(Minghui.org) Catatan editor: Ini adalah kisah pribadi seorang praktisi Falun Gong tentang apa yang dialaminya karena mempertahankan keyakinannya. Ia dijatuhi hukuman empat setengah tahun pada tahun 2014 dan dipecat dari pekerjaannya pada tahun 2015. Biro jaminan sosial menghapus catatan pengabdiannya selama 30 tahun dari rekening pensiunnya.
Ia dijatuhi hukuman tambahan tiga setengah tahun pada bulan Desember 2022 dan dimasukkan ke Penjara Wanita Provinsi Sichuan di Distrik Longquanyi, Kota Chengdu, di mana ia mengalami berbagai bentuk penyiksaan. Ia mengalami patah pergelangan tangan kiri pada tanggal 19 November 2024, ketika tersandung dan jatuh saat terburu-buru menyelesaikan suatu kegiatan. Ia baru-baru ini dibebaskan, hanya untuk kemudian ditempatkan di bawah pengawasan selama lima tahun. Ia tidak diizinkan untuk mengajukan subsidi berpenghasilan rendah atau menerima tunjangan pensiun. Tangan kirinya yang cacat sangat lemah sehingga ia tidak dapat mengangkat panci kecil.
Ditempatkan Di Bawah Pengawasan Selama 5 tahun Setelah Menjalankan Masa Hukuman Penjara Kedua.
Pada hari selesai menjalankan masa hukuman penjara 3,5 tahun, kepala bagian pendidikan Liao Qiongfang membawa saya ke sebuah kantor untuk bertemu dengan empat orang dari komite jalan setempat. Salah satu dari mereka, yang bernama Huang, memerintahkan saya untuk menandatangani beberapa pernyataan untuk berhenti berlatih Falun Gong.
Saya menolak untuk menuruti perintah, jadi Liao menginstruksikan keempat orang yang ada di sana untuk mengawasi saya dengan ketat. Ia memberi tahu mereka bahwa pergelangan tangan kiri saya yang patah belum sembuh dan saya tidak memiliki sumber penghasilan.
Dalam perjalanan kembali ke kantor komite jalan, Huang menjanjikan saya berbagai macam subsidi jika saya meninggalkan keyakinan spiritual saya. Saya mengatakan saya tidak akan melakukannya karena tidak ada hukum di Tiongkok yang mengkriminalisasi Falun Gong. Ia mengancam bahkan tidak akan mengizinkan saya bercocok tanam ketika saya kembali ke kampung halaman untuk menghidupi diri sendiri.
Di kantor komite, Huang dan sekretaris Du membawa saya ke departemen kehakiman untuk memberikan keterangan. Mereka menempatkan saya di bawah pengawasan [tanpa perintah pengadilan] selama lima tahun sebelum mereka melepaskan saya.
Seminggu kemudian, Huang membawa wakil kepala polisi Lu ke kantor komite jalan, tempat saya melakukan pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka memerintahkan saya untuk memindahkan pendaftaran rumah tangga saya ke distrik lain agar mereka tidak perlu memantau saya. Seseorang bernama Wang mengambil foto saya saat saya lengah.
Mereka meminta nomor telepon dan alamat rumah saya, yang saya tolak untuk berikan, sehingga mereka tidak lagi mengizinkan saya melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil yang diatur oleh komite jalan.
Saya kemudian pergi ke departemen kehakiman untuk menanyakan mengapa mereka menempatkan saya di bawah pengawasan selama lima tahun pada hal saya sudah menjalankan hukuman penjara. Pimpinan Chen tidak dapat memberikan jawaban.
Biro jaminan sosial mengatakan bahwa saya harus membayar iuran selama 15 tahun agar memenuhi syarat untuk mendapatkan tunjangan pensiun lagi, karena mereka telah lama menghapus catatan pengabdian saya selama 30 tahun. Saya tidak memiliki pekerjaan, apalagi dana untuk membayar iuran tersebut. Saya mendengar tentang jenis subsidi baru, “subsidi jaminan sosial 4050,” tetapi saya mengetahui bahwa saya tidak memenuhi syarat untuk mengajukan permohonan.
Saya tidak menyangka akan menghadapi penganiayaan finansial seperti ini setelah menjalani hukuman penjara kedua. Saya ingin membagikan pengalaman saya di penjara untuk memberikan kesaksian lebih lanjut melawan rezim komunis yang menargetkan warga negara yang taat hukum hanya karena mereka berlatih Falun Gong.
I. Pengawasan Ketat
1. Dipantau Sepanjang Waktu
Saya dijatuhi hukuman 3,5 tahun pada Desember 2022 karena mendistribusikan materi Falun Gong. Saya dimasukkan ke Penjara Wanita Provinsi Sichuan pada tanggal 31 Agustus 2023. Mungkin karena ini adalah hukuman penjara kedua, saya tidak ditempatkan di kelompok narapidana baru—melainkan langsung ditugaskan ke divisi lima dengan pengawasan ketat.
Dua narapidana diperintahkan untuk mengawasi saya sepanjang waktu. Salah satunya adalah Long Qingmei, seorang pelanggar hukum serius dengan gelar universitas yang dihukum karena menggelapkan dana asuransi kesehatan. Yang lainnya adalah Huang Xiaoyan, yang memiliki ijazah sekolah kejuruan dan dihukum karena perdagangan narkoba.
Saya ditahan di sel isolasi 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan harus makan, tidur, dan buang air di sana. Long dan Huang memaksa saya menonton video dan mendengarkan rekaman audio yang memfitnah Falun Gong dan pendirinya setiap hari. Mereka menaikkan volume hingga maksimal, menyebabkan ketidaknyamanan yang luar biasa pada otak, jantung, dan setiap sel dalam tubuh saya. Mereka berteriak kepada saya bahwa semua praktisi harus “bertransformasi”.
2. Kebutuhan Sehari-hari yang Ditolak
Saya tidak membawa kebutuhan sehari-hari apa pun ketika dimasukkan ke penjara. Saya tidak punya handuk, sikat gigi, pasta gigi, sabun pencuci piring, sampo, sabun mandi, tisu toilet, atau gantungan baju. Para penjaga tidak memberi saya apa pun dan menolak untuk membiarkan saya membeli atau meminjam apa pun. Saya meminta kertas dan pena untuk menulis surat protes, tetapi permintaan saya ditolak. Long dan Huang tidak mengizinkan saya bertemu dengan kepala penjara untuk mengajukan keluhan.
Pihak penjara menyebut perlakuan mereka terhadap saya sebagai “gaya hidup khusus.” Mereka mengatakan bahwa kondisi kehidupan saya hanya akan membaik jika meninggalkan Falun Gong.
3. Pembatasan Tidur
Narapidana biasa diperbolehkan tidur pada pukul 21.30, tetapi praktisi Falun Gong yang berada di bawah pengawasan ketat harus menunggu hingga pukul 23.00. Para narapidana diperbolehkan tidur siang selama 30 menit pada siang hari selama musim panas, tetapi para praktisi sama sekali tidak mendapat istirahat siang.
Saya harus meminta izin sebelum bisa menggunakan kamar mandi atau toilet. Saya harus mengatakan, “Saya penjahat anu, dan saya meminta izin [untuk melakukan aktivitas tertentu].”
4. Penyiksaan Fisik
Saya dipaksa duduk dalam posisi militer di atas bangku bundar kecil setinggi 20 sentimeter (delapan inci) dan berdiameter 20 sentimeter. Setelah duduk dalam waktu lama, saya merasa sangat tidak nyaman dan timbul luka di pantat saya. Pada kesempatan lain, saya dipaksa berdiri atau berjongkok selama berjam-jam. Tanpa izin dari pengawas, saya tidak boleh bergerak. Saya pingsan beberapa kali selama penyiksaan duduk, berdiri, dan berjongkok, yang oleh para penjaga disebut “latihan.” Penyiksaan ini tidak menyebabkan luka luar tetapi sangat kejam.
Saya tahu bahwa praktisi lain juga mengalami perlakuan buruk yang serupa. Zhang Xunju (wanita) berusia 60-an, yang dibebaskan sebelum saya, dan Xie Zicheng (wanita), 74 tahun, dipaksa berdiri dalam posisi militer selama tiga hari tanpa tidur. Peng Huanying (wanita), seorang ahli statistik pemerintah yang menjalani hukuman empat tahun, tetap teguh pada keyakinannya meskipun mengalami perlakuan buruk dan diperlakukan sebagai pasien sakit jiwa meskipun ia tidak berpenyakit jiwa. Pengawasnya selalu mengurungnya di sel dan memaksanya minum pil yang tidak diketahui jenisnya dalam jangka waktu lama. Akibatnya, ia mengalami gangguan mental dan akan bangun di tengah malam dan mondar-mandir. Teman satu selnya mengejek dan mengolok-oloknya. Ketika saya dibawa ke rumah sakit penjara karena pergelangan tangan kiri saya patah, saya melihatnya tepat setelah ia dibebaskan dari departemen psikiatri.
II. Proses Pencucian Otak
Untuk mencapai tingkat “transformasi” 100%, bagian pendidikan merancang proses cuci otak yang teliti mulai dari masuk penjara hingga pembebasan. Selama minggu pertama setelah seorang praktisi masuk penjara, ia harus belajar materi propaganda yang memfitnah Falun Gong dan pendirinya. Ia juga diperintahkan untuk menandatangani empat pernyataan yang telah disiapkan sebelumnya untuk menolak dan mengecam Falun Gong pada akhir minggu pertama. Setelah itu, ia diinstruksikan untuk menulis laporan pemikiran mingguan. Dua bulan kemudian, ia harus mampu menulis pernyataan untuk menyerang Falun Gong sendiri, bukan menggunakan format pernyataan yang ada. Pihak penjara kemudian akan mengevaluasi kemajuan “transformasinya”. Ia kemudian harus mengikuti ujian yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang memfitnah Falun Gong. Setelah itu, ia harus “belajar” selama sebulan untuk penguatan. Sebelum dibebaskan, ia harus menghabiskan bulan terakhirnya di penjara untuk belajar materi-materi yang memfitnah lagi. Ia kemudian diperintahkan untuk menandatangani keempat pernyataan tersebut sebelum dibebaskan.
1. Laporan Pemikiran
Penjaga Chen Jing sering menyuruh saya menulis ulang laporan pemikiran saya yang dianggapnya tidak memuaskan. Ia juga menegur pengawas Huang karena mengizinkan saya mengirimkan laporan-laporan tersebut. Huang kemudian menulis beberapa laporan sendiri untuk menyerang Falun Gong dan memaksa saya untuk membubuhkan sidik jari pada laporan-laporan tersebut. Liao mengumpulkan laporan-laporan ini dan menerbitkannya dalam sebuah buku.
2. Evaluasi
Setelah dua bulan pertama pencucian otak secara intensif, para praktisi dievaluasi berdasarkan kemajuan transformasi mereka. Para pengawas melakukan evaluasi simulasi untuk memastikan bahwa para praktisi tahu bagaimana menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Para penjaga memperingatkan kami untuk tidak menyimpang dari jawaban yang telah dilatih.
Liao mengawasi evaluasi ini secara pribadi. Ia sering memerintahkan para praktisi untuk membacakan pernyataan penolakan mereka di depan semua orang sementara ia merekam semuanya dengan video dan audio. Ia juga menghujani para praktisi dengan pertanyaan, seperti: “Apakah kamu sendiri yang menandatangani keempat pernyataan itu? Apakah kamu sendiri yang menulis pernyataan kritik itu? Kamu buta huruf [atau “Kamu hanya memiliki pendidikan sekolah dasar”]. Bagaimana Kamu bisa menulis artikel kritik yang begitu panjang dan mendalam? Apakah Falun Gong sebuah ajaran sesat? Apakah Guru Li kamu seorang penipu? Bagaimana ia menipu kamu? Apakah ia manusia atau dewa? Kamu tidak 'berubah' selama bertahun-tahun, mengapa kamu 'berubah' begitu cepat setelah dipenjara? Apa yang mendorong kamu untuk mengubah pikiran kamu begitu cepat dan menyadari bahwa Falun Gong adalah ajaran sesat? Apakah kamu menyesal telah 'berubah'? Apakah kamu takut akan pembalasan karena mengutuk guru kamu dan Falun Gong? Mengapa kamu tidak takut akan pembalasan? Apakah kamu akan terus berlatih setelah dibebaskan? Apa yang akan kamu lakukan jika rekan praktisi datang mencari kamu?”
Jika praktisi tersebut tidak memberikan jawaban yang memuaskan, Liao menyatakan bahwa ia gagal dalam evaluasi dan harus dikenakan perlakuan kejam dan pencucian otak yang sama seperti yang dialaminya selama dua bulan pertama penahanannya. Para pengawas sering kali memperburuk kehidupan praktisi tersebut. Mereka menempelkan gambar pendiri Falun Gong di pakaian dalamnya, di kepalanya, di bawah kakinya, di punggung, dada, atau lututnya, atau di bawah seprainya. Hal ini biasanya menyebabkan praktisi tersebut mengalami tekanan mental yang luar biasa.
3. Menyerah Di Bawah Tekanan tetapi Saya Membatalkan Pernyataan Saya
Di bawah tekanan yang besar sekali, saya menandatangani empat pernyataan itu dengan enggan pada minggu pertama saya dipenjara. Penjaga Chen akhirnya memberi saya kain lap badan, gelas kumur, sikat gigi, dan pasta gigi. Pengawas Long memberi saya satu gulungan tisu toilet tetapi mengancam akan mengambilnya kembali jika saya “bertingkah buruk.”
Sepuluh hari kemudian, ketika penjaga Chen berbicara dengan saya, saya mengatakan bahwa saya membatalkan pernyataan yang dipaksa untuk saya tandatangani dan menyatakan niat saya untuk mengajukan permohonan agar hukuman penjara saya dipertimbangkan kembali. Ia menjawab, “Jelas sekali kamu tidak belajar dengan baik dan perlu bergabung dengan kelompok pemantauan bersama [akan dibahas kemudian].”
4. Penyiksaan Mental dan Fisik
Karena teguh pada keyakinan saya, pengawas Huang dan Long memaksa saya untuk berjongkok, berdiri, atau duduk di depan televisi yang volumenya disetel maksimal untuk memutar video yang memfitnah Falun Gong. Mereka juga menaruh foto Guru Li di bawah seprai saya.
Saya tidak gentar, dan para penjaga menegur para pengawas. Mereka kemudian membalas dengan menyerang saya. Long mengancam akan mengambil kembali tisu toilet yang ia berikan. Saya melakukan mogok makan selama tiga hari sebagai protes. Mereka kembali memaksa saya untuk tetap dalam posisi yang sama selama berjam-jam. Saya tidak tahan lagi dan bergerak. Mereka menendang saya dari belakang, memaksa saya untuk jongkok atau duduk. Mereka juga mengangkat lengan saya untuk menarik saya berdiri ketika saya menentang perintah mereka. Saya pingsan beberapa kali, dan mereka menuduh saya berpura-pura.
Mereka memaksa saya untuk menjawab pertanyaan yang memfitnah Falun Gong. Saya tidak menjawab sesuai keinginan mereka, jadi mereka memerintahkan saya untuk mengulang semuanya. Saya mengalami penderitaan mental dan fisik yang luar biasa.
5. Pencucian Otak yang Berlanjut
Setelah akhirnya saya dijadikan “narapidana yang memuaskan” tanpa kehendak saya, saya ditugaskan untuk melakukan kerja paksa setiap hari. Tetapi itu bukanlah akhir dari pencucian otak. Kami semua praktisi dikumpulkan setiap Selasa sore untuk belajar materi yang memfitnah Falun Gong dan kemudian mengerjakan “pekerjaan rumah.” Kami harus menulis laporan pemikiran setiap bulan sampai hari kami dibebaskan.
Dua minggu sebelum dibebaskan, saya diperintahkan untuk menulis ulang, dengan kata-kata saya sendiri, empat pernyataan yang harus saya tandatangani ketika masuk penjara. Para penjaga juga mencoba membuat saya mengikuti tes evaluasi lagi. Saya dengan tegas menolak untuk mematuhi perintah tersebut, dan para penjaga mengumpulkan hampir 20 pengawas untuk membujuk saya.
Liao dan Chen memperingatkan saya bahwa menentang perintah mereka hanya akan mengakibatkan evaluasi buruk pada catatan saya, yang pada gilirannya akan membuat pemerintah daerah saya perlu memantau saya setelah dibebaskan.
III. Pemberian Obat Secara Paksa
Pihak penjara juga memaksa saya dan narapidana lain untuk mengonsumsi obat-obatan yang tidak kami ketahui.
1. Saat Masuk Penjara
Saya diborgol selama perjalanan ke penjara, dan saya terus muntah. Selama pemeriksaan fisik yang diwajibkan, saya ditemukan menderita tekanan darah tinggi dan diberi pil untuk diminum.
Ketika menolak meminumnya, pengawas Huang mencubit dagu saya, membuka paksa mulut saya, dan memasukkan pil itu secara paksa. Rasanya seperti dagu saya hampir hancur, dan rasa sakitnya sangat menyiksa.
Saya mengalami efek samping yang parah, tetapi para penjaga dan dokter penjara tidak menurunkan dosis atau mengizinkan saya berhenti minum pil. Praktisi yang disebutkan sebelumnya, Xie, juga dipaksa minum obat hipertensi. Wajah dan lehernya memerah setiap sore. Ia juga mengalami pusing, jantung berdebar, dan lemas. Dokter penjara mengklaim bahwa reaksi seperti itu normal dan memerintahkannya untuk terus minum pil. Beberapa bulan kemudian, ia mengalami masalah jantung, dan penglihatannya tiba-tiba memburuk. Ia sangat lemah sehingga orang lain harus membantunya berjalan atau menaiki tangga. Baru kemudian pihak penjara mengizinkannya berhenti minum obat.
Seorang narapidana dilaporkan mengalami depresi dan diberi obat antidepresan pada bulan Februari atau Maret 2025. Ia mengalami mimpi buruk dan gelisah setelah minum pil tersebut. Ia bahkan berteriak di tengah malam. Ia kemudian menyembunyikan pil tersebut di lengan bajunya, tetapi ditemukan. Ia diperintahkan untuk mengikuti “sesi belajar” selama sebulan dan poin kelakuannya dikurangi dua poin.
2. Tidak Cukup Waktu untuk Makan
Mereka yang dipaksa minum obat harus mengantre di lobi lantai dua setiap hari untuk mengambil pil mereka. Karena antrenya sekitar waktu makan, kami sering tidak punya cukup waktu untuk makan. Para penjaga mengklaim bahwa kami bisa menyelesaikan makan setelah minum pil, tetapi mereka juga menyuruh kami membersihkan semuanya dalam waktu yang ditentukan. Setelah selesai membersihkan, saatnya melakukan kerja paksa.
Suatu kali saya memakan roti kukus yang tidak sempat saya habiskan saat sarapan, dalam perjalanan ke lobi lantai dua untuk mengambil obat. Kepala narapidana yang bertugas mengawasi antrean melihat saya makan dan terus-menerus memarahi saya. Biasanya saya makan sangat sedikit dan selalu lapar. Akhirnya saya menderita osteoporosis.
3. Proses Pengambilan Pil Itu Memalukan
Kami harus mengatakan “Saya penjahat anu, dan saya meminta obat saya” sebelum diberi pil. Sambil mengantre, kami diberi secangkir air untuk dipegang di tangan kanan. Ketika giliran tiba, kami memindahkan cangkir ke tangan kiri, dan pil dimasukkan ke tangan kanan kami. Kemudian kami menelan pil itu di sana. Pemberi pil, penjaga, dan narapidana yang ditugaskan untuk mengawasi kami akan menyuruh kami membuka mulut dan menjulurkan lidah untuk memastikan kami telah menelannya. Kami juga harus membuka tangan kanan dan mengibaskan lengan baju untuk membuktikan bahwa kami tidak menyembunyikannya.
Jika tidak mengikuti prosedur ini, kami akan dilecehkan secara verbal dan fisik. Misalnya, para narapidana biasanya memasukkan tangan mereka ke dalam mulut saya untuk memeriksa apakah saya menyembunyikan pil di sana.
Setelah meminum pil, kami harus menandatangani formulir. Suatu kali saya menandatangani tiga kali, dan mesin itu menunjukkan “berhasil.” Namun, para penjaga tidak dapat melihatnya dari pihak mereka, jadi saya diperintahkan untuk mengikuti “sesi belajar” selama tiga hari.
Setelah menandatangani, kami harus mengantre untuk diperiksa pakaian dan saku kami. Kami juga harus membuka mulut dan mengangkat tangan agar mereka dapat melihat apakah kami menyembunyikan sesuatu. Kami diharuskan berjalan lurus, dengan jarak tidak lebih dari tiga langkah di antara kami. Mereka yang dianggap “keluar dari barisan” akan dimarahi.
Semua orang merasa tegang saat waktu pemberian obat tiba dan kami tidak berani mengeluarkan suara. Para penjaga mengklaim mereka melakukan ini karena mereka “peduli,” padahal kenyataannya hal itu menyebabkan kami mengalami tekanan mental yang luar biasa.
IV. Penyiksaan Berdiri, Sesi Belajar, dan “Kerja Sukarela” yang Dipaksa
Berikut ini adalah tiga bentuk pelecehan yang paling umum digunakan terhadap mereka yang dianggap melanggar aturan atau gagal menyelesaikan kuota kerja.
1. Berdiri di Depan Cermin
Mereka yang gagal memenuhi kuota kerja sering Kali disuruh berdiri tiga kali sehari—setelah sarapan, setelah makan siang, dan setelah makan malam—di depan cermin di pintu masuk lobi lantai dua. Jika hari itu hari libur, ia harus berdiri sepanjang hari. Ia tidak diberi waktu untuk mandi, mengambil air panas, atau merapikan tempat tidurnya. Jika ia ada tugas-tugas tertentu, orang lain harus mengambil alih tugas tersebut, sehingga orang lain akan memarahinya.
2. Sesi Belajar
Sesi belajar digunakan untuk menyiksa mereka yang gagal memenuhi kuota kerja atau melanggar aturan tertentu. Para narapidana dibawa ke lantai yang berbeda untuk duduk dalam posisi militer setelah makan malam. Kemudian mereka disuruh belajar peraturan penjara selama sekitar satu jam. Biasanya setelah pukul 9 malam barulah mereka diizinkan kembali ke sel mereka.
Sebagian dari mereka diperintahkan untuk mengikuti sesi belajar selama tujuh hari, sementara yang lain menjalani dengan waktu yang lebih singkat. Mereka harus menjawab pertanyaan yang telah ditentukan atau menyalin peraturan penjara. Setelah sesi belajar, mereka harus dievaluasi untuk menentukan apakah mereka memenuhi persyaratan.
3. “Kerja Sukarela” yang Dipaksa
Mereka yang melanggar peraturan penjara juga dipaksa melakukan “kerja sukarela,” seperti membersihkan ruang cuci, menyapu halaman, menyiapkan meja makan, mengepel lantai, mencuci piring, atau mencuci keset kotor. Pekerjaan tanpa bayaran tersebut dilakukan selama waktu istirahat. Bahkan narapidana yang lebih tua pun tidak dikecualikan dari hal ini, dan mereka harus membuang sampah tiga kali seminggu.
Jika seorang narapidana diberi terlalu banyak pekerjaan sukarela, ia bisa menyuap para penjaga, yang merupakan salah satu cara para penjaga mendapatkan uang.
4. Pengendalian Makanan
Mereka yang menjadi korban pelecehan yang disebutkan di atas harus menyerahkan makanan tambahan yang mereka beli dengan uang mereka sendiri. Jika mereka juga ditempatkan di bawah pengawasan ketat, mereka hanya diberi setengah dari makanan yang ditawarkan penjara.
Jika petugas keamanan menganggap seseorang melakukan pelanggaran berat, seluruh divisi atau lantai tempat mereka bekerja mungkin akan terpengaruh, dan semua orang dilarang mendapatkan makanan tambahan.
V. Kelompok Pemantauan Bersama
“Kelompok pemantauan bersama” mengharuskan setiap orang dalam kelompok yang sama untuk melakukan segala sesuatu bersama-sama, atau mereka akan menghadapi konsekuensi. Ada sekitar 420 orang di divisi lima, dan kami dibagi menjadi kelompok pemantauan bersama yang terdiri dari tiga hingga tujuh orang.
Setiap kelompok harus makan, “belajar,” menggunakan kamar mandi, menelepon keluarga mereka, dan tidur bersama. Jika ada yang melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, seluruh kelompok akan dihukum. Terkadang para penjaga bahkan melibatkan seluruh sel, seluruh lantai, atau bahkan seluruh divisi lima.
Hukuman tersebut termasuk belajar selama satu minggu dan melakukan “kerja sukarela” selama beberapa hari.
Suatu kali, saya secara tidak sengaja menjatuhkan lencana saya saat merapikan seprai dan selimut di tempat kerja. Kebetulan, pimpinan penjara datang untuk memeriksa tempat kerja, melihat lencana saya yang sudah miring karena jatuh, dan mencatat nama saya. Seluruh kelompok pemantauan bersama meneriaki saya, karena mereka takut akan terlibat. Karena saat itu musim panas yang terik, pihak penjara akhirnya tidak mengadakan sesi belajar untuk kami.
Suatu kali, kelompok saya sedang menjemur pakaian ketika kami disuruh bergegas ke kegiatan selanjutnya. Ketua kelompok berlari di depan saya, melanggar aturan bahwa ketua kelompok harus berada di barisan terakhir. Kami mengetahui aturan tersebut dan memperbaiki formasi kami, tetapi para penjaga tetap mengkritik kami. Ternyata salah satu anggota kelompok melaporkan kami. Mekanisme pengawasan kelompok bersama ini benar-benar tidak bermoral.
VI. Aturan Sewenang-wenang yang Menolak Hak-Hak Dasar
Pesan yang paling lantang dalam pertemuan-pertemuan penjara, baik besar maupun kecil, adalah: “Kalian harus mengerti bahwa kalian adalah seorang kriminal dan tahu tempat kalian di penjara.” Kami tidak punya hak untuk menyampaikan pendapat dan kami diperlakukan seperti buruh paksa untuk menghasilkan uang bagi penjara. Para penjaga membuat peraturan seenaknya memperlakukan kejam terhadap kami.
Suatu malam, kamera pengawas menangkap seorang narapidana yang bertugas malam meletakkan tangannya di belakang punggung. Divisinya ditegur, dan ia diperintahkan untuk mengikuti sesi belajar selama dua minggu dan melakukan “kerja sukarela” selama satu bulan. Dari situlah lahir aturan lisan baru: Tidak seorang pun boleh meletakkan tangannya di belakang punggung.
Seorang narapidana lain meletakkan handuk di atas bantalnya, dan peraturan baru yang melarang hal itu pun diberlakukan. Ketika para penjaga mengetahui bahwa seseorang pergi ke kamar mandi dan terlambat mengantre untuk makan siang, mereka membuat peraturan baru bahwa tidak seorang pun boleh menggunakan kamar mandi selama waktu makan.
Para penjaga selalu didorong untuk membuat peraturan baru, seperti tidak menyentuh hidung, menggaruk kepala, atau memasukkan tangan ke dalam saku.
Karena aturan-aturan ini sangat acak, sangat mudah untuk melanggarnya. Seluruh kelompok pemantauan bersama, seluruh lantai, atau seluruh divisi kemudian akan dikenai berbagai bentuk hukuman.
Setiap kali bertemu penjaga, kami harus mengatakan “Lapor.” Narapidana Xu Mo lupa mengatakannya suatu hari ketika ia memasuki kafetaria. Ia dan lebih dari sepuluh orang lainnya kemudian diperintahkan untuk mengikuti sesi belajar selama satu minggu dan beberapa hari “kerja sukarela.”
Para penjaga juga menghasilkan uang dengan mengenakan denda kepada mereka yang melanggar aturan.
VII. Kerja Paksa Ekstrem untuk Eksploitasi Maksimal
1. Selalu Terburu-buru
“Cepat, cepat, cepat!” adalah perintah yang selalu kami dengar, karena penjara mengeksploitasi tenaga kerja gratis kami semaksimal mungkin. Kelompok pengawasan bersama sering kali terdiri dari orang-orang dari berbagai usia. Saat narapidana yang lebih tua berjuang untuk mengikuti, mereka diintimidasi oleh anggota kelompok yang lebih muda. Banyak lansia jatuh karena stres yang terus-menerus dan mengalami patah tulang, termasuk praktisi Ling Junhui, Xie Zicheng, dan Wang Youping.
Pada pagi hari tanggal 19 November 2024, kelompok pengawasan saya sedang mengumpulkan sampah sebagai hukuman selama sebulan, ketika narapidana yang mengawasi kami mendesak kami untuk bergegas karena sudah waktunya untuk berbaris menuju tempat kerja. Kami pun berlari memungut sampah. Saya tersandung dan jatuh, menyebabkan pergelangan tangan kiri saya cedera parah.
Pergelangan tangan saya patah di dua tempat, dan ujung distal serta radial distal mengalami dislokasi. Dokter penjara tidak dapat mengembalikan tulang saya ke posisi semula. Mereka mengatakan bahwa, paling banter, saya hanya bisa pulih sekitar 70%. Bahkan hingga hari ini, saya bahkan tidak bisa mengangkat pot kecil kosong dengan tangan kiri.
Pihak penjara menolak bertanggung jawab atas cedera yang saya alami.
2. Jam Kerja yang Diperpanjang dan Beban Kerja yang Meningkat
Kami dipaksa bekerja lebih dari sepuluh setengah jam sehari, jauh melebihi batas hukum. Pihak penjara berjanji akan menambahkan ayam dan kaki bebek ke dalam makanan kami, tetapi perlakuan khusus itu hanya berlangsung selama tiga bulan. Jam kerja tidak pernah dikurangi.
Meskipun tidak ada penambahan narapidana, penjara tersebut mengeksploitasi narapidana yang ada dengan sangat efektif sehingga output produksi meningkat sebesar 11% dari tahun 2023 hingga 2024. Selama tidak diberikan istirahat total oleh dokter penjara, seseorang tetap harus pergi ke tempat kerja untuk bekerja meskipun sedang sakit. Kuota kerjanya harus dipenuhi oleh orang lain, yang sudah kesulitan menyelesaikan kuota mereka sendiri.
Karena para penjaga terus menambah beban kerja semua orang, semakin banyak narapidana yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya dan harus menjalani penyiksaan berdiri di lobi lantai dua. Terkadang hingga 160 orang berdiri bersamaan.
Air minum kami dibatasi untuk mengurangi frekuensi ke kamar mandi, sehingga waktu kerja dimaksimalkan untuk menyelesaikan kuota kami. Kami harus melaporkan hasil produksi setiap jam. Kami dipaksa bekerja hingga batas kemampuan. Beberapa orang menggunakan taktik manipulasi pikiran untuk mendapatkan keuntungan dalam lingkungan seperti itu.
VIII. Penipuan
Rezim komunis diketahui menggunakan taktik tipu daya untuk menipu dan menganiaya orang. Penjara menghasilkan banyak uang dengan menggunakan tenaga kerja paksa, jadi mereka berhati-hati untuk menutupi bagaimana mereka mengeksploitasi kami. Misalnya, menurut hukum semua tahanan harus diberi satu hari libur dalam seminggu. Para penjaga memaksa kami untuk mengisi formulir untuk bekerja “sukarela” setengah hari pada hari libur. Peraturan penjara juga menetapkan satu hari “belajar” setiap minggu, tetapi para penjaga menyuruh kami bekerja setengah hari pada hari belajar.
Para petinggi sering datang untuk memeriksa penjara, tetapi mereka tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi. Kami diperintahkan untuk mengatakan hal-hal tertentu atau kami berisiko dihukum.
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org