(Minghui.org) Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81 pada 17 Agustus, praktisi Falun Dafa dari berbagai daerah berkumpul di Yogyakarta untuk mengikuti serangkaian kegiatan selama akhir pekan. Mereka memperkenalkan manfaat latihan ini, menyoroti penganiayaan yang masih berlangsung di Tiongkok, serta merayakan kebebasan.
Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pembentukan Lambang Falun dan parade di Candi Prambanan pada 15 Agustus, yang dilanjutkan dengan parade di Jalan Malioboro pada keesokan harinya. Kegiatan mereka mendapat apresiasi dari warga setempat maupun para pengunjung.
Pembentukan Lambang Falun di Candi Prambanan
Pada 15 Agustus 2026, 366 praktisi Falun Dafa berpakaian kuning, merah, biru, hitam dan putih membentuk lambang Falun berwarna-warni di Candi Prambanan, sebuah candi bersejarah yang terletak sekitar 16 kilometer dari Yogyakarta. Sebagai salah satu situs Warisan Dunia UNESCO, candi ini menarik ribuan pengunjung lokal dan internasional setiap hari.
Lambang Falun (juga dikenal sebagai roda hukum) adalah lambang Falun Dafa. Terdiri dari simbol Swastika dari aliran Buddha dan simbol Yin Yang dari aliran Tao yang disusun dalam formasi melingkar, mencerminkan akar latihan ini dalam spiritual Tiongkok kuno.
Pembentukan Lambang Falun praktisi berukuran diameter 30 meter (sekitar 32 yard). Keseluruhan formasi, termasuk barisan praktisi di sekelilingnya, membentang sepanjang kurang lebih 47 meter (sekitar 51 yard). Praktisi yang berpartisipasi berkisar dari remaja hingga orang berusia 70-an. Meskipun terik matahari, mereka berdiri teguh untuk membantu lebih banyak orang mengetahui tentang Falun Dafa dan nilai-nilai positif dari Zhen-Shan-Ren (Sejati, Baik, Sabar).

Praktisi membentuk lambang Falun berwarna-warni di Candi Prambanan, Yogyakarta pada 15 Agustus. (Minghui.org)
Kebaikan dan Ketidakegoisan

Ni Nyoman Partini dari Bali (Minghui.org)
Ni Nyoman Partini, seorang praktisi Falun Dafa berusia 24 tahun dari Bali, berpartisipasi dalam acara di Yogyakarta. Dia mulai berlatih Falun Dafa bersama orang tuanya sejak kecil.
Partini berkata, "Seiring bertambahnya usia, saya mulai membaca Zhuan Falun, buku utama Falun Dafa, dan perlahan-lahan saya semakin memahami ajarannya. Saya juga melakukan latihan. Saya akhirnya menyadari bahwa apa yang diajarkan Falun Dafa bukan sekadar untuk dibaca, namun untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari.”
Dia memperhatikan bahwa berlatih Falun Dafa meningkatkan karakternya: "Ketika masih kecil, saya cukup egois dan tidak suka berbagi dengan orang lain. Saya juga sangat sensitif. Setelah mulai berlatih Falun Dafa, sudut pandang saya berangsur-angsur berubah. Saya dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Saya sekarang juga bersedia untuk berbagi."
Inilah mengapa dia percaya prinsip Falun Dafa Zhen-Shan-Ren (Sejati, Baik, Sabar) sangat penting bagi anak muda: “Saya percaya bahwa memiliki karakter yang baik dan menjadi orang yang lebih baik sama pentingnya dengan pencapaian akademis dan karir.”

Wan San dari Batam (Minghui.org)
Wan San, seorang praktisi berusia 57 tahun dari Batam, sangat berterima kasih kepada Falun Dafa. Dia berkata, “Setelah mulai melakukan latihan, saya merasa bahagia dan damai.” “Seiring terus berlatih, saya menyadari bahwa beberapa masalah kesehatan saya seperti sakit kepala migrain dan iritasi kulit telah hilang.”
Wan mengatakan latihan ini juga mengubah cara dia memperlakukan orang lain. “Sebagai pemilik usaha, saya sering memarahi karyawan setiap kali mereka melakukan kesalahan. Namun, setelah membaca Zhuan Falun dan mempelajari prinsip Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar), saya mulai menyesali kebiasaan itu.”
Wan menjadi lebih berbelas kasih dan toleran. Dia menambahkan, “Ketika saya mengubah cara memperlakukan karyawan, saya juga melihat perubahan positif dalam lingkungan bisnis saya.”
Partini maupun Wan mengatakan berpartisipasi dalam pembentukan lambang Falun membantu mereka melatih kesabaran dan kerja sama tim.
Parade Hari Kemerdekaan
Dipimpin oleh Tian Guo Marching Band, praktisi Falun Dafa berparade mengelilingi Candi Prambanan, menempuh rute sepanjang dua kilometer. Penonton memberikan tepuk tangan atas penampilan praktisi serta mengabadikan momen tersebut dengan mengambil foto dan video menggunakan ponsel mereka.
Parade praktisi Falun Dafa di Candi Prambanan pada 15 Agustus. (Minghui.org)

Penonton mempelajari tentang Falun Dafa dan penganiayaan di Tiongkok. (Minghui.org)

Nanik, manajer pemasaran Candi Prambanan (Minghui.org)
Nanik, manajer pemasaran Candi Prambanan, menyambut baik partisipasi praktisi dalam perayaan Hari Kemerdekaan. Dia mengatakan praktisi meninggalkan kesan positif pada dirinya, terutama karena semangat dan stamina mereka yang tak kunjung padam. Dari persiapan pagi hari hingga parade di sore hari, mereka tetap antusias dan penuh energi. Nanik berterima kasih atas partisipasi mereka dan mengatakan dia tertarik mempelajari Falun Dafa lebih lanjut.

Eko dan Anita (Minghui.org)
Eko dan istrinya Anita juga terkesan dengan penampilan praktisi. Eko berkata, "Paradenya bagus dan menarik. Sungguh luar biasa anggota marching band bisa bermain dengan harmoni walaupun mereka dari berbagai usia.”

Keluarga dari Jawa Timur (Minghui.org)
Sebuah keluarga dari Provinsi Jawa Timur juga menikmati parade tersebut. Dewi, sang istri, berkata, "Saya benar-benar terkesan dengan praktisi Falun Dafa. Barisan parade mereka sangat rapi dan terorganisir dengan baik. Sungguh luar biasa!"

Purwaningsih (paling kanan) dan keluarganya (Minghui.org)
Purwaningsih, seorang pengunjung dari Kulon Progo, mengaku sangat tertarik dengan prinsip Zhen-Shan-Ren (Sejati, Baik, Sabar). Dia berkata, “Saya menyukai nilai-nilai ini dan ingin mendorong anak saya untuk melakukan hal yang sama.” “Dengan cara ini dia bisa lebih mengelola emosinya dan menjadi lebih sabar saat menghadapi kesulitan hidup.”

Robert (kiri) percaya Falun Dafa dapat membantu menciptakan kedamaian di masyarakat. (Minghui.org)
Robert, seorang turis, berkata ketika dia menyaksikan parade, "Jika semua orang di Indonesia bisa berlatih Zhen-Shan-Ren (Sejati, Baik, Sabar), saya yakin tidak akan ada konflik antar agama atau antar kelompok etnis dan budaya yang berbeda. Itulah harapan saya—agar semua orang bisa hidup damai dan negara kita bisa terus berkembang."

Martina (paling kanan) dan dua temannya dari Italia (Minghui.org)
Martina dan dua temannya dari Italia mengatakan mereka terpesona dengan parade praktisi Falun Dafa di Candi Prambanan. Martina meneteskan air mata dan berkata bahwa dia terkejut ketika mendengar bagaimana Partai Komunis Tiongkok (PKT) menganiaya praktisi, termasuk mengambil paksa organ mereka.
"Tindakan seperti itu kejam dan tidak manusiawi. Saya tidak bisa membayangkan orang-orang menyakiti siapa pun hanya karena keyakinan mereka," katanya. Martina mengatakan dia akan menandatangani petisi online dan berharap dukungannya akan membantu mengakhiri penganiayaan.
Parade di Jalan Malioboro
Pada 16 Agustus, praktisi kembali mengadakan parade Hari Kemerdekaan di Jalan Malioboro. Dimulai dari gedung Parlemen, parade menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer (hampir satu mil). Meskipun rutenya relatif pendek, banyak orang berjajar di jalan, bertepuk tangan, dan mengambil foto serta video. Hartoyo, seorang pengunjung yang menyaksikan parade, berseru, “Paradenya sangat bagus!”
Parade di sepanjang Jalan Malioboro pada 16 Agustus untuk merayakan Hari Kemerdekaan. (Minghui.org)

Siti Sukaisih (tengah) berkata bahwa prinsip panduan Falun Dafa adalah baik. (Minghui.org)
Siti Sukaisih, yang sedang mengunjungi Yogyakarta dari Provinsi Jawa Barat, sedang menikmati kota sambil berdiri di Jalan Malioboro ketika parade Falun Dafa lewat. Ini adalah pertama kalinya dia melihat parade Falun Dafa dan menurutnya itu “spektakuler dan indah.” Dia menambahkan, “Zhen-Shan-Ren (Sejati, Baik, Sabar) sungguh luar biasa.”

Sherly dan Anisa (Minghui.org)
Sherly dan Anisa dari Sumatera sedang berlibur di Yogyakarta dan kebetulan melihat parade tersebut. Sherly berkata, “Ini pertama kalinya kami melihat parade Falun Dafa. Sangat indah dan menawan sehingga sulit diungkapkan dengan kata-kata.”
Dua petugas keamanan juga memberikan pujian. Salah satu dari mereka berkata, "Saya pikir banyak orang yang menonton parade merasa terharu. Prinsip Zhen-Shan-Ren (Sejati, Baik, Sabar) sangat penting. Saya yakin penonton akan mendapatkan banyak manfaat dengan menonton parade."
Petugas lainnya menambahkan, "Saya suka musik yang dibawakan oleh Tian Guo Marching Band. Melodinya sangat indah, dan anggota band terlihat segar dan ramah." Mereka berdua berharap penganiayaan segera berakhir.

Siti dan putranya menyukai parade. (Minghui.org)
Siti, seorang pengunjung, percaya bahwa Zhen-Shan-Ren (Sejati, Baik, Sabar) sangat dibutuhkan di masyarakat saat ini: "Nilai-nilai ini sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Latihan ini tidak pantas dianiaya di Tiongkok."
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org






