(Minghui.org) Saya berusia 62 tahun dan telah berlatih Falun Dafa (juga dikenal sebagai Falun Gong) selama 30 tahun. Dafa benar-benar mengubah saya dari wanita pendendam menjadi orang yang berpikiran terbuka, tidak terikat dengan keuntungan pribadi, serta mendahulukan kepentingan orang lain. Saya sangat bersyukur atas penyelamatan belas kasih Guru Li. Di sini saya akan membagikan pengalaman saya tentang benar-benar mengultivasi diri di lingkungan keluarga.
Dari Wanita Pendendam Menjadi Menantu Perempuan yang Baik
Lebih dari 30 tahun lalu, di hari saya hendak melahirkan, desa sedang membagikan tanah, dan keluarga meminta saya diam di rumah dan menjaga toko. Saat saya mengalami kontraksi, saya pergi ke ladang untuk mencari suami dan memintanya mengajak saya ke rumah sakit. Dia meminta ibunya untuk pergi bersama saya, namun ibu mertua saya menolak dan mengatakan hal yang tidak membantu. Pada akhirnya, ipar perempuan pergi bersama saya, namun setelah saya melahirkan, dia juga menghilang. Saya merasa dendam dengan ibu mertua karena tidak membantu di saat saya paling membutuhkannya.
Ibu mertua terkenal di desa karena mencaci orang-orang, dan ayah mertua juga menggunakan kata-kata kasar saat sedang kesal. Ketika hal ini terjadi, saya menjadi sangat marah sampai badan terasa lemas, tekanan darah turun dan saya merasa pusing. Saya menyampaikan keluhan itu kepada orang tua saya. Setelah mendengar cerita saya, bibi menghela napas dan berkata, “Kamu bisa menulis buku tentang hal ini.”
Pada musim gugur tahun 1995, saya kembali ke rumah orang tua. Ibu saya berkata, “Jangan kesal lagi. Coba pelajari Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar).” Pikiran saya penuh dengan pertanyaan, “Apakah ada hal semacam itu di dunia?” Pada saat itu, saya merasa seperti sebuah jendela terbuka di hati saya, menyinari segalanya. Saya merasa sudah menunggu sepanjang hidup demi tiga kata ini. Sejak saat itu, saya mulai belajar ajaran Falun Dafa dan melakukan latihan.
Setelah membaca buku-buku Dafa, saya melepaskan kebencian saya terhadap mertua. Saya mulai akur dengan mereka dan mempertimbangkan mereka dalam segala hal yang saya lakukan. Seluruh keluarga kami menjadi harmonis, dan orang lain di desa mengagumi kami. Saya benar-benar berterima kasih kepada Guru. Falun Dafa telah mengubah saya dari wanita pendendam menjadi orang yang memikirkan orang lain.
Setelah 20 Juli 1999, saat Jiang Zemin, mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), memulai penganiayaan terhadap Falun Dafa, polisi sering datang mengganggu saya. Setiap kali itu terjadi, ibu mertua mengusir mereka pergi dan tidak membiarkan mereka menganiaya saya. Seorang petugas muda pernah berkata, “Hubungan kalian sangat baik. Saya tidak pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.”
Suami dan putra saya juga mendukung saya berlatih. Mereka membantu memindahkan materi serta kalender Dafa, dan membantu praktisi lain yang tinggal berpindah-pindah dengan menyediakan makanan serta tempat tinggal bagi mereka. Karena kami memiliki kamar lebih, kami membiarkan mereka tinggal di rumah kami. Saat saya keluar setiap hari untuk mengklarifikasi fakta dan membantu orang-orang mundur dari PKT, mereka mendukung saya dengan melakukan pekerjaan rumah tangga sehingga saya mempunyai waktu untuk melakukan tiga hal yang seharusnya dilakukan oleh praktisi.
Menyelesaikan Keluhan
Suami saya adalah adalah putra sulung dari empat bersaudara. Kami membangun empat kamar yang kami tempati. Mertua memberi kami tanah, batu dan bata, serta sedikit uang. Kami meminjam 8.000 yuan untuk menyelesaikan rumah dan kemudian membayarnya kembali melalui hidup hemat. Ipar laki-laki saya tinggal di tempat lain dan menerima bantuan yang sama dari ibu mertua. Tahun 2011, tanah desa kami disita, dan kami mendapat kompensasi. Properti ibu mertua juga diambil, dan dia mendapat kompensasi.
Kemudian, ayah mertua lumpuh, lalu suami serta adik laki-lakinya membantu merawat ayah mertua. Musim semi lalu, ipar perempuan berkata, “Ibu sudah mengurus ayah selama tiga tahun dan merasa kelelahan. Mari bawa ayah ke panti jompo.” Ipar laki-laki setuju dan menyarankan agar mereka mendiskusikan itu dengan saya.
Suami saya berkata, “Bila ingin mengirim ayah pergi, maka kirim saja ayah. Mereka punya uang. Apa yang perlu didiskusikan?” Namun ibu mertua mengaku bahwa dia tidak punya uang. Ternyata ibu mertua diam-diam memberikan ipar perempuan saya dan suaminya uang lebih dari 700.000 yuan dari kompensasi tanah, sehingga kami yang harus membayar panti jompo bagi ayah. Suami saya berkata pada saudara perempuannya, “Karena kamu sudah mendapat bagian warisan, kamu juga harus berbagi tanggung jawab untuk merawat Ayah.” Ibu mertua saya menangis dan berdebat bahwa putri-putrinya tidak ada kewajiban untuk merawat orang tua mereka yang lanjut usia.
Akibatnya tidak ada yang secara sukarela merawat pasangan lansia berusia 80-an tersebut. Kami tidak menerima uang, namun masih harus merawat mereka. Saya merasa diperlakukan tidak adil dan mengeluh kepada praktisi lain. Saya gagal mencari ke dalam dan menilai situasi dengan pemikiran manusia biasa. Dengan tenang belajar Fa dan berdiskusi dengan rekan praktisi, saya melepaskan kebencian terhadap mertua. Saya juga menjadi paham bahwa hubungan antar manusia didasari oleh hubungan karma dan saya harus mematut diri dengan standar seorang praktisi.
Setelah mendiskusikannya dengan suami saya, kami membawa ayahnya ke rumah kami untuk meringankan beban ibunya. Kami memperlakukannya dengan baik. Saat kondisinya memburuk, kami membayar biaya baju pemakamannya dan mengundang ipar perempuan membantu memilih baju terbaik. Saya memberitahu suami, “Janganlah kita berdebat dengan mereka. Kita harus melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Mereka boleh menyimpan uangnya–kita akan merawat orang tua.”
Orang-orang di desa berkata bahwa praktisi Falun Gong sungguh berbeda, karena kami tidak bersaing dan bertengkar. Salah satu orang berkata, “Mereka tidak mendapatkan uang apapun, namun mereka masih membiayai orang tua.”
Ada yang bahkan berkata itu tidak adil. Saya menjawab, “Saya berlatih Falun Gong, jadi saya mengikuti ajaran Guru. Saya memperlakukan semua orang dengan baik dan tidak terlalu memikirkan uang.”
Kesimpulan
Saya berkultivasi di dalam lingkungan keluarga yang rumit, mematut diri dengan prinsip Falun Dafa, dan menyelesaikan utang karma yang terakumulasi selama kehidupan demi kehidupan. Saya bersyukur kepada Guru atas penyelamatan belas kasihnya, karena mengangkat saya dari neraka, memurnikan saya, dan membimbing saya di jalur yang kembali ke diri saya yang sejati. Dalam waktu yang tersisa, saya akan terus melakukan tiga hal dengan baik, mengultivasi diri dengan rajin, dan akan berupaya memenuhi harapan Guru.
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org