(Minghui.org) Saya ingin berbagi beberapa pengalaman setelah lebih dari 20 tahun berkultivasi Falun Dafa.

Tumbuh di Bawah Bayang-bayang Ketakutan

Saya lahir pada tahun 1950-an. Ayah bekerja sebagai pegawai pemerintah hingga Partai Komunis Tiongkok (PKT) melabelinya sebagai “kaum kanan” dan mengirimnya ke kamp kerja paksa saat dia berusia 29 tahun. Saat itu, saya baru berusia dua tahun dan ibu sedang mengandung adik laki-laki saya. Selama masa penahanan ayah di kamp kerja paksa, saya dan ibu tinggal bersama kakek dari pihak ibu di Kota Chengde, Provinsi Hebei. Untuk menopang kehidupan keluarga, ibu mencari pekerjaan.

Sebelum masa hukumannya di kamp kerja paksa berakhir, ayah berkata, “Di kampung halaman, orang-orang kekurangan makanan.” Hanya karena ucapan ini, pihak berwenang memperpanjang masa hukumannya di kamp kerja paksa. Saya baru bertemu kembali dengan ayah lima tahun kemudian. Sekitar waktu itulah, keluarga kami dipindahkan ke daerah pedesaan di pinggiran Provinsi Liaoning. Demi menyatukan kembali keluarga, ibu mengundurkan diri dari pekerjaannya di Kota Chengde.

Kehidupan keluarga kami yang damai tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, ayah dicap sebagai “kontra-revolusioner” dan menjadi sasaran kecaman serta pemukulan di depan umum. Dengan label “anak anjing,” saya dan adik hidup di bawah diskriminasi yang terus-menerus. Saat musim dingin, teman-teman sekelas adik sering menggunakan pengait tungku yang dipanaskan hingga membara merah di tungku dalam ruangan untuk membakar pakaian berlapis kapas dan wajah adik saya, sambil berkata, “Mari kita lihat apakah kamu bisa bersikap baik, dasar bocah nakal.”

Kakek dari pihak ayah dicap sebagai tuan tanah selama Gerakan Empat Pembersihan, kampanye melawan tuan tanah dan musuh kelas. Keluarga itu diusir dari kompleks tempat tinggal mereka dan dipaksa tinggal di sebuah rumah kecil berdinding tanah liat dengan luas kurang dari 10 meter persegi. Ketika Revolusi Kebudayaan dimulai pada tahun 1966, keluarga kakek kembali menjadi sasaran. Kakek dan beberapa orang lain yang mendapat label serupa dipukuli setiap hari. Akhirnya, kakek meninggal dunia akibat penganiayaan tersebut. Kakek dari pihak ibu memiliki sebuah pabrik di Chengde sebelum berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) berkuasa, dia dipaksa menyerahkan pabriknya kepada negara. Meskipun sudah berusia 70-an tahun, dia harus menjalani sesi kecaman dan pemukulan di depan umum setiap hari selama Revolusi Kebudayaan sembari tetap bekerja di pabrik mencuci kain minyak. Akhirnya, dia jatuh sakit dan ibu saya membawa adik laki-laki saya untuk merawatnya, serta meninggalkan saya dan ayah.

Selama tahun-tahun itu, ayah dipaksa menghadiri sesi kecaman dan pemukulan di depan umum hampir setiap malam. Karena takut tinggal sendirian di rumah, saya sering menemaninya ke sesi-sesi tersebut. Saya melihat tujuh atau delapan orang berlutut di atas bangku yang lebarnya hanya beberapa inci, dan dicambuk dengan cambuk kulit dan ikat pinggang. Korban lainnya dipukuli secara fisik. Mereka yang ambruk diperintahkan untuk naik kembali dan berlutut di bangku itu lagi dengan wajah bengkak akibat penganiayaan tersebut.

Betapa saya berharap ada seseorang yang mau menolong saya dan ayah! Namun, tak ada seorang pun yang berani. Saya sangat merindukan ibu dan berharap dia serta adik akan segera kembali. Saya sering berlari ke jalan yang dilalui ibu saat meninggalkan desa untuk menanti kepulangannya dengan penuh harap setiap hari!

Suatu hari, saya menderita penyakit gondongan yang parah. Benjolan sebesar bakpao tumbuh di sekitar rahang saya, yang memaksa saya menopang benjolan itu dengan tangan setiap kali berjalan. Ketika ayah meminta izin kepada ketua timnya untuk membawa saya berobat ke dokter, ketua tim produksi itu tidak hanya menolak tetapi juga berkata, “Lebih baik kalau bocah itu mati saja.” Saat rasa sakitnya tak tertahankan lagi, ayah membawa saya menemuinya. Setelah melihat betapa parahnya penyakit saya, ketua tim itu akhirnya setuju. Di rumah sakit umum, seorang dokter gemuk bermarga Tong mengatakan bahwa dia perlu membuat sayatan kecil untuk mengeluarkan nanah dan darah. Namun, karena status saya sebagai “anak haram”, operasi hanya bisa dilakukan tanpa bius. Ayah memegangi tubuh saya di tengah jeritan kesakitan sembari dia menangis.

Saat itu, saya masih duduk di bangku sekolah dasar dan tim kerja sering mendatangi saya hampir setiap hari yang mendesak untuk mengecam ayah. Saya berkata kepada mereka, “Ayah hanya menyuruh saya belajar dengan giat. Dia tidak pernah melontarkan pernyataan kontra-revolusioner apa pun.” Penolakan saya berujung pada skorsing sekolah selama tiga bulan.

Sekitar musim panas tahun 1976, seorang paman di desa, yang tak sanggup lagi menanggung kecaman serta penyiksaan di depan umum yang berkepanjangan ditambah lagi dengan pernyataan putrinya yang memutuskan hubungan dengannya, mengakhiri hidupnya dengan meminum tawas.

Peristiwa ini membangkitkan ketakutan baru akan kehilangan ayah sehingga saya pun menjaganya dengan saksama. Suatu hari, tak lama setelah kematian paman Li, ayah menggiling sekarung sorgum dan sekarung tepung jagung. Dia berpesan kepada saya, “Saat cuaca panas, biarkan karung-karung biji-bijian itu terbuka agar isinya tidak berjamur atau diserang serangga."

Suatu malam, saya terbangun dan mendapati ayah telah menghilang. Mengesampingkan rasa takut pada kegelapan, saya berlari dengan panik menuju tikungan sungai. Di sebuah rumpun pepohonan, saya melihat ayah hendak gantung diri menggunakan seutas tali. Saya berlari menghampiri dan memeluknya sambil menangis, “Ayah, Ayah tidak boleh mati! Saya tidak bisa hidup tanpa Ayah!” Ayah menendang saya hingga terjauh dan berkata, “Tolong biarkan saya pergi. Saya sudah tidak tahan lagi.”

Saya segera bangkit dan memeluk kaki ayah sambil memohon, “Ayah, jika besok ada sesi penyiksaan lagi, biarkan mereka memukul saya saja. Saya yang akan menanggung pukulan itu untuk Ayah! Ayah, saya takut! Saya ingin pulang!”

Karena saya berteriak begitu keras, ayah menjadi ketakutan. Jika tim produksi mengetahui upaya bunuh dirinya, dia akan dihukum jauh lebih berat. Menghadapi permohonan saya, ayah mengurungkan niat bunuh dirinya dan membawa saya pulang. Baru saat itulah, saya menyadari bahwa ayah telah menyiapkan dua karung biji-bijian untuk menyambung hidup saya setelah kematiannya. Meski terus-menerus disiksa, ayah tetap bertahan hidup demi saya.

Kakek dari pihak ibu akhirnya meninggal dunia akibat kanker. Ibu dan adik laki-laki saya kembali ke rumah dari Chengde setelah mengurus pemakaman Kakek.

Secara keseluruhan, masa kanak-kanak, remaja, dan masa muda saya habis di bawah bayang-bayang tirani PKT.

Pada tahun 1980, rezim PKT menganggap ayah telah “direhabilitasi” dan mencabut label “kaum kanan” yang disematkan padanya. Di mata masyarakat, PKT dianggap telah memperbaiki kesalahannya. Namun, bisakah penderitaan bertahun-tahun itu ditebus hanya dengan kata “rehabilitasi”? Setelah menghabiskan separuh hidupnya di bawah penindasan tirani PKT, siksaan tersebut berdampak buruk pada kesehatan ayah. Dia menderita kanker lambung dan tidak lama bertahan hidup. Dia meninggal dunia pada usia 62 tahun.

Memperoleh Kesehatan Fisik dan Mental Setelah Berlatih Falun Dafa

Penyiksaan mental dan fisik yang dilakukan PKT secara sistematis terhadap ayah meninggalkan trauma mendalam pada saya. Saya mulai sering mengalami kejang-kejang, kondisi yang tidak membaik bahkan setelah saya menikah. Seiring berjalannya waktu, saya menderita berbagai penyakit lain yang semakin menambah penderitaan. Pada tahun 1997, saya mengenal Falun Dafa (yang juga dikenal sebagai Falun Gong). Falun Dafa memurnikan tubuh saya dan menyembuhkan segala penyakit saya. Sejak saat itu, saya bertekad untuk berkultivasi dengan teguh dan mengikuti Guru Li sampai akhir, dengan mengesampingkan apa pun kesulitan yang saya hadapi.

Disiksa dengan Kejam oleh Polisi

Ketika PKT mulai menganiaya Falun Gong pada Juli 1999, saya ditahan di Beijing saat berupaya mengajukan permohonan banding menentang penganiayaan tersebut. Kemudian, saya dibebaskan. Pada Oktober 2000, saya kembali ditangkap oleh polisi dan dibawa ke kantor keamanan politik wilayah setempat. Di sana, petugas berkata, “Kami tahu situasi kamu. Sebaiknya kamu mengaku saja.” Mereka mengatakan ingin mengetahui identitas rekan-rekan praktisi saya. Ketika saya menolak menjawab, mereka merenggut mantel saya, memaksa saya berlutut di tanah, dan menahan tubuh saya. Dua petugas menginjak punggung kaki saya sambil melontarkan caci maki.

Setelah beberapa saat, mereka mengikat saya dengan seutas tali dan mencekik leher saya begitu erat hingga saya hampir tidak bisa bernapas. Hingga kini, masih ada benjolan besar di leher akibat kejadian itu. Kemudian, sambil menjambak rambut, mereka membenturkan kepala saya ke dinding. Rasa sakitnya begitu hebat hingga saya kehilangan kesadaran. Belakangan, saya mendengar orang-orang berteriak kepada saya namun saya tidak bisa membuka mata. Lalu, seseorang berteriak, “Siram dia dengan air!” Setelah sadar kembali, saya mendapati diri saya tidak bisa duduk karena rasa sakit yang luar biasa. Kepala saya dipenuhi benjolan sebesar telur dan pikiran saya terasa kacau serta berat. Kemudian, polisi menendang payudara saya dengan sepatu kulit mereka hingga saya pingsan lagi. Saat sadar kembali, rasanya seolah-olah saya telah buang air besar di celana. Saya meminta izin ke toilet tetapi polisi menolak; mereka mengatakan saya tidak akan diizinkan pergi meskipun usus saya sampai terburai keluar. Meskipun usia saya hampir 50 tahun, polisi terus memukuli saya selama lebih dari delapan jam.

Sekitar pukul 02:00, beberapa polisi menyeret saya ke sel di pusat penahanan. Kaki saya terus mengalami kram sepanjang malam hingga fajar menyingsing.

Keesokan paginya, polisi menyeret saya keluar dari sel untuk interogasi lebih lanjut. Enam polisi memukuli saya. Ketika saya menolak bicara, mereka mematahkan sendi bahu saya hingga lepas dari posisinya. Saya menahan rasa sakit yang luar biasa itu dan tetap bungkam. Kemudian, mereka membawa saya kembali ke sel tahanan.

Pada hari ketiga, mereka menyeret saya keluar pada pukul 08:00. Dengan dalih bahwa tindakan mereka demi kebaikan saya sendiri, mereka berkata, “Jika kamu bisa menyebutkan nama rekan praktisi lain, kami akan membiarkan kamu pulang.” Rasa sakitnya begitu hebat hingga saya hampir kehilangan kesadaran, namun saya tetap menolak untuk mengucapkan sepatah kata pun.

Pada hari keempat, saya dibawa ke sebuah ruangan tempat saya bertemu keluarga. Komandan regu memberi tahu kami bahwa kami memiliki waktu setengah jam; adik perempuan memeluk saya sambil menangis. Paman, yang berusia lebih dari 70 tahun, berkata, “Katakan saja apa pun yang ingin mereka dengar! Tidak ada manusia yang sanggup bertahan menghadapi siksaan seperti ini.” Mata saudara laki-laki saya memerah karena air mata. Dia mengulurkan tangannya ke arah saya dan berkata, “Kakak, kami sudah bertahun-tahun mengkhawatirkan kamu. Bagaimana kami bisa melanjutkan hidup jika kakak meninggalkan kami?” Kemudian, saudara perempuan saya berlutut di kaki saya dan memohon agar saya menyerah.

Hati saya hancur berkeping-keping. Terlepas dari perbuatan jahatnya, PKT tetap tak tersentuh. Sebaliknya, orang-orang yang saya kasihi dipaksa tunduk pada kehendak PKT dan hanya bisa membujuk saya untuk mengikuti keinginan PKT. Hanya roh jahat yang akan memaksa rakyatnya memilih antara keluarga dan keyakinan. Sambil menahan air mata, saya menyuruh mereka pulang tanpa saya.

Pada pukul 08:00 di hari kelima, petugas polisi membawa saya keluar dari sel dan memukuli saya. Namun, ketika saya terus menolak tuntutan mereka, mereka mengubah taktik dan mulai membujuk saya agar menyerah. “Apakah kamu pernah bertemu dengan Guru kamu? Mengapa repot-repot? Kami harus melakukan apa pun yang diperintahkan Jiang Zemin kepada kami. Saat Guru kamu menjadi presiden negara ini, saya yakin kamu akan diangkat menjadi perdana menteri.” Saya menjawab, “Kultivator tidak memedulikan kekuasaan duniawi.”

Kemudian, saya menjelaskan kepada mereka mengapa Jiang Zemin begitu bersikeras menganiaya Falun Dafa, bagaimana Falun Dafa dilatih di seluruh dunia, dan didukung oleh pemerintah berbagai negara. Saya menceritakan penderitaan yang saya alami selama Revolusi Kebudayaan dan bahwa para Buddha akan turun ke Bumi pada masa-masa tertentu untuk menyelamatkan umat manusia. Saya juga berkata, “Kita masing-masing mampu berpikir secara mandiri. Jika Falun Gong benar-benar buruk, apakah dia memerlukan kampanye propaganda dan sumber daya yang begitu besar untuk memfitnah latihan ini? Jiang Zemin berencana melenyapkan Falun Gong dalam waktu tiga bulan namun mengapa jumlah praktisinya justru semakin banyak? Falun Gong melampaui batas negara, ras, budaya, dan bahasa, serta telah diakui oleh para praktisi di seluruh dunia. Demi keselamatan diri dan keluarga Anda, mohon perlakukan Dafa dengan baik!” Tertegun hingga tak bisa berkata-kata, para interogator membantu saya kembali ke pusat penahanan. Saat kami menyusuri lorong panjang, rekan tahanan berkumpul dan memandang saya dengan penuh kekaguman. Beberapa bahkan mengacungkan jempol dan berkata, “Guru Anda sungguh hebat!”

Pada hari keenam, polisi membawa saya ke sebuah ruangan di pusat penahanan. Seorang polisi berkata, “Kamu pasti akan dijatuhi hukuman penjara. Kamu akan menjadi wanita lansia saat dibebaskan nanti. Tidakkah kamu bisa mengatakan sesuatu untuk menyelamatkan diri sendiri?” Yang lain berkata, “Jangan membenci kami meskipun kami memukul kamu. Jika saja kamu memberikan informasi yang kami inginkan, kami tidak akan memukul.” Saya bangkit untuk pergi, namun hampir terjatuh karena luka-luka yang saya derita. Setelah mereka membawa saya kembali ke sel, saya mendapati diri saya tidak mampu berdiri. Rekan praktisi merawat saya, sementara rekan tahanan memberikan mi instan dan apel melalui jeruji sel sembari berkomentar betapa baik dan luar biasanya Falun Gong! Sayangnya, saya tidak bisa makan apa pun.

Lebih dari sebulan kemudian, saya dibawa ke lantai 5 gedung Brigade Keamanan Politik wilayah setempat. Seorang pemimpin dari Kantor 610 kota masuk ke ruangan ditemani oleh beberapa orang lainnya. Tanpa sepatah kata pun, dia menarik lengan kanan dan kiri saya ke belakang lalu memborgol kedua lengan secara menyilang di punggung. Kemudian, dia menyisipkan botol bir ke celah antara lengan dan punggung untuk mengencangkan borgol. Dengan garang dia berkata, “Orang paling tangguh sekalipun tidak akan sanggup bertahan satu jam. Seseorang akan menjadi cacat dalam waktu dua jam. Hukuman ini akan memaksa pengakuan bahkan dari pembunuh yang paling keji sekalipun.” Kemudian, dia berkata, “Kami telah mengurus kasus kamu hingga larut malam dan tidak bisa pulang. Apa sebenarnya yang ingin kamu capai?”

Mereka juga berulang kali memukul dan menendang saya. Lengan dan tangan saya membengkak, terasa panas, dan mati rasa setelah satu jam penyiksaan. Kemudian, pemimpin itu meremas tangan saya dengan keras. Rasa sakitnya begitu hebat, seolah-olah tulang-tulang saya sedang diremukkan. Keringat bercucuran di wajah dan saya mulai muntah. Pada saat itu, saya teringat ajaran Guru,

“Yang saya inginkan adalah pengikut yang Xiulian dengan terbuka bermatabat, Dewa agung yang bagai intan tak terhancurkan.” (“Menyingkirkan Gangguan,” Petunjuk Penting untuk Gigih Maju II)

Saya bertekad dalam hati bahwa saya tidak akan pernah menyerah.

Setelah beberapa saat, pemimpin itu menghampiri saya. Sambil menarik rambut saya ke belakang dengan satu tangan, dia menggunakan tangan lainnya untuk menekan dagu saya ke bawah, lalu berkata dengan nada jahat, “Saya sudah menangani berbagai kasus selama lebih dari 20 tahun. Penjahat mana pun pasti akan bicara kepada saya. Saya tidak percaya kamu tidak akan bicara.” Saya tetap diam selama tiga jam sepuluh menit berikutnya. Akhirnya, saat mereka melepas borgol untuk jam makan siang, saya pingsan. Pemimpin tim menyiramkan air dingin ke tubuh untuk menyadarkan saya, meskipun cuaca saat itu sangat dingin. Kemudian, dia bertanya, “Apakah kamu melafalkan ajaran Guru kamu untuk bertahan melewati sesi interogasi?” Saya menjawab, “Ya.” Dengan nada skeptis, dia berkata kepada petugas lain, “Lengannya panjang. Kita belum menariknya sampai batas maksimal.”

Tiga hari kemudian, mereka membawa saya keluar dari sel lagi. Kepala Kantor 610 menghadirkan dua orang yang tidak saya kenal di hadapan saya dan berkata, “Para pejabat penting dari kota dan wilayah ada di sini. Apakah kamu bersedia menurut?” Saya menderita sakit kepala yang hebat dan rasa mual. Tepat saat saya hendak muntah, saya kehilangan kesadaran. Menyadari bahwa mereka telah melukai saya begitu parah hingga saya tidak akan lolos pemeriksaan medis yang diperlukan untuk masuk penjara atau kamp kerja paksa, polisi memeras keluarga saya sebesar 10.000 yuan sebagai imbalan atas pembebasan saya.

Cedera akibat penyiksaan terakhir itu membuat saya tidak mampu mengurus diri sendiri selama tiga tahun berikutnya. Saya membutuhkan bantuan untuk segala hal, seperti membasuh muka, menyisir rambut, dan berpakaian.

Memancarkan Pikiran Lurus dan Melafalkan Ajaran untuk Melawan Cuci Otak

Pada tahun 2010, saya ditangkap lagi dan diinterogasi di kantor polisi kota. Saya tetap tenang, berpikiran jernih, dan tidak takut, karena saya tahu bahwa Guru ada di sisi saya. Saya menolak menandatangani apa pun dan justru menceritakan tentang Falun Dafa kepada para petugas interogasi. Saya berkata, “Saya sama sekali tidak akan menandatangani apa pun.” Seorang polisi menyahut, “Jika kamu tidak mau menandatangani, saya yang akan menandatanganinya untuk kamu.” Saya berkata kepadanya, “Nak, pertemuan kita ini diatur oleh takdir. Tanpa kesempatan ini, kita akan tetap menjadi orang asing. Falun Dafa adalah Hukum alam semesta. Tanpa Dafa, Bumi pun tidak akan ada. Profesi Anda memiliki tanggung jawab untuk menegakkan kebenaran, jadi Anda harus menjadi orang baik. Jika Anda benar-benar ingin menandatangani untuk saya, tulis saja ‘Falun Dafa baik.’ Itu akan membawa manfaat bagi keturunan Anda.” Polisi itu mendengarkan nasihat saya dan menulis “Falun Dafa baik” di atas kertas tersebut. Saya terharu hingga meneteskan air mata pada saat itu.

Beberapa hari kemudian, mereka mengirim saya ke Kamp Kerja Paksa Masanjia. Sepanjang perjalanan ke sana, saya terus berseru, “Falun Dafa baik! Falun Dafa adalah Hukum alam semesta!”

Setibanya di Kamp Kerja Paksa Masanjia, para penjaga menugaskan dua orang untuk mendampingi saya selama 24 jam sehari, dengan harapan dapat membujuk saya untuk mengubah pendirian. Beberapa mantan praktisi yang telah meninggalkan Falun Dafa juga dikirim untuk mendampingi saya. Saat mengetahui bahwa para mantan praktisi ini bahkan tidak bisa melafalkan ajaran Guru, “Lunyu”, saya berinisiatif untuk mengajarkannya kepada mereka dan berhasil menyelesaikan tugas tersebut dalam waktu 10 hari. Setelah itu, para penjaga mengirim berbagai orang dari kota lain untuk menemui saya dengan harapan dapat mengubah pendirian saya. Namun, berkat pikiran lurus saya yang kuat, upaya mereka sia-sia belaka.

Saya menghabiskan waktu satu tahun di Masanjia sebelum dibebaskan. Selama itu, saya terus-menerus memancarkan pikiran lurus dan melafalkan ajaran Guru Li, seperti “Lunyu.”

Memanfaatkan Setiap Kesempatan untuk Mengklarifikasi Fakta Kebenaran

Saya biasanya ikut serta dalam perjalanan liburan musim panas dan musim dingin bersama putri dan cucu-cucu saya sembari mengklarifikasi fakta kebenaran Falun Dafa ke mana pun saya pergi. Suatu kali, saat berada di pesawat, saya duduk di sebelah seorang pemuda. Meskipun ingin mengklarifikasi fakta kepadanya, saya sadar ada risiko dia akan melaporkan saya kepada pihak berwenang. Saya berkata dalam hati, “Begitu turun dari pesawat ini, saya tidak akan punya kesempatan lagi. Saya adalah pengikut Dafa di masa pelurusan Fa yang memikul tugas untuk mengklarifikasi fakta dan menyelamatkan kehidupan. Saya harus bertindak sesuai dengan peran tersebut.” Saya pun mulai mengklarifikasi fakta kepada pemuda itu dan dia setuju untuk mundur dari PKT (Partai Komunis Tiongkok) serta organisasi-organisasi afiliasinya.

Pada kesempatan lain, saya berpartisipasi dalam upaya menyelamatkan putra seorang rekan praktisi yang ditahan sewenang-wenang dan tidak diizinkan menerima kunjungan. Kami membawa sejumlah materi klarifikasi fakta dan mendatangi kantor polisi setempat untuk mengajukan permohonan. Staf yang menerima kami membaca materi tersebut, lalu menyerahkan selebaran itu kepada pemuda di sebelahnya. Kemudian, dia bertanya, “Dari mana Anda mendapatkan ini?” Saya menjawab, “Menerima ini adalah sebuah berkah. Anda akan mengerti setelah membacanya. Ini akan menjamin masa depan yang cerah bagi Anda.” Keinginan tulus saya untuk membantu semua makhluk hidup menyentuh hati staf tersebut, yang kemudian berkata kepada saya, “Naiklah taksi ke biro administrasi penjara dan katakan bahwa Anda diizinkan untuk berkunjung.”

Saya pernah pergi ke Pengadilan Rakyat Tingkat Menengah untuk membantu menyelamatkan seorang rekan praktisi. Saya merasa agak takut saat harus menyerahkan kartu identitas untuk pendaftaran. Namun, saya menguatkan diri dengan keyakinan bahwa Guru dan Dafa akan selalu mendampingi saya. Setelah masuk, saya bertemu dengan kedua hakim dan menceritakan kepada mereka tentang Falun Dafa. Awalnya, mereka memalingkan kursi dan wajah, dan berusaha mengabaikan saya. Saat saya terus berbicara, salah seorang hakim bangkit dan pergi ke lorong untuk menghindari saya. Saya mengejarnya dan berhasil meyakinkannya untuk mengubah pendiriannya. Saya juga meyakinkan hakim lainnya mengenai kebaikan Falun Dafa. Akhirnya, salah seorang dari mereka memberi tahu saya bahwa rekan praktisi yang saya cari sedang dalam perjalanan menuju penjara. Saya bisa menyusulnya jika naik taksi. Saya sadar bahwa kecil kemungkinannya saya akan kembali ke Pengadilan Rakyat Tingkat Menengah, jadi saya pun meminta mereka untuk mundur dari PKT (Partai Komunis Tiongkok). Saya berkata, “Harapan terbesar saya adalah agar Anda selamat. Saya tidak ingin kita berpisah dengan penyesalan.” Setelah saya berbicara tentang “mundur dari PKT dan organisasi afiliasinya,” hakim itu berjalan menghampiri dari meja besarnya, menjabat tangan saya, dan berkata, “Terima kasih, Kakak.” Saya merasa sangat terharu. Pada akhirnya, kedua hakim tersebut setuju untuk tidak lagi memproses kasus-kasus Falun Gong dan saya membantu mereka mundur dari PKT.

Setelah itu, karena rasa takut tidak lagi melumpuhkan saya, saya mengunjungi beberapa kota lain untuk menyelamatkan praktisi Falun Dafa lainnya.

Selama lebih dari 20 tahun, Dafa telah membimbing saya dalam mengatasi berbagai ujian dan kesulitan. Kini usia saya sudah lebih dari 70 tahun. Saya dan putri saya dengan teguh melangkah di jalan kultivasi yang diatur oleh Falun Dafa, serta hampir setiap hari pergi untuk mengklarifikasi fakta kebenaran kepada orang-orang. Jika menengok ke belakang, kata-kata tak mampu mengungkapkan rasa syukur saya. Selama bertahun-tahun, artikel berbagi pengalaman dari rekan-rekan praktisi telah membantu memandu jalan saya. Hari ini, saya pun ingin berbagi kisah kultivasi saya dengan rekan-rekan praktisi, dengan harapan kita dapat terus meningkatkan diri dan berkultivasi bersama.