(Minghui.org) Salam, Guru! Salam, rekan-rekan praktisi!
Dalam rangka Fahui Tiongkok ke-23 di Minghui, saya menuliskan pengalaman saya dalam mengklarifikasi fakta mengenai penganiayaan kepada orang-orang, serta perjalanan kultivasi saya.
Saya adalah pribadi yang cenderung tertutup (introvert) dan tidak terlalu pandai merangkai kata. Dahulu, upaya saya dalam menyampaikan fakta hanya terbatas pada keluarga, teman, kenalan, dan mungkin sesekali kepada pelayan toko yang saya temui saat sedang mengurus keperluan sehari-hari. Secara keseluruhan, dalam sehari saya hanya bisa menjangkau segelintir orang. Saya merasa iri saat melihat rekan-rekan praktisi pergi ke beberapa rumah sakit besar untuk menyampaikan fakta. Mereka bisa berbicara dengan belasan, bahkan lebih dari 20 orang, hanya dalam waktu dua atau tiga jam. Saya pun meminta mereka untuk mengajak saya, dan begitulah perjalanan saya dalam mengklarifikasi fakta kepada orang-orang di rumah sakit dimulai.
Mengatasi Konsep Manusia Biasa Saat Mengklarifikasi Fakta
Pada hari pertama rekan praktisi membawa saya ke rumah sakit, saya terkejut melihat banyaknya orang di sana. Gedung rawat jalan saja memiliki tujuh lantai, dan lift-liftnya penuh sesak. Di setiap lantai terdapat deretan kursi yang hampir semuanya terisi, suasananya seramai stasiun kereta api. Saya pun berpikir, “Ada begitu banyak orang di sini yang bisa saya klarifikasi. Ini benar-benar tempat yang sangat baik untuk melakukannya.”
Saya mencoba duduk di berbagai tempat, tetapi sepertinya saya tidak bisa memulai percakapan dengan siapa pun. Bahkan saat saya berhasil mengucapkan beberapa patah kata, saya tidak tahu bagaimana cara mengarahkan pembicaraan. Ditambah lagi dengan kehadiran petugas keamanan berpita merah di lengan, serta polisi bersenjata dan polisi anti huru-hara yang berpatroli hilir mudik dalam kelompok-kelompok kecil, saya pun merasa semakin tidak mampu untuk membuka mulut.
Lebih dari satu jam berlalu dengan cepat. Praktisi yang mengajak saya datang menghampiri dan mengatakan bahwa Jing (praktisi lain yang datang bersama kami) telah berhasil membantu 16 orang mengundurkan diri dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan sudah pulang. Suasana di rumah sakit cukup panas, ditambah dengan rasa cemas yang kian meningkat, saya pun mulai berkeringat. Saya berpikir, “Satu jam lagi jam kerja akan berakhir, dan saya belum berbicara dengan satu orang pun! Sepertinya sepanjang sore ini akan terbuang percuma. Seharusnya saya tetap di rumah saja dan belajar Fa.” Pada akhirnya, saya pulang dengan tangan kosong, tidak berhasil menyelamatkan siapa pun.
Setelah kembali ke rumah, saya merasa sangat sedih, saya menganggap diri saya tidak berguna dan jauh tertinggal dibandingkan praktisi lain. Setelah mencari ke dalam, saya bertanya pada diri sendiri mengapa saya tidak sanggup untuk berbicara. Sebagian alasannya adalah rasa takut ditolak atau diabaikan, kekhawatiran akan kehilangan muka. Hal ini bersumber dari kesombongan, keinginan untuk menjaga harga diri, yang berakar pada keterikatan terhadap reputasi. Selain itu, ada pula rasa takut terdengar oleh petugas keamanan, polisi bersenjata, atau polisi anti huru-hara yang sedang berpatroli di area tersebut, serta kekhawatiran akan dilaporkan. Mengenai kecemasan yang muncul saat mendengar bahwa praktisi lain berhasil membantu 16 orang mengundurkan diri dari PKT hanya dalam waktu satu jam lebih, perasaan itu tidak lahir dari kepedulian tulus agar orang-orang terselamatkan, melainkan didorong oleh mentalitas bersaing, sebuah keterikatan manusia biasa untuk mengejar angka dan hasil. Begitu pula kekhawatiran saya bahwa sore itu telah terbuang sia-sia. Hal tersebut hanyalah manifestasi dari keterikatan terhadap kehilangan dan perolehan pribadi.
Setelah mengenali keterikatan-keterikatan manusia biasa ini, saya meningkatkan upaya untuk menyalin Fa, menghafal Fa, dan memancarkan pikiran lurus. Saya sangat yakin bahwa hanya Dafa yang dapat membantu saya melenyapkan keterikatan-keterikatan tersebut. Saat memancarkan pikiran lurus untuk membersihkan diri, saya secara khusus menyasar keterikatan-keterikatan itu, menghadapi dan menyingkirkannya satu per satu, sambil berupaya mengatasi serta melenyapkannya melalui kultivasi, di samping terus melakukan klarifikasi fakta.
Meskipun pada hari pertama itu saya pulang dengan tangan kosong, saya tahu bahwa rumah sakit merupakan tempat yang sangat baik untuk mengklarifikasi fakta. Rumah sakit menarik berbagai macam orang, termasuk banyak penduduk dari pedesaan yang bersahaja, orang-orang yang mungkin tidak akan pernah saya temui dalam situasi lain. Para pasien sering kali harus menunggu lama untuk menjalani CT scan, sinar-X, atau menunggu hasil laboratorium, dan biasanya mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol satu sama lain. Jika saya bisa membangun hubungan baik dan menjalin kedekatan dengan mereka, mereka akan memiliki banyak waktu untuk mendengarkan fakta, dan akan ada banyak kesempatan untuk menjelaskan berbagai hal secara mendalam. Saya bertekad untuk terus berupaya di sini dan tidak menyerah.
Saya mulai pergi ke sana lima atau enam hari dalam seminggu. Pada awalnya, terkadang saya hanya berhasil membantu dua atau tiga orang untuk mengundurkan diri dari PKT dalam satu hari, namun saya tidak berkecil hati ataupun terpaku pada angka-angka tersebut. Saya mengingatkan diri sendiri bahwa menyelamatkan satu orang saja ibarat menyelamatkan satu alam semesta kecil, seluruh alam surga yang ada di dalamnya terdapat makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya.
Terkadang, saya tiba lebih awal dengan harapan dapat menjangkau lebih banyak orang. Namun, setelah lebih dari satu jam berlalu, saya belum berhasil membantu satu orang pun untuk mengundurkan diri dari PKT. Rasa tidak sabar, keinginan untuk mencapai angka yang lebih tinggi, serta keterikatan pada hasil tertentu mulai muncul. Menyadari hal ini, saya segera memancarkan pikiran lurus: “Saya tidak menginginkan keterikatan-keterikatan ini. Lenyapkanlah, semua itu bukanlah jati diri saya yang sejati.” Pikiran saya seketika menjadi tenang dan kosong, membuat saya hanya fokus untuk menemukan mereka yang memiliki takdir pertemuan dengan saya.
Saat hati saya menjadi tenang dan damai, orang-orang pun kembali bersedia berinteraksi dengan saya. Beberapa orang menatap saya sambil tersenyum, sedangkan yang lain berkata, “Mengapa Anda tidak duduk di sini saja?” Ada pula yang setuju untuk mengundurkan diri dari PKT setelah percakapan singkat. Sungguh luar biasa. Begitu hati saya menjadi murni, lingkungan di sekitar pun ikut berubah. Dalam satu jam berikutnya, saya berhasil membantu tujuh atau delapan orang untuk memutuskan hubungan mereka dengan PKT.
Belajar untuk Memperhatikan Orang Lain dan Menemukan Titik Awal yang Tepat
Dalam proses mengklarifikasi fakta, saya mengamati bahwa cara seseorang memulai percakapan dan benar-benar selaras dengan lawan bicara adalah hal yang krusial. Jika Anda berhasil melibatkan mereka, mereka akan bersedia untuk mendengarkan. Untuk melakukan ini, saya menyingkirkan ego serta keinginan untuk menjaga gengsi, lalu merendahkan hati agar berani mengambil inisiatif untuk berbicara dengan orang asing.
Apa pun latar belakang mereka, kebanyakan orang terpaku pada ponsel pintar masing-masing. Cukup dengan mengetuk layar, mereka bisa langsung mengakses video pendek atau serial TV yang sangat memikat. Terkadang, saat saya menyapa seseorang, mereka bahkan seolah tidak mendengar saya.
Suatu hari, pria yang duduk di sebelah saya tampak menatap ponselnya dengan saksama. Saya menyapa, “Hai, sedang menonton apa?” Dia sepertinya tidak mendengar, jadi saya melirik ke arah ponselnya dan berkomentar, “Oh! Perang Rusia-Ukraina, menegangkan sekali ya! Orang-orang biasalah yang paling menderita.”
Dia segera mengarahkan ponselnya ke arah saya dan berkata, “Tepat sekali! Lihatlah semua pengeboman hebat itu.” Saya menjawab, “Perang adalah suatu keadaan yang dipicu oleh perubahan fenomena langit. Ketika karma di suatu tempat menjadi terlalu besar, Langit menggunakan perang untuk menyingkirkan manusia. Wabah besar pun merupakan cara Langit untuk melenyapkan manusia. Apakah Anda pernah bergabung dengan Liga Pemuda atau Pionir Muda saat masih bersekolah?”
Ketika dia menjawab pernah, saya berkata, “Anda sebaiknya menyatakan mundur dari keanggotaan tersebut demi keselamatan Anda. Meninggalkan PKT akan mendatangkan keselamatan dan perlindungan.” Dia mengangguk setuju, lalu saya menambahkan, “Selain itu, ingatlah kalimat ‘Falun Dafa hao, Zhen-Shan-Ren hao (Falun Dafa baik, Sejati-Baik-Sabar baik)’ jika kelak terjadi bencana. Anda akan tetap aman dan diberkati.” Dia menjawab, “Baiklah.”
Siapa pun yang duduk di sebelah saya, saya bisa langsung memulai percakapan setelah sekilas memperhatikan mereka. Saya mengawalinya dengan sapaan yang sopan dan pantas, seperti “Pak” atau “Bu”, lalu menanyakan kabar atau sudah berapa lama mereka menunggu untuk mendapatkan layanan medis. Saya mungkin akan menyinggung betapa sulitnya menemui dokter di rumah sakit, seraya menyebutkan bahwa jarang sekali ada orang yang bisa menyelesaikan urusan medis mereka dalam satu hari saja. Setelah terbangun kedekatan, saya pun mulai bercerita tentang Falun Dafa dan penganiayaan yang terjadi. Saat menyampaikan informasi ini, saya menyesuaikan cara penyampaian saya berdasarkan usia, latar belakang pendidikan, dan status sosial orang tersebut.
Jika ada seseorang berusia sekitar 60 atau 70 tahun duduk di sebelah saya, mungkin saya akan bertanya, “Pak (atau Bu), apakah Anda juga sedang menunggu hasil CT scan?” Jika mereka menjawab ya, saya akan bertanya kapan mereka menjalani pemindaian tersebut. Mereka mungkin menjawab, “Baru saja, sekitar satu jam yang lalu,” dan saya pun menanggapi, “Wah, kalau hasilnya bisa keluar sore ini pukul empat, itu sudah termasuk sangat cepat. Rumah sakit ini selalu penuh sesak, jadi biasanya butuh waktu tiga sampai empat jam sampai hasil CT scan keluar.” Mereka biasanya setuju dan berkata, “Benar, prosesnya memang lambat sekali.” Kemudian, saya mencoba menenangkan mereka, “Jangan khawatir, layanan medis di sini sebenarnya cukup bagus. Hanya saja, jumlah pasiennya memang sangat banyak.”
Selanjutnya, saya bertanya mengenai usia mereka. Mereka mungkin menjawab, “68 tahun,” lalu saya pun berkomentar, “Kalau begitu, usia kita hampir sama. Dahulu kita masih berstatus pelajar saat Revolusi Kebudayaan terjadi, jadi kita tidak benar-benar mendapatkan pendidikan yang layak. Waktu itu isinya hanya sesi-sesi kritik paksa dan penghakiman masal serta rapat umum politik.”
Hal ini sering kali sangat menyentuh hati mereka, dan mereka mungkin berkata, “Benar sekali! Saya lulus SMA, tetapi tidak belajar apa pun.” Saya kemudian bertanya apakah dulu mereka pernah bergabung dengan organisasi Pionir Muda atau Liga Pemuda, dan kebanyakan menjawab, “Oh, tentu saja pernah.” Saya lalu berkata, “Tahukah Anda bahwa PKT, melalui berbagai kampanye politiknya, seperti gerakan ‘Tiga Anti’ dan ‘Lima Anti’, kampanye ‘Anti-Sayap Kanan’, hingga Revolusi Kebudayaan, telah menyebabkan kematian 80 juta orang Tiongkok di masa damai? Jumlah korban jiwa ini setara dengan total korban dari dua Perang Dunia. Saat ini, PKT juga penuh dengan korupsi dan menganiaya para praktisi Falun Dafa yang menjunjung prinsip Zhen-Shan-Ren (Sejati-Baik-Sabar). Kejahatan mereka begitu berat hingga Langit akan melenyapkan mereka, itulah sebabnya belakangan ini terjadi begitu banyak bencana. Kita sebagai rakyat biasa tidak perlu ikut menanggung akibatnya. Anda bisa memilih untuk menarik diri dari organisasi-organisasi tersebut, di dalam hati Anda, di hadapan Tuhan atau Langit, demi keselamatan Anda sendiri. Begitu Anda memutuskan hubungan dengan mereka, bencana-bencana ini tidak akan menimpa Anda. Tetap selamat adalah sebuah berkah yang nyata.” Mereka biasanya menanggapi, “Baiklah! Terima kasih!”
Saat saya menanyakan nama seseorang dan mereka tampak enggan untuk memberitahukannya, saya segera menawarkan nama samaran dan membantu mereka menyatakan pengunduran diri dari PKT beserta organisasi-organisasi afiliasinya. Jika mereka bersedia memberikan nama asli, maka nama itulah yang saya gunakan. Selanjutnya, saya menjelaskan bahwa Falun Dafa merupakan sebuah latihan aliran Buddha, dan sering melafalkan kalimat “Falun Dafa hao (Falun Dafa baik), Zhen-Shan-Ren hao (Sejati-Baik-Sabar baik)” dapat mendatangkan perlindungan dari Dewa.
Jika waktu memungkinkan, saya akan menceritakan bagaimana Falun Dafa telah menyebar ke lebih dari seratus negara di seluruh dunia, termasuk Taiwan dan Hong Kong, serta diterima oleh berbagai kalangan di seluruh penjuru dunia. Saya menjelaskan bahwa PKT menganiaya Falun Dafa dan Merekayasa Bakar Diri di Lapangan Tiananmen untuk menghasut kebencian masyarakat terhadap latihan ini. Bergantung pada tingkat keterbukaan orang tersebut dan waktu yang tersedia, saya menunjukkan berbagai kejanggalan dalam insiden yang direkayasa itu, serta memaparkan manfaat kesehatan yang luar biasa dari berlatih Falun Dafa.
Setelah mengetahui kebenarannya, banyak orang menjadi sangat menghargai kalimat “Falun Dafa hao (Falun Dafa baik), Zhen-Shan-Ren hao (Sejati-Baik-Sabar baik).” Ada yang menghitung dengan jari mereka sambil mengulangi kalimat tersebut bersama saya, sedangkan yang lain merekamnya di ponsel atau meminta saya mengetikkannya ke dalam catatan digital mereka. Orang lanjut usia yang tidak bisa membaca terkadang meminta saya untuk menuliskan kata-kata tersebut di selembar kertas, mereka mengatakan akan meminta cucu-cucu mereka untuk mengajari cara membaca dan melafalkannya.
Beberapa orang bersikap sangat lugas dan tidak banyak bertanya. Mereka mungkin hanya mengenyam pendidikan sampai kelas tiga atau empat sekolah dasar dan dahulunya merupakan anggota organisasi Pionir Muda. Saya menjelaskan kepada mereka bahwa Pionir Muda berafiliasi dengan Partai Komunis yang bersifat ateis, dan dengan menghapus tanda ateisme ini, mereka bisa mendapatkan perlindungan Dewa. Saya katakan kepada mereka bahwa jika mereka terus mengingat kalimat “Falun Dafa hao (Falun Dafa baik), Zhen-Shan-Ren hao (Sejati-Baik-Sabar baik)” dan melafalkannya di saat-saat kritis, mereka mungkin bisa mengubah kemalangan menjadi keberuntungan. Kebanyakan orang dengan sukarela setuju untuk melepaskan keanggotaan mereka di PKT.
Saat bertemu seseorang dengan status sosial tertentu yang bekerja di instansi pemerintah, saya mungkin bertanya, “Mengingat posisi Anda, pastilah Anda seorang anggota Partai, bukan?” Mereka biasanya menjawab, “Tentu saja.” Lalu saya katakan, “Karl Marx, pendiri komunisme, adalah seorang penganut Satanisme. Manifesto Komunis bahkan diawali dengan penyebutan tentang momok—hantu—yang menghantui Eropa. Saat bergabung dengan Partai, Anda mengangkat kepalan tangan dan bersumpah untuk mendedikasikan seluruh hidup Anda bagi Partai tersebut, seraya menyatakan kesiapan untuk mengorbankan nyawa demi Partai itu. Pada hakikatnya, Anda sedang mengikrarkan sumpah kepada Setan. Bukankah itu berarti Anda telah menempatkan diri Anda di bawah kendalinya?”
“Sumpah harus dipenuhi. Kita adalah keturunan Kaisar Kuning (Huang Di) dan Kaisar Yan (Yan Di), bukan keturunan Marx dan Lenin. Anda sebaiknya mengundurkan diri dari Partai. Anda bahkan bisa menggunakan nama samaran atau julukan. Hal ini tidak akan memengaruhi kehidupan atau pekerjaan Anda saat ini. Mari kita menjadi anak bangsa Tiongkok yang sejati, bukan pengikut Marx dan Lenin. Tiongkok adalah Tanah Dewa, tanah para Dewa, dan kita adalah rakyatnya para Dewa. Dengan mengundurkan diri, Anda akan berada dalam perlindungan Dewa dan Buddha.” Setelah mendengar hal ini, kebanyakan orang memilih untuk mundur dari PKT.
Jika ada waktu, saya menceritakan kepada mereka bagaimana Falun Dafa telah tersebar ke seluruh dunia. Banyak yang menanggapi, “Saya pernah melihatnya saat bepergian ke luar negeri. Saya tahu tentang hal itu.” Kemudian saya menyarankan, “Kalau begitu, cobalah melafalkan ‘Falun Dafa hao (Falun Dafa baik), Zhen-Shan-Ren hao (Sejati-Baik-Sabar baik).’ Hal itu akan meningkatkan energi positif di dalam tubuh Anda dan membantu proses pemulihan Anda. Semoga Anda lekas sembuh.”
Singkatnya, saat mengklarifikasi fakta, penting untuk mempertimbangkan sudut pandang orang lain dan menemukan titik awal yang tepat. Hal ini akan sangat meningkatkan peluang keberhasilan. Bergantung pada waktu yang tersedia dan seberapa terbuka orang tersebut, Anda bisa menyampaikan lebih banyak hal atau menyampaikannya secara sederhana. Manfaatkan momen yang tepat untuk mengajak mereka mengundurkan diri dari Partai, dengan menyesuaikan isi percakapan lainnya dengan pribadi orang tersebut.
Tentu saja, ada pula orang yang menolak untuk mengundurkan diri atau menanggapinya dengan kata-kata kasar. Dalam situasi seperti itu, saya tidak berdebat. Sebaliknya, saya berkata, “Mohon maaf, cara saya menyampaikan mungkin kurang tepat, dan saya minta maaf jika membuat Anda merasa tidak nyaman. Percayalah, niat saya tulus demi kebaikan Anda.” Setelah itu, saya pun pamit dengan tenang, seraya menaruh rasa belas kasih kepada mereka, dengan harapan kelak mereka akan mendapatkan kesempatan lain untuk mendengar fakta tersebut.
Saat Belas Kasih Muncul, Semakin Banyak Orang yang Mengundurkan Diri
Suatu kali, saya melihat seorang wanita berusia 30-an mendekati meja layanan sambil mendekap tumpukan obat-obatan. Ia melirik ke atas meja, lalu ke rak di bawahnya, tampak jelas ia sedang mencari kantong plastik besar, jenis yang biasa digunakan untuk menyimpan lembaran hasil pemindaian medis (seperti rontgen). Namun, karena hari kerja hampir berakhir, persediaan kantong tersebut sudah habis. Saya kebetulan menyimpannya di saku, lalu mengeluarkannya dan menyerahkannya kepadanya seraya berkata, “Ini, pakai saja.” Dengan suara tercekat dan mata berkaca-kaca, ia bertanya, “Bagaimana Anda tahu saya sedang mencari ini?” Saya menjawab, “Saya melihat Anda membawa semua obat-obatan itu tanpa ada tempat untuk menaruhnya.” Mendengar itu, ia pun menangis tersedu-sedu.
Saya bertanya, “Sayang, kamu masih sangat muda. Apa yang terjadi?” Dia menyebutkan suatu kondisi, kondisi yang cukup tidak biasa dan kini tidak lagi saya ingat, namun intinya adalah kondisi tersebut sulit diobati, dan pihak medis hanya bisa berupaya sebaik mungkin. Dia berkata, “Obat-obat ini saja harganya lebih dari seribu yuan! Saya tidak punya uang sebanyak itu, kakak dan adik saya yang harus membayarnya.” Saya pun berkata, “Jangan khawatir, Sayang. Ada kabar baik untukmu. Jika kamu dengan tulus melafalkan ‘Flun Dafa hao (Falun Dafa baik), Zhen-Shan-Ren hao (Sejati-Baik-Sabar baik)’ serta menyatakan mundur dari keanggotaan PKT, kamu akan aman dan terlindungi.” Dia pun setuju.
Kemudian, saya mengeluarkan selembar uang 100 yuan dari saku dan menyodorkannya kepadanya seraya berkata, “Jumlahnya memang tidak seberapa, tetapi terimalah ini untuk membeli makanan selama beberapa hari ke depan. Jangan khawatir, hari ini kamu telah mendengar kabar yang sangat baik, kamu akan diselamatkan.” Ia dengan tegas menolak uang tersebut dan bersikeras untuk tidak menerimanya dalam kondisi apa pun. Saya pun berkata, “Baiklah, pastikan saja kamu mengingat apa yang telah saya sampaikan hari ini, hal itu akan sangat membantumu.” Ia menjawab, “Saya akan mengingatnya.”
Melihat ekspresi kesakitan dan kesedihan di wajah orang-orang, muncul rasa belas kasih di dalam diri saya. Saya menyadari bahwa mereka pun berasal dari alam yang lebih tinggi, mereka semua adalah kerabat dari Guru kita, dan mereka semua menanti untuk diselamatkan oleh Falun Dafa, meskipun kini mereka telah tersesat dan terjerumus dalam ilusi di masyarakat manusia biasa ini. Timbul dorongan kuat dalam diri saya untuk melakukan segala upaya guna menyadarkan mereka, membantu mereka memilih masa depan yang cerah, dan kembali ke rumah di surga mereka masing-masing.
Begitu rasa belas kasih ini muncul, semua orang di sekitar saya terasa seperti kenalan dekat. Menjadi hal yang sangat wajar untuk memulai percakapan dan mengajak orang-orang untuk memutuskan hubungan mereka dengan organisasi-organisasi PKT. Terkadang, hanya butuh tiga atau empat kalimat bagi mereka untuk setuju. Saya benar-benar merasakan betapa besarnya kekuatan dari rasa belas kasih.
Saya telah menjelaskan fakta di rumah sakit selama tujuh tahun. Saya telah berkembang dari pribadi yang pemalu dan ragu-ragu menjadi sosok yang percaya diri dan tenang, serta dari cara berbicara yang berbelit-belit menjadi terbuka dan lugas. Mulai dari nol, saya telah mencapai titik di mana saya dapat membantu menyelamatkan sebanyak 13 atau 14 orang dalam satu hari. Setiap langkah dalam perjalanan kultivasi saya bergantung pada penguatan dan bimbingan Guru. Sepanjang proses ini, saya sering meminta Guru untuk mengatur agar orang-orang yang ditakdirkan duduk di samping saya.
Selama beberapa tahun terakhir, saya telah menyalin Zhuan Falun dua kali dan menghafalnya tiga kali. Ini telah memberi saya sumber kebijaksanaan yang tidak habis-habisnya untuk menjelaskan fakta kebenaran, dan saya telah menjadi lebih selaras secara spiritual. Guru-lah yang telah menyempurnakan saya. Terima kasih, Guru! Terima kasih, Dafa!
(Artikel terpilih untuk Konferensi Fa Tiongkok ke-23 di Minghui.org)
Seluruh konten dilindungi oleh hak cipta © 1999-2026 Minghui.org