(Minghui.org) Pada 23 Juli 2011, praktisi Falun Gong Surabaya dan sekitarnya, mengadakan aksi damai di depan Konsulat Jenderal RRC Surabaya.

Para praktisi melalui spanduk dan edaran yang dibagikan ke orang-orang menyerukan agar penindasan terhadap praktisi Falun Gong di RRC yang sudah berlangsung 12 tahun, yang tepatnya dimulai pada 20 Juli 1999 dan hingga saat ini masih berlangsung, segera dihentikan.

Para praktisi melakukan aksi damai di depan Konjen China

Aksi damai yang dilakukan mulai pukul 15.30 ini menarik perhatian banyak orang yang melewati lokasi tersebut, khususnya pengendara sepeda motor, di mana banyak dari mereka melambatkan laju motor untuk  mengambil brosur, bahkan ada 2 orang yang langsung memarkir motornya, mengambil foto poster yang dipajang dan foto para praktisi yang sedang memancarkan pikiran lurus.  Salah seorang bahkan menanyakan tempat latihan terdekat yang bisa ia kunjungi setelah ia mendengar fakta tentang Falun Gong.

Praktisi membagikan brosur klarifikasi kepada pengendara yang lewat


Kegiatan nyala lilin untuk mengenang para praktisi yang menjadi korban kejahatan PKT di China

Semenjak rezim komunis China melakukan genosida sistematis terhadap praktisi Falun Gong, sudah lebih dari 3.400 orang praktisi dinyatakan meninggal akibat penganiayaan. Angka tersebut diperkirakan baru merupakan puncak dari gunung es, mengingat arus informasi disensor dan dikendalikan secara ketat oleh rezim komunis. Banyak korban yang tidak terdeteksi, khususnya para praktisi yang diambil organnya secara paksa, karena setelah organ mereka diambil, tubuh mereka dikremasi, tanpa jejak yang bisa ditelusuri.

Guna mengenang korban yang meninggal akibat penganiayaan, pada akhir acara praktisi juga menggelar acara malam lilin. Melalui aksi ini diharapkan masyarakat bisa memahami fakta sebenarnya di balik penganiayaan Falun Gong, dan mengenali dengan jelas bahwa praktisi Falun Gong telah difitnah oleh PKC. Acara yang khidmat tersebut berakhir pukul 17.30.

Kegiatan nyala lilin untuk mengenang para praktisi yang menjadi korban penganiayaan di China