(Minghui.org) Suami adalah seorang penggemar qigong. Dia mencoba banyak latihan qigong tetapi tidak ada yang memikat hatinya. Pada Mei 1995, dia pulang membawa sebuah buku dan berkata, “Saya sangat mengagumi buku ini.” Dia juga mulai melakukan meditasi duduk dan insomnianya segera hilang. Dia menawarkan buku Zhuan Falun kepada saya. Awalnya saya menolak, tetapi saya mulai membacanya setelah dia bersikeras. Putra kami, yang saat itu duduk di kelas satu, mampu membaca sebagian besar buku tersebut. Pada bulan Juni, kami semua berlatih Falun Dafa dan kami mulai melakukan latihan di pagi hari bersama praktisi setempat.
Pertama kali saya membaca Zhuan Falun, saya merasa buku itu mengajarkan kita untuk menjadi orang baik, tetapi saya memiliki beberapa pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itu terjawab setelah saya membacanya untuk kedua kalinya. Saya berulang kali membaca Zhuan Falun dan menyadari bahwa buku ini ditujukan untuk kultivasi tingkat tinggi, untuk mencapai pencerahan. Suami saya juga membaca buku itu berkali-kali. Keluarga kami berkultivasi bersama, dan perbedaan pendapat kami diselesaikan dengan cepat karena kami semua mencari kesalahan masing-masing. Keluarga kami hidup harmonis. Pada akhir pekan dan hari libur, kami pergi bersama untuk berbicara dengan orang-orang tentang Falun Dafa.
Ketika putra kami baru berusia satu bulan, Ia menderita pneumonia dan dirawat di rumah sakit selama seminggu. Setelah itu, Ia mengalami batuk musiman dan membutuhkan pengobatan. Setelah mulai berlatih Dafa, Ia mengalami ketidaknyamanan fisik saat menyingkirkan karma penyakit, tetapi ini hanya terjadi pada akhir pekan atau malam hari, dan Ia mengerti alasannya. Batuk kronisnya segera berhenti.
Partai Komunis Tiongkok (PKT) mulai menganiaya praktisi Falun Dafa pada tanggal 20 Juli 1999. Kami pergi ke pemerintah kabupaten untuk memohon keadilan bagi Falun Dafa dan suami saya ditangkap dan ditahan dua hari kemudian. Saya belum pernah mengalami penganiayaan seperti ini sebelumnya. Saya merasa gelisah, jadi saya mengambil Zhuan Falun dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah ini buku yang bagus? Ya. Apakah kamu akan terus berlatih? Ya! Saya akan terus berlatih!”
Propaganda PKT yang memfitnah Falun Dafa dan guru, Guru Li Hongzhi, disiarkan di setiap saluran televisi sepanjang waktu. Saya dan putra saya tinggal bersama ibu mertua untuk menemaninya. Ia suka menonton TV di malam hari. Setiap kali propaganda menentang Falun Dafa disiarkan, kami mencari kebohongan yang disajikan dalam program tersebut. Misalnya, jelas bagi kami bahwa "bakar diri Tiananmen" direkayasa oleh PKT. Kebohongan dan tuduhan terhadap Dafa sangat jelas. Guru Li tidak bersalah. Kebenaran Dafa berakar di hati putra saya. Meskipun keluarga kami dianiaya dengan berat, putra saya tidak pernah berhenti berlatih. Saya sangat senang akan hal ini.
Suami saya adalah seorang cendekiawan dan Ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar Fa. Ia memiliki pemahaman yang baik tentang ajaran-ajaran tersebut dan memegang teguh standar yang tinggi. Praktisi lain senang meminta bantuannya. Melalui belajar Fa dan mencari ke dalam, suami dapat membantu orang lain dengan cepat menemukan akar permasalahan mereka. Ia bukan seorang pembimbing, tetapi Ia sangat dihormati di kalangan praktisi.
Karena hal ini, suami saya menjadi sasaran polisi setempat. Polisi menangkapnya sebelum semua hari-hari sensitif politik Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dia ditangkap enam kali dan akhirnya dijatuhi hukuman 14 tahun penjara. Saya pergi ke kantor pemerintah setempat untuk mencari keadilan baginya. Saya dan saudara ipar saya pergi ke kantor polisi dan penjara untuk meminta pembebasan suami saya.
Saya terkadang merasa takut. Ketika rasa takut saya muncul, saya teringat apa yang Guru katakan,
“Pikiran lurus yang teguh tak terhancurkan terhadap prinsip kebenaran alam semesta, adalah yang membentuk tubuh vajra yang kokoh bagaikan batu karang dari pengikut Dafa yang baik, menciutkan nyali segenap kejahatan, cahaya kebenaran yang terpancar ke luar mencerai-beraikan unsur pikiran yang tidak lurus dari semua kehidupan. Seberapa kuat pikiran lurusnya, sebesar itu pula keampuhannya. Pengikut Dafa benar-benar sedang melangkah keluar dari manusia biasa.” (“Selingan Dua-Tiga Patah Kata Pula, “ Petunjuk Penting untuk Gigih Maju II)
Saat saya melafalkan bagian ini berulang-ulang, pikiran lurus saya menjadi semakin kuat.
Pada suatu kesempatan, saya dan rekan-rekan praktisi pergi ke penjara untuk meminta pembebasan suami saya. Saat saudara ipar menceritakan penderitaan yang dialami suami saya, petugas penjara itu benar-benar meneteskan air mata saat mendengarkan.
Saya bergabung dengan anggota keluarga lainnya untuk melaporkan penganiayaan terhadap praktisi Dafa yang dipenjara kepada pemerintah provinsi. Saat kami memasuki gedung pemerintah, penjaga bertanya alasan kunjungan kami. Kami memberitahunya tentang penganiayaan terhadap praktisi di penjara tersebut. Penjaga itu berkata: “Selama bertahun-tahun saya di sini, tidak ada yang berani melaporkan penjara ini, saya kagum pada kalian.” Sebagai hasil dari upaya anggota keluarga, kekuatan jahat di dalam penjara tersebut berhasil dimusnahkan.
Saya sangat menghargai setiap kesempatan untuk mengunjungi suami. Selain makanan dan uang, saya berusaha sebaik mungkin untuk membawakan artikel Guru untuknya. Saya ingin suami bisa keluar dari penjara dengan pikiran lurus yang kuat. Ada sebuah adegan dalam film Once We Were Divine, ketika Ling Feng bertemu dengan suaminya, Guang Mingwang, di penjara. Dia menulis puisi Guru di tangannya dan menunjukkannya kepada suaminya melalui jendela kaca:
Sang Maha Sadar tidak takut pada penderitaan
Tekadnya bagaikan dilebur dari intan
Tiada keterikatan pada hidup dan mati
Dengan lapang hati menelusuri jalan pelurusan Fa
(“Pikiran Lurus dan Perbuatan Lurus,”
Hong Yin II)
Adegan ini membuat saya menangis karena saya melakukan hal ini saat mengunjungi suami di penjara.
Suatu hari di tahun 2001, polisi membujuk saya dan suami untuk pergi ke kantor polisi. Kami diinterogasi di ruangan terpisah. Saya digantung di udara. Polisi memasukkan bulu ke telinga saya dan menusuk ketiak saya dengan pena. Saya tidak bereaksi terhadap semua itu. Saya tidak ingat berapa lama saya digantung. Saya hanya punya satu pikiran:
Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar). Para polisi ingin saya mengkritik suami saya. Sikap saya yang mengabaikan siksaan itu mengejutkan polisi sekaligus diri saya sendiri. Saya tahu Guru membantu saya menanggung rasa sakit itu, dan saya merasa Guru ada tepat di samping saya.
Pada tahun-tahun terburuk penganiayaan, pada hari-hari sensitif secara politik, banyak praktisi ditangkap. Saya khawatir. Dalam mimpi, saya melihat banyak pos pemeriksaan di jalan, dan polisi memeriksa tas dan mobil untuk mencari buku dan brosur Falun Dafa. Saya terbang melewati pos-pos pemeriksaan dan menghindari polisi. Saya menyadari bahwa Guru memberi tahu saya bahwa saya tidak boleh dianiaya. Dengan pikira lurus, saya terus melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang praktisi Dafa.
Ketika saya membaca artikel tentang menuntut Jiang (mantan kepala PKT) di situs web Minghui, saya menulis beberapa surat dan mengirimkannya. Tak lama kemudian saya mendengar bahwa polisi setempat memanggil para praktisi untuk rapat setelah mengirimkan surat untuk menuntut Jiang, dan saya merasa gelisah. Saat bermeditasi, saya melihat polisi meringkuk seperti anak anjing di dalam kotak kecil. Saya langsung tahu bahwa polisi bukanlah ancaman bagi saya. Saya mampu dengan tenang mengklarifikasi fakta kepada mereka ketika saya dipanggil untuk rapat. Guru membimbing dan membantu saya.
Salah satu kaki panel surya di rumah saya patah. Tukang reparasi tidak mau mengerjakannya, jadi panel surya itu miring. Merasa frustasi, saya berpikir: Saya pasti bisa memperbaikinya sendiri jika saya tahu caranya. Saat melakukan latihan kedua di hari itu, saya melihat diri saya memperbaiki kaki panel yang patah. Kemudian saya mampu melakukan perbaikan itu sendiri. Saya tahu Guru selalu memperhatikan kita. Banyak pekerjaan mungkin tampak sulit atau bahkan tidak mungkin dilakukan. Ketika saya mengingatkan diri sendiri bahwa Falun Dafa baik, Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar) baik, hal yang mustahil menjadi mungkin.
Seorang tetangga selalu menolak mendengarkan saya berbicara tentang Falun Dafa. Ia kemudian didiagnosis menderita tumor otak. Ada dua tumor, seukuran telur. Ia bertanya kepada saya apakah Ia harus menjalani operasi. Saya menyarankan agar Ia mengucapkan Falun Dafa baik, Zhen- Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar) baik, mungkin dapat menenangkan. Kali ini, Ia bersedia mendengarkan dan mengakui bahwa Ia sekarang memahami fakta kebenaran di balik penganiayaan terhadap Falun Dafa.
Dia dapat berbicara setelah sadar dari operasi dan berkata, Falun Dafa baik, Zhen- Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar) baik. Dokternya menyebut kasusnya sebagai kasus mukjizat. Jenis operasi ini memiliki tingkat kematian yang tinggi dan mereka yang selamat dari operasi sering kali tetap koma. Dia diberitahu bahwa dia hanya hidup lima tahun lagi.
Itu 13 tahun yang lalu. Tetangga saya masih baik-baik saja. Dia menghabiskan sepuluh tahun terakhir merawat ibunya yang sudah lanjut usia sampai ibunya meninggal pada usia 101 tahun. Dia melafalkan kalimat Falun Dafa setiap hari.
Saya bersyukur atas belas kasih Guru. Tanpa bimbingan Guru dan Dafa, saya tidak akan berada di tempat saya saat ini. Satu-satunya cara bagi saya untuk membalas jasa Guru adalah dengan membantu Guru menyelamatkan lebih banyak orang, mengikuti ajaran Guru, dan belajar Fa.
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org