(Minghui.org) Shang Yang (390–338 SM) adalah seorang kanselir yang melayani Adipati Xiao dari Negara Qin pada periode Negara-Negara Berperang. Dalam bab “Kritik terhadap Shang Yang” dalam buku Diskusi tentang Garam dan Besi (盐铁论), eksekusi Shang Yang digambarkan sebagai “Kematian orang itu disebabkan oleh dirinya sendiri, bukan orang lain penyebabnya.”

Selama berkuasa, Shang Yang memberlakukan banyak hukum brutal dan hukuman berat. Hukuman kolektif yang tidak adil dan penindasan berdarah adalah hal yang umum. Shang Yang pernah memerintahkan eksekusi lebih dari 700 orang dalam satu hari. Akibatnya, Sungai Wei berubah merah pada hari itu, dan tangisan yang menyakitkan dapat terdengar dari jauh. Dia mengubah negara Qin menjadi penjara raksasa. Orang-orang di jalan sering terlihat dengan kata-kata yang ditato di wajah mereka atau dengan hidung yang dipotong. Kedua hukuman tersebut digunakan untuk mempermalukan para pelanggar secara permanen. Shang Yang bangga dengan pencapaiannya dan percaya bahwa ia telah menjadikan Qin sebagai negara yang kuat.

Ketika Adipati Xiao meninggal pada tahun 338 SM, Raja Huiwen mengambil alih kekuasaan. Seseorang menuduh Shang Yang merencanakan pemberontakan, sehingga Raja Huiwen memerintahkan penangkapannya. Shang Yang mencoba melarikan diri, tetapi tidak ada yang berani melindunginya, karena takut akan konsekuensinya. Ia akhirnya ditangkap. Raja Huiwen memerintahkan agar tubuhnya dipotong-potong di depan umum menggunakan lima kereta perang. Setelah ia meninggal, rakyat Qin berebut untuk memakan dagingnya, bernyanyi dan menari di jalanan, dan merasakan kelegaan yang luar biasa. Orang-orang di negara lain juga bersorak dan merayakan berita tersebut.

Hukum brutal yang diberlakukan Shang Yang menyebabkan kematiannya. Lebih dari 2.000 tahun kemudian, kita masih melihat orang-orang memberlakukan aturan keras untuk mengendalikan orang lain. Nasib mereka tidak akan berbeda dengan Shang Yang. Berikut adalah salah satu dari banyak contohnya.

Zhao Yusuo adalah mantan kepala Divisi Re-edukasi Kerja Paksa di Kota Baoding, Provinsi Hebei, Tiongkok. Ia mengirim lebih dari 500 praktisi Falun Dafa ke kamp kerja paksa. Falun Dafa adalah latihan spiritual yang dianiaya di Tiongkok sejak Juli 1999. Tak terhitung banyaknya praktisi yang disiksa di kamp-kamp tersebut dan meninggal akibatnya. Pada 11 Agustus 2010, Zhao dan dua orang lainnya sedang berkendara ke Kabupaten Fuping untuk bertukar pikiran tentang cara menganiaya dan menahan praktisi Falun Dafa. Mobil mereka keluar jalur di jalan raya, dan Zhao tewas seketika. Seorang petugas polisi di pemakamannya berkata, “Ia menghancurkan keluarga, dan pantas mati.”

Ratusan praktisi yang dipenjara menderita penyiksaan, dan orang tua, pasangan, dan keluarga mereka terus-menerus khawatir dan berduka. Anak-anak mereka hidup dalam kemiskinan atau menjadi yatim piatu—semua karena tindakan Zhao. Ia adalah Shang Yang modern; sosok yang menakutkan dan jahat yang memicu tragedi. Kematiannya diakibatkan oleh dosa-dosanya yang luar biasa, dan karenanya “Kematian orang itu disebabkan oleh dirinya sendiri, bukan orang lain penyebabnya.”

Kisah Shang Yang dan Zhao menunjukkan bahwa mereka yang menyalahgunakan kekuasaan mereka untuk menindas orang lain akan menghadapi konsekuensi yang sesuai. Oleh karena itu, berpartisipasi dalam penganiayaan merugikan diri sendiri dan orang lain. Kita perlu menghormati orang lain dan keyakinan mereka yang benar untuk menghindari akibat seperti itu.