(Minghui.org) Saya mulai berlatih Falun Dafa tahun 1996, dan latihan ini mengangkat saya dari hidup yang sulit dan menderita, mengembalikan kesehatan dan ketenangan pikiran saya. Tahun itu, putra saya masuk kuliah. Suami saya meninggal saat putra kami baru berusia tujuh tahun, dan saya tidak sanggup membayar biaya sekolahnya. Saya tidak punya pilihan selain mencari pekerjaan di kota lain. Saya memutuskan untuk pergi ke Beijing, membatin pada diri sendiri bahwa saya akan mengambil pekerjaan apapun yang bisa didapatkan.

Menyelamatkan Orang Tanpa Konsep

Wilayah saya adalah wilayah yang ditetapkan secara nasional sebagai wilayah miskin. Sama seperti mayoritas pegawai perusahaan setempat, saya juga di-PHK. Saya harus mengirim uang kepada putra saya, dan juga membiayai hidup saya sendiri. Itu berarti saya harus segera mendapat pekerjaan.

Di hari pertama saya mengunjungi lembaga ketenagakerjaan untuk mencari kerja, saya bertemu seorang wanita muda yang ingin mempekerjakan orang untuk melakukan pekerjaan rumahnya. Dia menanyakan beberapa hal tentang diri kami lalu pergi. Saya pergi dari lembaga tersebut saat hampir siang. Lembaga ketenagakerjaan menelepon dan berkata bahwa wanita itu telah memilih saya.

Saat saya kembali, wanita muda itu sedang berbicara dengan perwakilan lembaga ketenagakerjaan perihal kontrak dan hak majikan serta pegawai, utamanya tentang bagaimana melindungi hak dan kepentingan pegawai. Kemudian perwakilan lembaga tersebut melakukan panggilan telepon, dan wanita muda itu menuliskan nomor telepon dan memberinya pada saya. Saat perwakilan itu kembali, dia berkata suaminya menelepon dan pergi.

Dalam perjalanan pulang saya berpikir, “Wanita ini keras. Dia tidak ingin membayar lembaga ketenagakerjaan.” Dari apa yang saya lihat di lembaga, saya bisa lihat bahwa dia bukan orang yang mudah diajak bergaul. Apakah saya harus menerima tawarannya atau tidak? Saya memiliki pikiran lain bahwa dia mungkin ditakdirkan untuk mengetahui tentang Falun Dafa.

Dia mengajak saya bertemu di rumahnya dan menyuruh saya masak dua makanan sehari serta membersihkan rumah. Saya mendapat libur seminggu sekali. Dia memberitahu saya namanya adalah Weiwei (nama samaran) dan suaminya Yu Lai (nama samaran). Dia juga memberitahu saya tentang rumahnya dan hal yang perlu saya perhatikan. Saya memberitahunya, “Saya tidak bisa membunuh ikan atau ayam hidup. Saya memiliki prinsip saya sendiri perihal ketulusan, kebaikan, dan kesabaran.”

Saya bisa lihat bahwa Weiwei adalah wanita muda yang dimanja dan sangat pemilih. Dia bertanya apakah saya bisa masak dengan baik. Saya berkata, “Semua orang memiliki selera yang berbeda. Mari kita coba lihat apakah masakan saya cocok dengan Anda.” Saya berpikir, “Selama bertahun-tahun, saya dan putra saya menjalani hidup yang susah. Saya tidak pernah masak banyak lauk. Ini perihal masakannya enak atau tidak.”

Weiwei meminta saya membeli bahan masakan dan pergi ke rumahnya untuk masak setelah mereka pulang kerja. Dia meminta berbagai jenis makanan untuk saya masak. Saya mengikuti ajaran Falun Dafa untuk mendahulukan kepentingan orang lain, dan saya bekerja sepenuh hati. Saya mencoba sebisa mungkin memasak apa yang dia minta. Dia tidak pernah berkata makanan yang saya buat tidak enak.

Weiwei sering mengundang teman dan orang tuanya makan malam di rumah, jadi saya sering pulang larut malam. Ibunya datang dan kami berbincang-bincang. Suatu kali ibu Weiwei berkata, “Weiwei berkata makanan yang kamu masak enak, dan dia mengundang teman-temannya serta kami untuk datang makan malam.” Namun Weiwei tidak pernah memuji saat saya hadir. Saya baru tahu bahwa ayah Weiwei adalah pejabat di provinsi lain. Pantas saja dia bersikap layaknya putri kecil yang dimanja. Dia juga sering membuat saya kesulitan, meminta saya melakukan tugas di luar tanggung jawab saya. Saya tidak memasukkannya ke dalam hati karena saya adalah seorang praktisi.

Suami Weiwei, Yu Lai mempunyai sikap acuh tak acuh. Saya bekerja di rumah mereka selama hampir satu bulan pada saat itu, namun dia tidak pernah berbicara dengan saya.

Suatu malam Weiwei meminta orang tuanya datang lagi untuk makan malam. Setelah makan malam, Yu Lai berkata kepada ibu mertuanya, “Saya hampir pingsan saat mengendarai mobil. Itu cukup berbahaya.” Mertuanya menjadi cemas dan bertanya apakah dia perlu ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Dia berkata, “Saya sudah pergi ke beberapa rumah sakit dan mereka tidak menemukan hal yang salah.”

Saya berkata, “Anda bisa mencoba Falun Dafa. Banyak orang pulih dari penyakit parah setelah berlatih.” Dia bertanya bagaimana caranya mulai berlatih. Dengan singkat saya memberitahunya. Ibu Weiwei berkata, “Beberapa rekan kerja Ibu dulu sehat-sehat setelah berlatih Falun Dafa.” Setelah itu saya pulang ke rumah karena sudah larut malam.

Tampaknya Yu Lai memuja sesuatu. Suatu hari dia membungkuk kepada sesuatu di dekat pintu. Saya melihat itu adalah katak tembaga. Tanpa pikir panjang saya langsung berkata, “Saya tahu apa akar permasalahan dari penyakit Anda.” Saya terkejut bahwa saya mengatakan hal ini. Bagaimana bisa saya mengatakan hal tersebut? Dia langsung bertanya pada saya, “Apa itu?” Saya menjawab, “Tidak mudah untuk mengatakannya dalam beberapa kata. Saya akan menjelaskannya di lain waktu.” Mereka pulang larut selama beberapa hari, jadi saya tidak ada waktu untuk berbicara dengannya.

Su Lin, mantan guru yang berbagi kantor yang sama dengan saya sebelumnya, membuka sebuah firma akuntansi di Beijing. Dia mendengar bahwa saya bekerja di Beijing dan menelepon saya, “Di pekerjaan ini, semakin tua, kita semakin dicari. Sebaiknya Anda tetap menekuni profesi semula Anda.” Dia merasa sangat disayangkan bahwa saya tidak lagi bekerja di bidang saya.

Saat saya menjadi guru, itu bertepatan dengan integrasi ekonomi Tiongkok ke pasar global tahun 1992. Tahun 1993, Standar Akuntansi Perusahaan yang baru mulai diterapkan, ini membawa perubahan signifikan ke banyak metode pembukuan. Namun pada saat itu, tidak ada panduan tertulis terkini yang tersedia. Agar saya tidak merugikan murid atau menghambat prospek kerja mereka di waktu yang akan datang, saya pergi ke Beijing untuk mendapat materi ajar yang baru. Meski saya mendapat sertifikat tingkat kecamatan sebagai guru teladan, saya tidak bisa dipindahkan ke tempat kerja lain karena menolak menerima suap, ini adalah hal yang umum di masyarakat.

Saya meninggalkan profesi saya itu selama hampir satu dekade. Sertifikat akuntan saya sudah kedaluwarsa. Komputer sangat jarang di tahun 1990-an dan tidak ada pembukuan elektronik. Su Lin tahu bahwa saya sangat tidak setuju dengan akuntan yang memodifikasi pembukuan. Dia memberitahu saya, “Sebagai akuntan pembukuan, ada lembaga-lembaga di mana Anda tidak perlu membuat akun palsu.” Dia juga berkata bahwa saya bisa belajar program pembukuan elektronik di firmanya. Saya memutuskan untuk mendaftarkan sertifikasi akunting saya lagi dan menghabiskan waktu belajar program pembukuan elektronik di firmanya.

Suatu hari saya mendengar bahwa anak dari teman saya masuk kuliah dan akan mengundang teman-temannya makan malam untuk merayakan hal itu. Saya berencana pulang ke rumah untuk berpartisipasi dalam acara itu dan mengucapkan selamat untuknya. Saya pergi ke stasiun kereta untuk membeli tiket di hari libur saya. Saya berpikir, “Saya bisa naik kereta malam, pulang ke kampung dan kembali ke Beijing. Dengan begitu saya tidak perlu absen kerja. Bila Weiwei mengizinkan, saya bisa mengambil satu hari cuti dan menggantinya setelah saya kembali. Dengan begitu saya bisa tinggal di kampung halaman satu hari lebih lama.”

Saya memberitahu Weiwei tentang rencana saya pulang ke kampung keesokan harinya. Dia kesal, “Siapa yang mengizinkanmu mengambil libur? Bahkan satu hari pun tidak boleh, apalagi dua hari!” Saya terkejut, “Saya memiliki satu hari libur. Bagaimana bisa satu hari pun tidak diperbolehkan?” Dia berkata, “Ibu mertua saya akan menjalani operasi. Dia akan tinggal di sini setelah dipulangkan dari rumah sakit.” Saya berkata, “Saya sudah membeli tiket kereta. Bolehkah saya pergi selama satu hari?” Dia berkata tidak.

Saya berpikir, “Bahkan saat lewat siang hari, saya harus menunggu telepon Anda, pergi berbelanja seperti yang diperintahkan, dan menunggu di luar sampai Anda kembali sebelum saya bisa masuk ke dalam dan mulai masak. Berdiri di luar saat berangin maupun hujan, terkadang saya menunggu selama lebih dari dua jam. Selain itu, Anda sering menyuruh saya mempersiapkan makanan tiga hari sekali untuk Anda, membuat pekerjaan tambahan menumpuk. Anda orang yang sulit dirawat! Selain itu, ibu mertua tidak pernah tinggal bersama Anda sebelumnya; namun Anda memutuskan untuk membiarkannya tinggal bersama kalian–menolak memberi saya libur–bahkan tanpa memberitahu saya sebelumnya. Apa yang harus saya lakukan dengan kelas pembukuan elektronik yang hendak saya ambil? Saya tidak seharusnya melayani Anda. Saya akan keluar!”

Saya lalu merefleksikan diri, “Saya berupaya menyelamatkan orang setiap hari. Mereka ada di sini. Haruskah saya memilih siapa yang saya selamatkan? Baiklah, saya tidak akan pergi. Saya menawarkan penyelamatan kepada keluarga ini.” Sungguh luar biasa bahwa pikiran ini langsung muncul.

Dengan tenang saya memberitahu Weiwei, “Saya tidak akan pulang. Saya akan mengembalikan tiket kereta.” Tidak ada pembelian tiket daring pada saat itu. Orang-orang harus berbaris dalam waktu lama untuk membeli tiket selama musim liburan. Sepulang kerja, saya pergi ke stasiun kereta menggunakan bus untuk mengembalikan tiket. Butuh waktu lebih dari dua jam untuk melakukan perjalanan bolak-balik. Saya merasa teman-teman telah banyak membantu saya selama bertahun-tahun dan saya sangat ingin mengunjungi mereka. Sangat disayangkan saya tidak bisa melakukannya.

Beberapa hari kemudian, ibu mertua Weiwei dipulangkan dari rumah sakit. Weiwei ingin saya merawat ibu mertuanya. Weiwei jarang di rumah dan tidak membantunya meski ada di rumah. Ibu mertuanya menjalani operasi dada dan tidak bisa merawat dirinya sendiri. Dia bahkan membutuhkan bantuan saya untuk bangun dari tempat tidur.

Saya tidak lagi memiliki hari libur dan tidak bisa pergi ke firma mantan rekan kerja saya untuk belajar. Saya tahu saya telah kehilangan kesempatan untuk belajar dan mendapat sertifikat, begitu juga kesempatan untuk memperoleh pekerjaan layak dengan gaji bagus. Namun saya adalah seorang praktisi dan Guru meminta kami untuk mendahulukan kepentingan orang lain.

Saat saya pertama kali membantu ibu mertua Weiwei mencuci kakinya, saya merasa sangat gelisah, karena–selain mencuci kaki putra saya saat dia masih kecil–saya tidak pernah mencucikan kaki orang lain sebelumnya. Namun praktisi harus mendahulukan orang lain! Ibu mertuanya sangat lemah. Saya memikirkannya terus-menerus, “Ibu saya sudah lama meninggal. Saya tidak mencuci kaki untuk ibu saya.” Saya lalu merasa gembira melakukan hal ini.

Saya merawatnya dan dengan sabar berbincang dengannya tentang keajaiban Dafa. Ibu mertua Weiwei berpendidikan tinggi dan baik. Dia setuju dengan apa yang saya katakan.

Suatu hari Yu Lai meminta saya memberitahunya apa akar penyebab penyakitnya. Saya berkata, “Hampir semua kios jalanan memuja sesuatu. Saya tidak pernah mengatakan apapun. Saya ada di rumah Anda dalam waktu lama. Kita memiliki takdir pertemuan. Ini apa yang saya pelajari dari Falun Dafa: Akar penyebab penyakit Anda adalah katak yang Anda puja. Itu hal buruk.” Yu berkata dia membelinya dari gunung seharga 500 yuan [$74]. Saya memberitahunya, “Anda mungkin mendapat uang. Namun saat Anda memujanya, benda itu menarik sari pati tubuh Anda. Inilah akar penyebab penyakit Anda. Anda percaya atau tidak, silakan Anda putuskan sendiri.”

Keesokan harinya, Yu memberitahu saya, “Saya sudah meletakkan katak itu di balkon. Anda boleh membuangnya.” Saya tidak menyangka dia akan membuat keputusan secepat itu. Saya berbicara dengan ibunya dan memanggil tukang sampah. Saya memberitahunya, “Ambil benda ini dan langsung bawa ke tempat peleburan. Bila tidak, itu akan mencelakai orang yang mengambilnya.”

Yu dan Weiwei mulai mempelajari Falun Dafa beberapa hari kemudian. Yu mempelajari gerakan empat perangkat pertama sekaligus. Awalnya Yu bisa melakukan meditasi duduk sila tunggal. Mereka melakukan latihan bersama saya saat mereka ada waktu. Ibu Yu juga menonton video ceramah Guru dua kali. Yu membuat salinan ceramah dalam bentuk VCD. Mereka semua setuju untuk mundur dari keanggotaan mereka di Partai Komunis Tiongkok (PKT) serta organisasi afiliasinya. Ibu Yu pulih satu bulan kemudian dan pulang ke rumah. Pada saat itu, dia sudah membaca buku Zhuan Falun dua kali. Dia membawa buku itu bersamanya saat dia pulang.

Weiwei benar-benar mengubah sikapnya. Dia menaikkan gaji saya dan bahkan memberi saya kunci rumah sehingga saya bisa masuk ke rumahnya dengan bebas. Orang tua Weiwei juga mundur dari PKT serta organisasi afiliasinya. Saat saya meninggalkan rumahnya untuk pekerjaan lain, Weiwei menangis.

Yu benar-benar pulih dari penyakitnya. Saya bertanya pada ibu Yu beberapa tahun kemudian. Dia berkata Yu tidak pernah kambuh dan benar-benar sembuh. Saya tahu mereka semua memiliki takdir pertemuan dengan Dafa.

Satu-satunya Karyawan yang Luar Biasa

Pekerjaan berpotensi lainnya ditemukan oleh teman sekamar saya secara daring, dia merasa pekerjaan itu cocok untuk saya. Gaji yang tertera di iklan pekerjaan itu tiga kali lipat dari gaji industri rata-rata, dan tunjangan yang dijabarkan juga sangat bagus–tampaknya terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Saya memutuskan untuk melamar, dengan pemikiran bahwa saya tidak rugi apapun.

Wawancara pekerjaan itu cukup panjang. Saya diminta membuat draf dokumen, yang disebut sebagai sejenis tugas yang biasanya ditugaskan saat wawancara di perusahaan Fortune 500. Saya juga ditanya hal-hal yang aneh. Saya berpikir, “Meski tunjangannya bagus, saya mungkin tidak diterima.” Saya menjawab pertanyaan mereka tanpa ragu, mempertahankan sikap yang tidak rendah diri dan juga tidak sombong. Tak disangka, tiga hari kemudian saya menerima panggilan telepon yang menyatakan bahwa saya diterima. Teman sekamar sangat gembira untuk saya dan merasa tak bisa dibayangkan bahwa saya mendapat pekerjaan itu. Saya menghargai Guru. Saya memiliki banyak tekanan pada saat itu untuk membayar biaya hidup putra saya di kampus.

Saya menghadapi banyak tantangan di tempat kerja dan melenyapkannya dengan kebaikan yang saya dapat dari latihan Dafa. Setelah bekerja, saya sering berbincang-bincang dengan rekan kerja dan memberitahu mereka betapa luar biasanya Dafa. Saya gembira setiap hari dan mematut diri untuk mempertimbangkan rekan kerja dan pelanggan saya. Banyak dari mereka mundur dari PKT serta organisasi afiliasinya.

Perusahaan tempat saya bekerja tidak besar. Ada kurang dari 100 karyawan. Suatu tahun, perusahaan memutuskan untuk mengajak karyawan tamasya dan mengadakan rapat tahunan. Saya memberitahu manajer, “Rekan kerja saya semuanya masih muda dan suka bersenang-senang. Jadi saya akan melewatkan kegiatan ini dan tetap bekerja.” Yang mengejutkan, tiga hari kemudian rekan kerja saya kembali membawa hadiah untuk saya–saya disebut sebagai satu-satunya karyawan perusahaan yang luar biasa.

Menurut cerita rekan kerja, kompetisi selama pemilihan rapat tahunan untuk karyawan teladan sangat sengit. Kandidat dievaluasi dari kriteria daftar panjang, termasuk performa kerja, kompetensi profesional, dan taat dengan peraturan perusahan. Mereka banyak berdebat, bahkan menggali kekurangan satu sama lain. Namun, saat pilihan akhir dibuat, sayalah yang terpilih. Rekan kerja dengan suara bulat memberi saya gelar karyawan yang luar biasa, satu-satunya penghargaan yang diserahkan tahun itu.

Buku Ditemukan

Perusahaan kami mempekerjakan seorang petugas kebersihan. Saya memperkenalkan Dafa padanya dan menyarankannya untuk mundur dari PKT serta organisasi afiliasinya. Dia juga berbicara dengan saya tentang masalah keluarganya. Dia berkata hubungannya dengan suaminya sangat buruk dan mereka hendak bercerai. Kondisi kesehatannya juga buruk. Saya memberinya saran dengan prinsip-prinsip Dafa, dan dia mulai belajar Falun Dafa. Saya juga memberinya buku Zhuan Falun untuk dibaca. Saya memberitahunya, “Hargai buku ini dan jangan diletakkan sembarangan.” Dia setuju.

Jadwal kerjanya adalah akhir pekan. Suatu hari dia memberitahu saya bahwa buku itu hilang. Saya dengan cemas bertanya, “Apa yang terjadi?” Dia berkata, “Suami saya membuangnya.” Dengan tak percaya saya bertanya padanya, “Apakah dia menyembunyikannya? Anda harus berbicara baik-baik dengannya dan memberitahunya bahwa buku itu adalah pinjaman dan sangat berharga. Anda harus menanyakannya.” Keesokan harinya dia berkata, “Saya bertanya lagi padanya. Dia berkata sudah membuang buku itu.” Dia berkata tidak menemukan buku itu saat pulang ke rumah pada akhir pekan berikutnya. Dia gelisah, karena tahu saya sangat menghargai buku itu.

Dua minggu berlalu dan buku Zhuan Falun itu masih menghilang. Saya kecewa. Saya berpikir, “Bagaimana bisa suami petugas kebersihan itu melakukan dosa dengan acuh tak acuh begitu!” Saya merasa buruk, namun saya tidak menyerah dan tidak percaya buku itu benar-benar hilang.

Pada minggu ketiga, petugas kebersihan melihat saya dengan gembira dan berkata, “Saya menemukannya.” Dengan gembira saya bertanya, “Bagus. Apakah suami Anda menyembunyikannya?” Dia berkata, “Dia membuang bukunya ke tempat sampah. Cucu laki-laki saya yang berusia dua tahun melihat buku berwarna-warni dan mengeluarkannya. Dia meminta ayahnya melipat pesawat kertas menggunakan buku itu. Menantu laki-laki saya melihat buku itu dan menyimpannya.”

Saya bertanya padanya, “Apa Anda mengganti sampul bukunya?” Dia berkata tidak. Saya melihat bukunya disampul dengan kertas putih semula dan bersih. Bagaimana bisa seorang anak berkata buku itu berwarna-warni? Saya kemudian merasa bahwa Tianmu anak tersebut telah terbuka dan dia melihat Falun. Terima kasih Guru.

Saya sangat gembira dan mengundang petugas kebersihan itu untuk makan siang bersama. Saya bertanya, “Bagaimana bisa menantu laki-laki Anda menyimpan buku itu dan Anda baru mengetahuinya belakangan?” Dia menjawab, “Dia tahu buku itu bagus dan menyimpannya. Dia melihat saya mencari sesuatu dan bertanya apa yang saya cari. Saat saya memberitahunya saya mencari buku, dia mengeluarkannya dan memberinya pada saya. Dia juga memiliki amulet dan menunjukkannya pada saya. Saya meminta amulet itu tapi dia tidak memberikannya pada saya.” Saya berkata akan berterima kasih kepada menantu wanita itu secara langsung dan menanyakan nama serta pekerjaannya.

Petugas kebersihan itu memberikan nama, tempat kerja dan alamat menantunya. Saya terkejut, “Sungguh kebetulan!” Menantu laki-lakinya adalah rekan kerja teman sekamar saya, rekan praktisi yang saya kenal setelah saya datang ke Beijing. Teman sekamar saya memberitahunya tentang Dafa dan fakta penganiayaan yang dilakukan PKT. Dia tahu Falun Dafa luar biasa dan menyelamatkan buku itu. Peluang kejadian ini terjadi sangatlah langka, benar-benar mencengangkan! Sekelompok individu yang tampaknya tidak mempunyai koneksi satu sama lain, ternyata justru terhubung bersama oleh Falun Dafa. Jadi buku yang hilang ditemukan kembali.

(Artikel terpilih dalam rangka perayaan Hari Falun Dafa Sedunia 2026 di Minghui.org)