mengenali akar masalahnya, saya menyangkal kebencian itu dan melenyapkannya. Saya perlu mempertimbangkan orang lain. Mungkin menantu perempuan saya sedang sibuk. Saya melepaskan keterikatan saya.

Menantu Perempuan Saya Berubah

Saat liburan Tahun Baru Imlek, keluarga putra saya datang untuk makan malam, dan saya menyiapkan meja yang penuh dengan makanan lezat. Menantu perempuan saya senang karena saya tidak menyinggung meja samping tempat tidur dan tidak marah padanya, jadi dia merasa senang. Setelah makan malam, dia mengemas semua hidangan favoritnya, beserta beberapa permen dan buah untuk dibawa pulang. Pada hari ke-15 tahun baru, keluarga putra saya berkunjung lagi untuk makan malam, dan menantu perempuan saya berkata dengan malu-malu, "Bu, ibu berencana membeli meja samping tempat tidur sebelum liburan, dan saya tidak datang untuk membantu ibu." Saya menatapnya, tersenyum, dan mengatakan kepadanya bahwa itu tidak masalah.

Falun Dafa mengubah saya dari orang yang berpikiran sempit menjadi seseorang yang peduli terhadap orang lain. Falun Dafa mengajari saya cara menyelesaikan konflik dan memperlakukan orang lain dengan baik. Bagi praktisi, tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Menantu perempuan saya membantu saya melenyapkan karma yang telah saya kumpulkan selama banyak kehidupan, dan saya seharusnya berterima kasih padanya. Memikirkan hal ini, hati saya terasa lapang.

Saya selalu mengutamakan Fa dan memprioritaskan membantu Guru menyelamatkan orang-orang. Saya berusaha sebaik mungkin untuk membantu menantu perempuan saya kapan pun dia membutuhkannya, tanpa pernah mengkhawatirkan kerugian atau kepentingan pribadi. Saya sering berpesan kepada putra dan kerabat saya, "Meskipun kalian tidak berlatih Dafa, kalian harus tetap hidup sesuai prinsip Zhen, Shan, Ren (Sejati, Baik, Sabar), tulus, toleran ketika menghadapi masalah, dan memperlakukan orang lain dengan baik."

Ibu menantu perempuan saya telah membantu putrinya merawat anaknya dan memasak untuk keluarga. Tahun lalu, ketika kakek-nenek menantu perempuan saya sakit dan membutuhkan perawatan ibunya, saya mengundang menantu perempuan saya ke rumah untuk makan malam setiap hari setelah pulang kerja. Hal ini memungkinkannya untuk menikmati makanan rumahan, dan juga membawa pulang sisa makanan, buah, dan sayuran. Semua orang cukup senang dengan pengaturan ini. Saya juga memperhatikan menantu perempuan saya menunjukkan lebih banyak perhatian kepada saya. Sebelumnya dia tidak mencuci piring, tetapi sekarang dia mencucinya setelah makan malam.

Setelah seminggu makan malam di rumah saya, menantu perempuan saya berkata, “Bu, kami tidak akan makan malam besok. Ibu pasti lelah memasak akhir-akhir ini. Ibu sebaiknya istirahat dulu.” Saya mengatakan tidak apa-apa. Dia menjawab, “Ibu sudah 70 tahun dan ibu masih memasak untuk kami. Seharusnya kami yang memasak dan merawat ibu.” Saya senang melihat dia sekarang mulai mempertimbangkan orang lain.

Tahun lalu, pada Hari Anak, menantu perempuan saya dan temannya mengajak anak-anak mereka bermain, dan saya mengundang mereka kembali ke rumah untuk makan malam. Ketika makanan sudah siap, menantu perempuan saya menelepon dan bertanya, “Teman saya dan cucu bibinya juga akan datang untuk makan malam. Bolehkah?” Saya mengatakan tidak apa-apa, karena saya selalu membuat lebih agar mereka bisa membawa pulang setelah makan malam. Semua orang senang ketika menantu perempuan saya dan teman-temannya datang.

Temannya memuji masakan saya dan berkata, “Ibu mertuamu sangat baik!” Mereka melihat langsung bahwa seorang ibu mertua yang berlatih Falun Dafa sungguh berbeda.

Ibu menantu perempuan saya dulu menentang saya berlatih Falun Dafa. Namun, setelah menyaksikan kebaikan saya, baik dalam hal besar maupun kecil, dalam kehidupan sehari-hari, dia mulai menyadari nilai Dafa dan memuji saya, sambil berkata, “Kamu sangat baik! Kamu memiliki kepribadian yang luar biasa!”

Saya menjawab, “Jika saya tidak berlatih Dafa, saya tidak akan bisa melakukan ini.” “Ini hanya mungkin karena saya berlatih Falun Dafa. Falun Dafa telah mengubah saya, memungkinkan saya untuk benar-benar mempertimbangkan orang lain, memperlakukan mereka dengan baik, dan menjadi lebih toleran dalam menghadapi kesulitan.” Ibu menantu perempuan saya sekarang juga senang membaca materi klarifikasi fakta dan sering mengingatkan saya untuk selalu berhati-hati.

Saya sungguh yakin bahwa semua ini berkat Guru. Tanpa berlatih Falun Dafa, saya tidak mungkin mencapai kondisi pikiran ini, dan hati saya pun tidak akan seluas ini.