(Minghui.org) Saya mulai mengenal Falun Dafa (Falun Gong) pada tahun 1999, hanya beberapa bulan sebelum Jiang Zemin, mantan pemimpin Partai Komunis Tiongkok (PKT), memulai penganiayaan brutal terhadap latihan ini.
Satu-satunya alasan saya mampu berkultivasi secara mantap dan meluruskan diri selama 27 tahun terakhir ini adalah berkat penguatan dan perlindungan terus-menerus dari Guru Li. Ketika saya melakukan persis seperti yang Guru minta dari praktisi dan memenuhi persyaratan Dafa di setiap tingkatan tertentu, Guru berulang kali memperlihatkan kekuatan ajaib Falun Dafa kepada saya.
Melenyapkan Penganiayaan dan Pencucian Otak
Menjelang akhir musim panas tahun 2002, polisi membawa saya dan seorang praktisi lainnya ke kamp kerja paksa. Fasilitas ini terkenal karena menyiksa para praktisi untuk “mengubah” mereka, yang artinya memaksa mereka melepaskan keyakinan pada Falun Dafa. Kemudian, praktisi yang telah “diubah” dijadikan “asisten” atau “kolaborator” bagi para penjaga untuk menipu praktisi lain agar meninggalkan latihan ini. Kami telah mendengar banyak kasus semacam itu.
Saya dan praktisi lainnya diborgol menjadi satu saat dibawa ke kamp kerja paksa. Kami saling menggenggam tangan dengan erat selama perjalanan dan kami juga saling menyemangati untuk tetap teguh. Kami dipisahkan saat tiba di sana. Meskipun ada ketegangan dan rasa bahaya yang mengancam, saya tahu Guru berada di sisi saya dan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh saya.
Beberapa kelompok kolaborator datang silih berganti. Ketika mereka memfitnah Guru dan Dafa, saya mencoba berbicara dan meluruskan pandangan mereka. Setelah melakukan hal itu sepanjang pagi, menjadi jelas bahwa konsep dan keterikatan saya, termasuk sifat suka membantah dan pikiran buruk lainnya, mulai menguasai diri saya. Saya segera menyesuaikan pola pikir dan memohon kepada Guru untuk menguatkan pikiran, ucapan, dan perbuatan lurus saya.
Saat jam makan siang, kelompok kolaborator lain datang. Salah seorang dari mereka adalah seorang wanita muda yang berbisik kepada saya bahwa dia telah “diubah” di luar kehendaknya dan berencana untuk kembali berlatih setelah dibebaskan nanti. Tak lama kemudian, rekan-rekan praktisi lainnya mengusirnya keluar.
Pada sore harinya, orang lain datang. Dia menyombongkan diri bahwa dia telah “mengubah” lebih dari 200 praktisi. Saya memohon kepada Guru untuk memperkuat pikiran lurus saya agar saya dapat membendung perkataannya yang dikendalikan oleh kekuatan lama yang jahat. Tak lama kemudian, tenggorokannya mulai bermasalah. Pertarungan antara kebaikan dan kejahatan berlangsung sepanjang sore. Saat tidak sedang berbicara, saya memancarkan pikiran lurus. Saya yakin sepenuhnya bahwa Guru akan menyelamatkannya dan dia akan mengubah perilakunya.
Polisi tidak menyerah dan mengatur agar tahanan lain mencoba “mengubah” saya keesokan harinya. Namun, pada pagi itu, para penjaga menolak mengizinkan tahanan mana pun berbicara dengan saya. Petugas polisi marah dan melontarkan kata-kata kasar kepada saya sebelum membawa saya pergi.
Saya dipenuhi rasa syukur kepada Guru karena telah menyelesaikan ujian ini bagi saya dan memperlihatkan kepada saya kekuatan ajaib dari Fa. Sebagaimana dikatakan Guru:
“Kultivasi itu tergantung pada diri sendiri, sedangkan evolusi Gong tergantung pada Shifu.” (Ceramah 1, Zhuan Falun)
Melenyapkan Unsur Jahat dan Membentuk Satu Tubuh
Pihak berwenang menggunakan berbagai bentuk penyiksaan yang sangat kejam terhadap praktisi yang teguh pendiriannya. Rekan-rekan praktisi, termasuk saya sendiri, berusaha menjelaskan fakta kebenaran tentang Dafa kepada kepala penjara, kepala divisi, dan penjaga, baik secara langsung maupun melalui surat, namun kekejaman tersebut terus berlanjut. Kami tidak bisa makan atau tidur saat mengetahui rekan-rekan praktisi kami menderita akibat perlakuan kejam semacam itu.
Ketika penganiayaan pertama kali dimulai pada tahun 1999, banyak praktisi belum memiliki landasan yang kuat dalam belajar Fa. Mereka berketerikatan pada pemahaman mereka sendiri dan meyakini bahwa merekalah yang benar. Saya sendiri terjebak dalam pola pikir ini; saya biasanya bersikeras bahwa saya benar dan sering kali tidak sependapat dengan orang lain. Sementara sebagian praktisi menjadi sasaran, ditahan, dan disiksa, praktisi lain justru mengeluh dan menyalahkan mereka yang dianiaya, dari pada berusaha membantu. Karena saling menjaga jarak dan tidak terhubung satu sama lain, kami gagal membentuk satu tubuh sehingga dimanfaatkan oleh kekuatan lama.
Saya merenungkan ajaran Fa dari Guru dan memutuskan untuk memenuhi tuntutan Guru: secara diam-diam menyelaraskan diri demi kebaikan keseluruhan serta menutupi celah kebocoran dalam satu tubuh kami. Meskipun saya tidak selalu sependapat dengan praktisi yang dianiaya, saya sangat yakin bahwa kekuatan lama tidak diperbolehkan menganiaya mereka, sekalipun mereka memiliki keterikatan dan celah dalam kultivasi karena kita semua adalah pengikut Guru dan praktisi Falun Dafa.
Setelah berbagi mengenai hal ini dengan praktisi lain, kami sepakat bahwa kami tidak bisa tinggal diam dan tidak berbuat apa-apa saat para praktisi disiksa. Beberapa orang memulai aksi mogok makan sebagai bentuk protes; ada yang mengajukan pengaduan kepada kepala penjara, kantor kejaksaan di dalam penjara, dan Komisi Inspeksi Disiplin Penjara; serta ada pula yang mendatangi kantor-kantor tersebut secara langsung untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya kepada para pejabat dan staf mereka.
Saya memiliki gagasan untuk mengajukan pengaduan terhadap kepala divisi, wakil kepala divisi, dan petugas penjaga yang terlibat dalam tindakan penyiksaan tersebut. Sekadar memikirkan hal ini saja sudah menimbulkan tekanan yang luar biasa dan gangguan hati hingga saya hampir mengurungkan niat tersebut. Namun, saya membulatkan tekad dan sepenuhnya melepaskan rasa takut akan kematian. Saya berpegang teguh pada keyakinan bahwa mengajukan pengaduan adalah cara paling langsung dan efektif untuk melenyapkan unsur-unsur jahat serta membantu Guru dalam menyelamatkan makhluk hidup.
Saat saya menyerahkan surat pengaduan resmi kepada kepala divisi, dia bersikap angkuh dengan kepala tegak. Sembari dia membaca surat itu, saya memancarkan pikiran lurus. Ketika dia keluar dari ruangannya tak lama kemudian, kepalanya tertunduk dan dia tampak lesu. Saya tahu bahwa Guru telah melenyapkan unsur-unsur jahat di balik dirinya. Guru sekali lagi memperlihatkan kepada saya kekuatan ajaib Dafa.
Sebuah pertemuan diadakan di antara pihak otoritas dan para pejabat. Tak lama kemudian, para petugas penjaga memberi tahu para tahanan bahwa mereka tidak akan lagi menggunakan bentuk-bentuk penyiksaan tertentu.
Para praktisi bekerja sama dan membentuk satu kesatuan yang kokoh, yang memungkinkan Guru melenyapkan makhluk-makhluk jahat di balik para pejabat dan petugas penjaga tersebut. Setelah saya dibebaskan beberapa tahun kemudian, divisi-divisi lain kembali menerapkan beberapa metode penyiksaan itu namun metode tersebut tidak pernah digunakan lagi di divisi tempat saya pernah ditahan.
Bersyukur karena Diusir dari Arena Belajar Fa Bersama
Selama bertahun-tahun berkultivasi, saya berjuang keras untuk menjaga Xinxing (watak/kualitas moral) saat konflik muncul di antara rekan praktisi dan telah melalui proses yang menyakitkan untuk melenyapkan keterikatan-keterikatan saya.
Ketika saya dibebaskan setelah dipenjara karena keyakinan saya, seorang rekan praktisi mengulurkan bantuan saat saya sedang mengalami masa-masa sulit. Dia ingin memperkenalkan saya pada sebuah arena belajar Fa bersama, dengan mengatakan bahwa hal itu akan membantu saya mengejar ketertinggalan dalam kultivasi karena semua orang di kelompok tersebut sangat tekun. Kami tiba lebih awal dan sempat berbincang sejenak dengan tuan rumah, Jia, mengenai situasi saya. Saat praktisi lainnya berdatangan satu per satu, Jia berkata kepada saya, “Anda boleh pergi sekarang. Kami akan segera mulai.” Saya terkejut karena Jia mengusir saya tanpa ragu sedikit pun.
Saya pergi dengan hati yang berat dan langkah kaki yang terasa sangat berat. Rasanya persis seperti yang dikatakan Guru: “... Ratusan derita sekaligus menimpa ...” (“Derita Pikiran dan Hatinya,” Hong Yin)
Begitu banyak hal telah berubah selama saya dipenjara. Rumah-rumah satu lantai di lingkungan saya telah berganti menjadi gedung-gedung pencakar langit dan suami saya ternyata berselingkuh. Setiap kali marah, dia melampiaskan kemarahannya kepada saya dengan berkata, “Kamu itu seorang narapidana. Kamu narapidana yang perlu memperbaiki diri melalui kerja paksa.” Suatu kali, saya gagal menjaga xinxing dan berdebat dengannya. Dia menyuruh saya pergi dan tidak pernah kembali lagi.
Saya berjalan sendirian di tengah angin dingin dan hujan deras, di antara dedaunan yang berguguran dari pepohonan. Segala macam pikiran manusia muncul dan saya merasa getir. Sama sekali tidak terpikir oleh saya untuk mencari ke dalam dan memeriksa diri sendiri. Situasi menjadi semakin buruk ketika saya kehilangan pekerjaan yang sangat saya harapkan, yang merupakan satu-satunya sumber penghasilan. Di pekerjaan sementara itu, saya dibayar kurang dari 50 yuan setelah bekerja penuh selama dua hari.
Hari itu, saya meninggalkan rumah Jia dan berjalan tanpa tujuan, merasa sedih dan kehilangan arah. Akhirnya, saya mulai mencari ke dalam dan menyadari betapa besarnya keterikatan saya pada reputasi serta betapa kuatnya keinginan saya untuk menjaga gengsi. Saya menyusun rencana untuk belajar dua ceramah Zhuan Falun setiap hari, lalu belajar Petunjuk Penting untuk Gigih Maju. Saya belajar seluruh ceramah Guru secara kronologis, dimulai dari buku Falun Gong.
Saya secara konsisten mencari ke dalam dan menemukan puluhan pikiran manusia serta keterikatan. Saat saya berfokus untuk menyingkirkan hal-hal tersebut demi benar-benar memperbaiki diri, Jia meminta seorang praktisi lain untuk menyampaikan undangan agar saya bergabung belajar Fa bersama mereka. Saya berterima kasih kepadanya namun menolak tawaran itu. Berkat kekuatan dan bantuan Guru serta bimbingan Fa, saya berhasil melewati ujian tersebut. Setelah selesai belajar seluruh ceramah dan artikel Guru, saya memperoleh pemahaman yang lebih dalam dan jelas mengenai prinsip-prinsip Fa.
Suatu kali, saya berbincang dengan seorang praktisi yang terpaksa mengungsi karena penganiayaan, dan saya bertanya bagaimana dia menyangkal penganiayaan finansial yang dilakukan oleh PKT. Praktisi ini memiliki kemampuan manajemen yang kuat dan dipekerjakan untuk mengelola dua hotel, yang membuatnya sibuk setiap hari. Saya tidak ingat kata-kata persisnya, tetapi dia mengatakan bahwa dia memiliki keinginan agar suatu hari nanti dia memiliki cukup uang dan waktu luang untuk membantu menyelamatkan makhluk hidup. Dan dengan itu, Guru membantu mewujudkan keinginannya.
Saya sangat terinspirasi oleh kisah praktisi ini. Situasi keuangan saya telah membaik sejak saat itu dan terus bertambah baik setiap harinya. Saya telah mencapai tujuan saya untuk memiliki penghasilan dan waktu yang cukup guna melakukan tiga hal. Suami saya pun telah berubah menjadi lebih baik.
Meskipun saya bersyukur karena Jia pernah mengusir saya lebih dari satu dekade yang lalu, sebuah peristiwa yang menyingkap banyak keterikatan, saya sempat menyimpan rasa kesal dan iri hati terhadapnya yang sulit saya hilangkan dalam waktu lama. Saat bertemu Jia awal tahun ini, dia menunjukkan banyak kekurangan saya secara blak-blakan. Hal itu terasa aneh karena sebelumnya saya hampir tidak pernah berinteraksi dengannya. Bahkan, salah satu hal yang dia katakan tentang saya adalah sesuatu yang dia dengar dari praktisi lain. Awalnya, saya berniat membela diri, namun segera saya sadar dan berpikir, “Apa pun yang dikatakan Jia, saya harus mendengarkannya dengan hati yang rendah hati.”
Setelah berpisah dengan Jia, saya mencari ke dalam dengan saksama dan mulai menghargainya. Saya menyadari bahwa kejadian diusir dari arena belajar Fa bersama adalah pengaturan Guru dan kesempatan besar untuk memperbaiki diri. Hal itu justru menjadi peristiwa terbaik yang pernah saya alami karena memungkinkan saya menemukan dan menyingkirkan banyak konsep manusiawi serta keterikatan hati. Saya memperoleh banyak manfaat melalui proses ini.
Keajaiban Mencari ke Dalam
Setiap kali seorang praktisi menunjukkan kekurangan saya, itu adalah kesempatan emas untuk meningkatkan Xinxing.
Sekitar 10 tahun yang lalu, praktisi Ye memberi tahu saya bahwa praktisi Bing kembali mengeluhkan sikap saya dan seketika itu juga saya kehilangan kendali emosi. Hal ini sudah sering terjadi sebelumnya namun saya gagal memperbaiki diri. Namun kali ini, saya memutuskan untuk memperkuat belajar Fa dan justru mencari ke dalam. Saya memohon bantuan Guru dengan berkata, “Guru, saya bertekad untuk menyingkirkan konsep manusia ini. Mohon berikan saya kekuatan.”
Setelah beberapa waktu, saya merasa Xinxing saya telah meningkat, lalu saya mengunjungi Bing. Dia mengkritik saya dengan tajam dan tanpa tedeng aling-aling. Saya tidak memberikan penjelasan ataupun membela diri, sebaliknya, saya fokus mencari ke dalam saat dia berbicara. Ketika muncul keinginan untuk membela diri, saya segera melenyapkan pikiran tersebut. Sejak saat itu, saya tidak lagi mendengar keluhan apa pun dari Bing mengenai diri saya. Saat menyusun tulisan berbagi pengalaman ini, saya mencari ke dalam dan menyadari bahwa Bing punya alasan untuk menegur saya pada hari itu. Kala itu, saya khawatir dia mengendur dalam kultivasi sehingga saya sering bertindak atau berbicara seolah-olah saya lebih baik darinya. Sikap saya saat itu mendominasi dan memaksakan kehendak. Saya ingin mengubahnya dengan memaksakan standar saya sendiri kepadanya. Saya kurang memiliki belas kasih dan telah melukai perasaannya.
Suatu kali, konflik muncul antara Ye dan saya. Karena gagal menjaga Xinxing, saya bereaksi berlebihan dan menampar diri sendiri. Saya merasa diperlakukan tidak adil dan merasa telah membuang banyak tenaga untuk tugas yang tidak dihargai. Setelah tiba di rumah, saya mencari ke dalam dan memeriksa diri. Saya bertanya-tanya mengapa saya begitu impulsif hingga menampar diri sendiri.
Saya menggali lebih dalam dan menelusuri hal ini hingga ke kecenderungan untuk bunuh diri dan menyakiti diri sendiri, serta lebih dari belasan konsep manusia lainnya yang telah terbentuk dalam diri saya sebelum mulai berlatih Dafa. Begitu saya mengenalinya, Guru melenyapkan banyak substansi negatif tersebut dari medan dimensi saya. Malam itu, saya bermimpi terbang melintasi pagar kawat berduri yang tinggi di sebuah penjara. Saya terbang dengan bebas dan membubung tinggi di angkasa. Para penjaga tampak begitu kecil. Mereka mencoba menembak saya namun peluru-peluru itu meleset.
Di lain waktu, konflik dengan praktisi lain mendorong saya untuk kembali mencari ke dalam. Saya menganggap praktisi tersebut sebagai cermin dan merenungkan situasi yang terjadi. Saya menemukan adanya keterikatan pada reputasi, ketakutan akan konfrontasi, keinginan untuk menjaga citra diri, sikap licik, serta sifat sentimental. Namun, saya merasa belum sepenuhnya menggali hingga ke dasar permasalahan dan menemukan akar penyebabnya.
Seorang praktisi menyarankan bahwa mungkin keterikatan yang mendasarinya adalah “kemunafikan” dan hal ini sangat mengguncang hati saya. Seketika itu juga muncul pikiran: “Kecenderungan untuk bersikap munafik bukanlah jati diri saya yang sebenarnya. Saya tidak menginginkan kecenderungan ini.” Begitu kata-kata itu terlintas di benak saya, sesuatu terasa jatuh dari puncak kepala dan dada saya.
Saat saya mencari ke dalam untuk memperbaiki diri, saat saya berhasil mengidentifikasi keterikatan dan konsep manusia secara tepat, serta saat saya mampu memisahkan keterikatan tersebut dari jati diri saya yang sejati, Guru yang penuh belas kasih pun melenyapkan satu demi satu gunung karma yang kelam dari medan dimensi saya. Saat hal ini terjadi, saya merasakan secara nyata bahwa substansi buruk itu luruh dari puncak kepala, dada, atau punggung saya, sedikit demi sedikit.
Berkultivasi sungguh luar biasa. Ada sesuatu yang sangat mengganggu saya dan hal itu terjadi secara terus-menerus. Saya mencari ke dalam setiap kali hal itu terjadi, namun tidak menanggapinya dengan serius dan hanya menyentuh permukaannya saja. Ketika hal itu terjadi lagi tahun ini, saya tersentak. Saya mencari ke dalam selama beberapa hari, dan setiap kali menemukan sebuah keterikatan, saya mencatatnya. Tak satu pun dari konsep manusiawi dan keterikatan tersebut adalah milik saya dan saya tidak menginginkannya.
Saat saya menggali lebih dalam untuk menemukan keterikatan, saya akhirnya menemukan akar penyebab dari semua keterikatan lainnya, seperti keterikatan pada reputasi, kepentingan pribadi, sentimen, sifat iblis, dan pikiran-pikiran jahat lainnya. Saya juga menemukan kecenderungan saya untuk tidak mengultivasi Zhen, Shan, Ren (Sejati-Baik-Sabar).
Saya berupaya melenyapkan konsep yang menyimpang, keyakinan evolusioner, ideologi ateis, dan pola pikir modern. Ketika saya mampu mengenali dan melepaskan keterikatan-keterikatan ini, Guru melenyapkan segala gangguan yang terkait dengannya. Setiap kali keterikatan yang bersumber dari sentimen muncul mengganggu, saya melafalkan ajaran Guru yang membahas masalah spesifik tersebut dan Guru pun melenyapkan keterikatan itu bagi saya.
Saya bertanya pada diri sendiri, “Keterikatan apa yang belum bisa saya lepaskan setelah bertahun-tahun berkultivasi?” Saya mendapati bahwa saya tertinggal dalam upaya mengklarifikasi fakta kebenaran karena rasa takut dan kecenderungan untuk menghindari tugas-tugas yang sulit. Saya memendam pandangan negatif dan bahkan prasangka terhadap beberapa orang, termasuk praktisi tertentu. Saya menyimpan rasa dendam. Saya keras kepala dan sering merasa diri saya benar. Saya ingin membenarkan diri sendiri. Saya sering berbicara kepada orang lain dengan kasar dan nada merendahkan. Sifat iblis saya sering kali muncul. Saya tidak selalu penuh perhatian dan tidak melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang lain. Saya masih jauh dari standar Zhen, Shan, Ren (Sejati-Baik-Sabar).
Saya memeriksa pikiran saya dengan saksama dan menemukan bahwa saya masih memiliki banyak konsep manusia dan keterikatan yang perlu saya singkirkan. Sesungguhnya, saya patut berterima kasih dari lubuk hati yang terdalam kepada praktisi yang telah membantu saya menemukan hal-hal kotor tersebut.
Saat menyusun bagian dari tulisan berbagi pengalaman ini, saya heshi dan dengan tulus berterima kasih kepada setiap praktisi yang telah membantu saya memperbaiki diri di masa lalu. Saya juga ingin meminta maaf kepada orang-orang yang pernah saya sakiti di masa lalu: “Saya minta maaf. Saya telah berbuat salah.” Nada bicara saya yang kasar itu disebabkan oleh pengaruh budaya Partai dan keterikatan pada mentalitas bersaing.
Rasa Syukur yang Mendalam atas Anugerah Guru yang Tak Terhingga
Lebih dari satu dekade yang lalu, saya sedang berada di dalam bus ketika sopir tiba-tiba membelokkan kendaraan. Pijakan kaki saya tidak kokoh sehingga saya terjatuh dengan kepala lebih dulu menuruni dua anak tangga logam. Saat terjatuh, saya memohon, “Tolonglah saya, Guru!”
Beberapa penumpang lain membantu saya bangkit berdiri. Pinggang bagian bawah saya terasa sangat sakit hingga saya tidak bisa berjalan saat turun dari bus. Saya menyeret langkah beberapa kali sebelum tiba-tiba tersadar: “Bukankah ini berarti mengakui penganiayaan oleh kekuatan lama? Ini bukan pengaturan Guru. Saya baik-baik saja. Saya tidak akan menuruti kalian, kekuatan lama.” Saya memohon kekuatan kepada Guru dan mempercepat langkah, berjalan lebih cepat meskipun rasa sakitnya luar biasa. Saya bertekad untuk tidak mengikuti rencana kekuatan lama.
Saya tidak bisa mengangkat kaki cukup tinggi untuk menaiki tangga di gedung apartemen dan secara refleks hendak berpegangan pada pegangan tangga. Namun, saya segera menyadarinya dan menolak konsep itu. Jika saya menggunakan pegangan tangga, bukankah itu berarti saya mengakui bahwa punggung saya sakit? Jika saya benar-benar sehat, mengapa saya perlu menggunakan pegangan tangga? Saya kembali memohon kekuatan kepada Guru dan memutuskan untuk menaiki tangga sendiri. Dengan bantuan Guru, saya pun menaiki tangga tersebut.
Malam itu, pinggang bawah saya terasa sangat sakit saat saya berbaring miring dan rasa sakitnya semakin parah saat saya berbaring telentang. Namun, semakin hebat rasa sakitnya, semakin kuat tekad saya untuk tetap berbaring telentang. Sosok yang merasakan sakit itu bukanlah diri saya yang sebenarnya. Saya meningkatkan intensitas belajar Fa, lebih sering memancarkan pikiran lurus, dan mencari ke dalam dengan lebih saksama. Saya melakukan pekerjaan rumah tangga seperti biasa dan suami saya sama sekali tidak menyadari apa pun.
Akan tetapi, kekuatan lama tidak menyerah begitu saja dan dengan cepat menyusun rencana lain. Beberapa hari setelah kejadian jatuh itu, saat sedang memancarkan pikiran lurus tengah malam, saya tiba-tiba didorong jatuh dari tempat tidur oleh kekuatan tak kasat mata. Saya jatuh ke lantai dan pinggang bawah saya menghantam keras sebuah kursi logam. Kejadian ini mendorong saya untuk mencari ke dalam dan menemukan banyak pikiran manusia serta keterikatan.
Suatu pagi, hanya beberapa hari setelah kejadian itu, saat sedang merapikan rumah setelah suami berangkat kerja, salah satu kaki saya tiba-tiba kehilangan rasa sama sekali. Kaki itu mati rasa total dan tidak mampu menopang berat badan. Saya tidak panik karena saya tahu Guru dan Dafa menyertai saya. Itu adalah perbuatan kekuatan jahat yang sedang mempermainkan saya. Saya dengan tegas menyangkal pengaturan kekuatan lama dan mengingatkan diri sendiri bahwa itu semua hanyalah ilusi dan kondisi saya baik-baik saja.
Saya bersandar pada pintu dan meluruskan kaki yang mati rasa itu. Kemudian, perlahan saya mengangkat kaki satunya dan memindahkan seluruh berat tubuh ke kaki yang tidak bisa saya rasakan itu. Saya memohon bantuan Guru dan memancarkan pikiran lurus. Tak lama kemudian, aliran energi yang hangat dan kuat turun dari puncak kepala dan mengalir ke seluruh tubuh, Guru sedang melakukan Guanding (menuangkan energi ke puncak kepala untuk memurnikan tubuh) pada saya. Saat aliran itu bergerak ke seluruh tubuh, kaki saya kembali memiliki sensasi dan pulih sepenuhnya. Pada saat itu, saya benar-benar mengalami kekuatan ajaib Dafa. Saya sangat gembira! Kata-kata tak mampu melukiskan rasa terima kasih saya kepada Guru.
Malam itu, kekuatan jahat dari dimensi lain menyerbu masuk bagaikan air pasang. Seluruh tubuh saya terasa seolah dipaku di tempatnya. Saya tidak bisa bergerak ataupun bersuara. Saya merasa bahwa jika kekuatan lama berhasil mewujudkan kehendak mereka, hal ini akan berujung pada stroke. Dalam keadaan setengah sadar, saya menyangkal pengaturan ini dan kembali memohon bantuan Guru. Dengan segenap tekad yang saya miliki, saya memancarkan pikiran lurus di dalam hati dengan sungguh-sungguh.
Berkat penguatan dari Guru, pikiran lurus saya menjadi semakin kuat. Saya pun bisa menggerakkan tubuh kembali. Saya terus memancarkan pikiran lurus dan melenyapkan semua unsur jahat di dimensi lain yang sedang mencelakai tubuh saya. Sebagian faktor jahat berhasil dilenyapkan sementara sebagian lainnya mundur bagaikan air surut.
Guru sekali lagi menyelamatkan saya. Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Guru yang maha belas kasih atas anugerah-Nya yang tak terhingga.
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org