(Minghui.org) Untuk memperingati 27 tahun permohonan damai 25 April di Beijing, praktisi Falun Dafa mengadakan rapat umum di depan Konsulat Tiongkok di Toronto tanggal 25 April 2026. Dua praktisi yang berpartisipasi pada permohonan damai 25 April dan kini tinggal di Kanada membagikan kisah mereka.

Praktisi berjalan di Jalan Bloor pada siang hari dan memasang spanduk untuk memberitahu orang-orang tentang permohonan damai. Selama 27 tahun, praktisi tidak pernah berhenti menuntut kebebasan berkeyakinan di Tiongkok, dan mereka terus menyerukan diakhirinya penganiayaan yang dilakukan oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Rapat umum di depan Konsulat Tiongkok Toronto tanggal 25 April 2026

Partisipan Permohonan Damai 25 April Membagikan Kisah Mereka

Setelah artikel yang memfitnah diterbitkan oleh majalah Perguruan Tinggi Pendidikan Tianjin, Feng Xiumin dan beberapa praktisi lainnya berbicara kepada editor untuk mengklarifikasi apa itu Falun Dafa. Feng kini tinggal di Kanada dan membagikan pengalamannya saat rapat umum.

Feng berkata, “Beberapa mobil militer tiba, dan banyak praktisi ditangkap.” “Polisi bersenjata, memegang tongkat listrik, dan memukuli orang. Banyak praktisi menderita cedera kepala dan pendarahan hebat, sebagian lagi ada yang lengannya terkilir. Kami pergi ke pemerintah kota untuk melaporkan situasinya, namun petugas memberitahu kami, “Kami juga tidak bisa menyelesaikan perkara ini; kalian harus pergi ke Beijing besok untuk mengajukan petisi.”

Oleh karenanya, dia dan beberapa praktisi lain pergi ke Beijing pada tanggal 25 April 1999. Mereka menanyakan arah kepada seorang petugas polisi dan diarahkan ke Kantor Banding Nasional. Saat mereka tiba, lebih dari 10.000 praktisi berbaris di trotoar dekat kantor banding.

Feng berkata, “Saat diberitahu bahwa kami bisa dengan bebas berlatih Falun Dafa, semua orang pergi dengan tenang.” “Namun tiga bulan kemudian, PKT mulai menganiaya Falun Gong. Saya ditangkap berulang kali, dipenjarakan ke kamp kerja paksa dua kali, dan dipecat dari tempat kerja saya.”

Praktisi lain, Feng, yang juga berpartisipasi dalam permohonan damai 25 April, berkata tiga anggota keluarganya pergi ke Beijing setelah mengetahui bahwa lebih dari 40 praktisi ditangkap di Tianjin.

Feng mengenang, “Saat kami tiba di Beijing, praktisi berbaris di tembok barat Zhongnanhai, sehingga tidak menghalangi trotoar.” “Ada yang membaca dengan tenang, ada yang berbicara berbisik-bisik, dan ada yang bermeditasi; suasananya sungguh damai dan hening. Orang-orang berkumpul di sana termasuk mahasiswa, pejabat pemerintahan, orang tua dengan anak mereka, dan orang lanjut usia berusia 80-an. Saya berjalan menyusuri sepanjang barisan, yang dimulai dari satu gang ke gang berikutnya. Saat saya melihat dari kejauhan, saya tidak bisa melihat ujung barisan.”

Dia menambahkan, “Dengan sebegitu banyak orang yang hadir, tak satu pun gaduh, dan membuang sampah ke tanah, semua jalan keluar–dan semua area tempat pejalan kaki–dibiarkan kosong. Kemudian malam itu, kami diberitahu bahwa masalahnya sudah selesai. Orang-orang berangsur-angsur bubar tanpa kegaduhan.”

Praktisi memegang spanduk di Jalan Bloor pada tanggal 25 April siang.

Praktisi berbicara dengan pejalan kaki tentang kegiatan tersebut dan penindasan transnasional PKT.

Orang-Orang Berharap Penganiayaan Segera Berakhir

Tobias, murid SMA, menyerukan agar penindasan segera diakhiri.

Setelah Tobias melihat spanduk dan membaca brosur, dia berkata, “Falun Dafa tampaknya latihan yang sangat damai. Kita harus memperlakukan orang lain dengan tulus dan kasih sayang.” Saat dia mendengar tentang penganiayaan oleh PKT yang masih berlangsung di Tiongkok, dia berkata, “Falun Dafa seharusnya diizinkan di Tiongkok. Penganiayaan ini salah dan harus segera diakhiri.”

Alexandra memuji keteguhan praktisi.

Alexandra berbicara dengan praktisi dan berkata dia melihat kegiatan mereka tahun lalu, “Saya rasa kalian sungguh teguh. Sungguh hal yang indah melihat kalian berdiri bersama, bahkan saat hujan, berjuang demi keyakinan kalian.”

Alexandra tinggal di Hong Kong selama 12 tahun bersama orang tuanya. Dia mendengar tentang Falun Dafa saat masuk sekolah di sana. Dia berkata, “Saya melakukan penelitian dan mengetahui tentang penganiayaan. Saya merasa sedih.” Dia menambahkan, “Saya harap keadaan akan berubah ke arah yang lebih baik; Saya harap rakyat Tiongkok bisa hidup dan mempraktikkan keyakinan mereka dengan bebas. Saya rasa pemerintah tidak seharusnya mengkriminalisasi keyakinan lurus mana pun.”

Latar Belakang: Apa Itu Permohonan Damai 25 April?

Falun Dafa (juga dikenal sebagai Falun Gong) pertama kali diperkenalkan ke publik oleh Guru Li Hongzhi di Changchun, Tiongkok, pada tahun 1992. Latihan spiritual ini kini dilatih di lebih dari 100 negara di dunia. Jutaan orang telah mempelajari ajaran–yang didasari pada prinsip Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar) dan juga melakukan lima perangkat latihan yang lembut–serta merasakan peningkatan kesehatan dan kesejahteraan hidup. 

Pada tanggal 23 dan 24 April 1999, petugas polisi di Tianjin, sebuah kota di dekat Beijing, menyerang dan menangkap puluhan praktisi yang berkumpul di luar kantor majalah untuk mendiskusikan kesalahan pada artikel baru terbit yang menyerang Falun Dafa. Seiring berita penangkapan tersebar dan semakin banyak praktisi ingin bertemu dengan petugas, mereka diberitahu agar mengajukan permohonan mereka ke Beijing.

Keesokan harinya, tanggal 25 April, sebanyak 10.000 praktisi Falun Dafa secara spontan berkumpul di Kantor Pusat Urusan Permohonan di Beijing, seperti yang diinstruksikan oleh petugas Tianjin. Kegiatan itu berlangsung damai dan tertib. Beberapa perwakilan Falun Dafa dipanggil untuk bertemu dengan Menteri Tiongkok, Zhu Rongji, dan anggota stafnya. Malam itu, kekhawatiran praktisi terjawab. Praktisi yang ditangkap di Tianjin dibebaskan dan semua orang pulang ke rumah.

Jiang Zemin, mantan ketua PKT, menganggap meningkatnya popularitas latihan spiritual ini sebagai ancaman bagi ideologi ateis PKT dan mengeluarkan perintah untuk melarang Falun Dafa pada 20 Juli 1999.

Minghui.org telah mengonfirmasi kematian ribuan praktisi karena penganiayaan selama bertahun-tahun, dan angka sesungguhnya diperkirakan jauh lebih tinggi. Banyak praktisi telah dipenjarakan dan disiksa karena keyakinan mereka.

Ada bukti konkret bahwa PKT menyetujui pengambilan organ paksa dari praktisi yang ditahan, mereka dibunuh untuk memasok industri transplantasi organ.