(Minghui.org) Badai musim dingin di Amerika Utara pada akhir bulan Januari 2026 lalu sangat dahsyat. Pada satu titik, badai tersebut membentang hampir 2.000 mil (sekitar 3.218 km) dari perbatasan Meksiko-Amerika Serikat hingga Kanada bagian timur. Lebih dari 10.000 penerbangan dibatalkan atau ditunda dan kedalaman salju memecahkan rekor di banyak daerah.
Badai salju yang dahsyat ini membuat saya merasa rapuh dan tak berdaya, dan saya bertanya-tanya: Teknologi modern tampaknya telah meningkatkan kualitas hidup kita, tetapi apakah kita lebih aman atau lebih sejahtera?
Ini mengingatkan saya pada pertunjukan Shen Yun. Karena sebuah desa di Tiongkok kuno telah menjadi sangat korup sehingga menghadapi banjir besar. Bodhisattva Guanyin menyamar sebagai pengemis dan pergi ke sana, berharap untuk menyelamatkan mereka yang memiliki hati nurani. Penduduk desa mengabaikannya dan beberapa bahkan mengejeknya. Seorang wanita tua yang baik hati hanya memiliki semangkuk nasi. Dia memberikan setengahnya kepada pengemis (Bodhisattva Guanyin) dan meletakkan setengahnya lagi (untuk menunjukkan rasa hormatnya) di depan patung Buddha.
Bodhisattva Guanyin menunjuk sepasang patung singa batu di pintu masuk desa dan berkata kepada wanita tua itu, “Jika mata singa-singa itu berubah merah, itu berarti banjir akan datang. Larilah ke gunung dan kamu akan selamat.” Wanita tua itu berterima kasih dan menceritakan hal itu kepada penduduk desa lainnya. Tetapi tidak ada yang memercayainya dan beberapa bahkan menertawakannya. Namun wanita itu terus memperingatkan semua orang.
Beberapa preman desa memutuskan untuk berbuat iseng, dan mengecat mata patung singa batu itu dengan warna merah. Ketika melihat ini, wanita itu berlari mengelilingi desa dan mendesak orang-orang untuk pergi, tetapi semua orang mengejeknya. Wanita itu tidak punya pilihan lain dan melarikan diri. Banjir akhirnya benar-benar datang dan menghancurkan desa tersebut.
Ada kisah serupa dalam Alkitab. Tuhan melihat betapa jahatnya manusia dan mengirimkan banjir untuk memusnahkan mereka, tetapi Nuh dan keluarganya selamat. Kota Romawi, Pompeii, terkubur oleh abu ketika Gunung Vesuvius meletus pada tahun 79 M. Kota itu dikenal karena prostitusi, perbudakan, dan permainan gladiatornya. Ketika Raja Fransiskus mengunjungi pameran artefak yang diambil dari Pompeii pada tahun 1819 bersama istri dan putrinya, ia merasa malu dengan karya seni yang cabul tersebut. Ia memerintahkan agar artefak-artefak itu disimpan, tetapi kemudian dikeluarkan dan dipamerkan kepada publik pada tahun 2000.
Dari singa batu bermata merah hingga Bahtera Nuh sampai abu Pompeii, tak terhitung banyaknya pelajaran yang telah menunjukkan kepada kita betapa rapuhnya umat manusia. Siapa yang akan menyelamatkan kita ketika kita menyimpang dari standar moral dan menghadapi kehancuran?
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org