(Minghui.org) Untuk merayakan Tahun Baru, praktisi Falun Dafa berkumpul di Taman Nanbin yang indah di Hualien, Taiwan pada tanggal 20 Desember 2020. Mereka mengirim ucapan Tahun Baru kepada pencipta disiplin spiritual ini, Guru Li Hongzhi, mengekspresikan rasa hormat dan syukur mereka.

Praktisi Falun Dafa di Hualien berkumpul di Taman Nanbin untuk mengucapkan Selamat Tahun Baru kepada Guru Li.

Untuk merayakan Tahun Baru yang akan datang, praktisi mengadakan pertunjukan genderang Tiongkok dan melakukan latihan.

Keyakinan pada Dafa Membantu Wanita Mengatasi Duka

Xue berterima kasih pada Guru Li karena membantunya menemukan tujuan hidup dan mengatasi kesedihan setelah kehilangan suaminya.

Xue mulai berlatih pada tahun 2006 setelah menikah. Dia berkata, “Hal tersulit untuk dilepaskan adalah emosi saya terhadap anggota keluarga. Kedua orang tua suami saya mengalami patah kaki. Saya selalu sibuk mengurus mereka dan anak-anak saya. Saya kelelahan. Ajaran Falun Dafa mengajari saya bahwa kemalangan ini disebabkan oleh karma saya."

Pada 2008, suaminya jatuh sakit. Dia menghabiskan lebih banyak waktu mempelajari ajaran dengan mendengarkan ceramah audio dan melafalkan karya Guru Li. Ini membantunya menghilangkan pikiran negatif. Suaminya meninggal pada tahun 2017. Kata-kata terakhir kepadanya adalah, "Tetap kuat dan lepaskan emosimu." Xue mampu menghadapi kematiannya karena dia menganggapnya sebagai rekan praktisi dan memiliki keyakinan yang kuat pada Dafa.

Belajar untuk Merenungkan Kekurangan Kita Adalah Pusaka

Chen berusaha untuk mengikuti ajaran Guru.

Chen mulai berlatih pada tahun 2001 dan selalu bertanya-tanya dari mana asal manusia. Sejak kecil, dia memiliki banyak pertanyaan tentang kehidupan. Ketika dia berusia 33 tahun, seorang teman memberinya buku utama ajaran Zhuan Falun. Dia selesai membaca buku dalam tiga hari dan menemukan jawaban atas semua pertanyaannya.

“Setelah berlatih selama dua dekade, hal yang paling sulit adalah menguji karakter moral saya. Ujian semacam itu tiba-tiba muncul. Misalnya, setiap kali dia disalahpahami atau dikritik oleh rekan kerja, dia biasanya bertengkar. Dia juga berdebat dengan suaminya. Kapan pun keadaan menjadi sulit, dia bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah anda seorang praktisi? Persyaratan dasarnya adalah tidak membalas saat diperlakukan tidak adil. Sudahkah kamu melakukannya?”

Dia menemukan bahwa selain kebencian dan memiliki mentalitas bersaing, dia juga memiliki keterikatan yang kuat pada hal-hal kenyamanan dalam hidup. "Ini mungkin tampak masuk akal dari sudut pandang orang biasa, tetapi ini adalah hal-hal yang harus dilepaskan oleh seorang praktisi, terutama mengejar ketenaran, kepentingan diri, dan emosi." Dia berkata bahwa setelah membuat kemajuan dalam kultivasi, dia sekarang dapat melakukan latihan dengan pikiran yang tenang. Dia menyadari bahwa seorang praktisi harus selalu mengutamakan orang lain.

“Saya berterima kasih kepada Guru karena telah memberi saya kehidupan baru. Saya harus mendengarkan Guru, berlatih kultivasi dengan kokoh, melakukan tiga hal dengan baik dan menjadi murid yang sesuai kriteria,” katanya.