(Minghui.org) Wang Xiaoqun (wanita), pensiunan pegawai Biro Perdagangan Kota Changde di Provinsi Hunan, dijatuhi hukuman 5 tahun pada 12 November 2025, bersama dengan sembilan warga setempat lainnya. Sebelum vonis terbarunya, dia telah menghabiskan 19 tahun di balik jeruji besi, menjalani dua hukuman kerja paksa dengan total 4 tahun, hukuman 7,5 tahun yang dijatuhkan pada 18 Mei 2006, hukuman 4 tahun yang dijatuhkan pada 21 Juli 2016, dan hukuman 3,5 tahun yang dijatuhkan pada 28 Juli 2020.

Lebih dari sepuluh orang dari kantor polisi setempat, kejaksaan, dan pengadilan mendatangi rumah Zhou Fenglan (wanita) di Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, pada 25 November 2025, dan mengadakan sidang terhadap wanita berusia 77 tahun yang baru-baru ini terbaring di tempat tidur setelah menderita stroke. Setelah menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara dengan denda 20.000 yuan, hakim mengancam akan membawanya untuk pemeriksaan fisik sebagai persiapan untuk masuk penjara.

Huo Guilan (wanita), seorang pensiunan pekerja berusia 75 tahun dari pabrik mesin plastik di Kota Baoji, Provinsi Shaanxi, ditangkap malam hari pada 11 April 2024. Empat petugas yang menangkapnya tidak mengizinkan dia mengganti pakaian atau sepatu sebelum menyeretnya ke bawah masuk ke mobil patroli mereka. Dia menderita luka parah di pergelangan kakinya dan tidak dapat berjalan. Dia juga merasa pusing, mengalami pendarahan vagina, merasakan sakit di dada dan punggung, dan kesulitan bernapas. Pendengaran dan penglihatannya juga menurun. Keluarganya meminta agar dia dibebaskan dengan jaminan tetapi permintaan mereka ditolak. Dia dijatuhi hukuman sembilan tahun dan didenda 36.000 yuan pada 18 Desember 2025.

Di atas hanyalah tiga contoh dari 751 kasus hukuman terhadap praktisi Falun Gong yang baru dilaporkan pada 2025. Dua puluh enam tahun setelah Partai Komunis Tiongkok (PKT) memerintahkan pemberantasan Falun Gong, penganiayaan tetap berlanjut. Beberapa praktisi menghabiskan puluhan tahun di balik jeruji besi sebelum penangkapan dan hukuman terbaru mereka. PKT juga tidak menunjukkan kelonggaran dalam menjatuhkan hukuman kepada praktisi yang sudah lanjut usia, dengan praktisi berusia 70-an, seperti Huo, menerima hukuman yang panjang hingga sembilan tahun.

Di antara 751 kasus hukuman yang baru dilaporkan, 514 terjadi pada 2025 dan 237 praktisi dijatuhi hukuman pada tahun-tahun sebelumnya. Keterlambatan pelaporan disebabkan oleh sensor informasi ketat PKT, yang bertujuan untuk menyembunyikan penganiayaan terhadap Falun Gong untuk menghindari pengawasan internasional.

I. Gambaran Umum Kasus Hukuman yang Baru Dilaporkan

a. Taktik Penganiayaan Utama untuk Menargetkan Praktisi

Setelah sistem kamp kerja paksa dihapuskan pada 2013, hukuman penjara menjadi salah satu taktik penganiayaan utama yang digunakan terhadap praktisi Falun Gong, selain pelecehan, sesi cuci otak, dan penahanan di rumah sakit jiwa.

Untuk mempercepat proses hukuman, beberapa wilayah menetapkan kejaksaan dan pengadilan khusus untuk menangani kasus Falun Gong. Praktisi dapat dihukum beberapa hari atau minggu setelah penangkapan mereka.

Pada 9 Januari 2025, Zhang Shuqin (wanita), seorang warga berusia 65 tahun dari Kota Jinzhou, Provinsi Liaoning, dimasukkan ke Penjara Wanita Provinsi Liaoning untuk menjalani hukuman dua tahun. Ia adalah praktisi Falun Gong ke-24 yang dijatuhi hukuman pada 2024 oleh Pengadilan Kota Linghai, yang berada di bawah administrasi Jinzhou dan telah ditunjuk untuk menangani kasus Falun Gong di wilayah Jinzhou Raya. Setidaknya 48 praktisi lainnya di Jinzhou dan kota/kabupaten bawahannya dijatuhi hukuman oleh Pengadilan Kota Linghai antara 2022 dan 2023.

Di Provinsi Jilin, empat warga Kota Yushu dijatuhi hukuman pada 18 Agustus 2025 oleh Pengadilan Kota Dehui, yang ditugaskan untuk menangani kasus Falun Gong di Dehui dan wilayah sekitarnya, termasuk Yushu. Para praktisi tersebut ditangkap pada Desember 2024 karena membantu orang memasang antena parabola untuk menerima berita luar negeri tanpa sensor yang mengungkap penganiayaan terhadap Falun Gong.

b. Kasus Hukuman di Seluruh Tiongkok

Tiongkok memiliki 22 provinsi, 4 kota yang dikendalikan secara pusat (Beijing, Tianjin, Shanghai, dan Chongqing), dan 5 daerah otonom (Guangxi, Mongolia Dalam, Tibet, Xinjiang, dan Ningxia). Kecuali Shanghai, Tibet, Guangxi, Qinghai, dan Hainan, semua 26 yurisdiksi lainnya melaporkan kasus hukuman pada 2025. Liaoning, Jilin, dan Shandong masing-masing memiliki 98, 96, dan 95 kasus. Enam belas yurisdiksi lainnya juga melaporkan kasus dengan jumlah dua digit antara 11 dan 65, dan tujuh wilayah yang tersisa memiliki kasus satu digit antara 1 hingga 9.

Pengadilan Distrik Qingyang di Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, menjatuhkan hukuman kepada lima warga setempat pada 19 September 2025. Hukuman terlama adalah tiga tahun delapan bulan dengan denda 30.000 yuan, dan hukuman terpendek adalah dua puluh bulan dengan denda 10.000 yuan. Polisi mengungkapkan bahwa mereka telah memantau seorang praktisi selama berbulan-bulan sebelum menangkapnya. Mereka bahkan memasang alat pengawasan di kediaman ibunya dan mengambil foto ketika ia keluar. Setelah penangkapannya, mereka terus membuntuti saudara perempuan praktisi untuk jangka waktu tertentu.

Lima warga Kabupaten Suiling, Provinsi Heilongjiang, dijatuhi hukuman hingga 5 tahun penjara pada 16 Oktober 2025. Para praktisi tersebut ditangkap pada 10 Mei 2025, berdasarkan perintah dari Biro Keamanan Publik Provinsi Heilongjiang. Para praktisi tersebut menjadi sasaran setelah petugas berpakaian preman melihat mereka membagikan materi informasi Falun Gong. Mereka direkam dan difoto. Materi yang mereka bagikan juga digunakan sebagai bukti.Beberapa praktisi dijatuhi hukuman oleh pengadilan di luar kota.

Han Jinhua (wanita), 67 tahun, dari Kabupaten Huai'an, Provinsi Hebei, dijatuhi hukuman tiga tahun empat bulan oleh pengadilan di Provinsi Shaanxi. Saat mengunjungi putranya di Kota Xi'an, Provinsi Shaanxi, Han menggantungkan informasi Falun Gong di gagang pintu di sebuah kawasan perumahan. Seorang warga melihatnya dari kamera bel pintu dan melaporkannya ke polisi.

Petugas dari Kota Xi'an melakukan perjalanan lebih dari 600 mil ke Kabupaten Huai'an, Provinsi Hebei, pada 30 Agustus 2024, untuk menangkap Han dan membawanya kembali ke Xi'an. Ia diadili pada 22 Januari 2025. Pengacaranya menerima pemberitahuan pada pertengahan Juli 2025 bahwa ia telah dijatuhi hukuman tiga tahun empat bulan.

c. Hukuman Berat Hingga Sepuluh Tahun

Kejaksaan Agung Rakyat Tiongkok mengumumkan pada Februari 2024 bahwa dalam beberapa tahun terakhir, 85% dari terpidana menerima hukuman tiga tahun atau kurang, dibandingkan dengan 55% pada 1999. Namun, dari 751 kasus hukuman terhadap praktisi Falun Gong yang dilaporkan pada 2025, 418 di antaranya (55,7%) dijatuhi hukuman tiga hingga sepuluh tahun, yang menandakan hukuman yang lebih berat bagi praktisi Falun Gong, padahal mereka tidak melanggar hukum apa pun dalam menjalankan hak konstitusionalnya atas kebebasan berkeyakinan.

Selain itu, 266 praktisi didenda total 3.269.400 yuan, rata-rata 12.291 yuan per orang. Fu Guiqin, dari Kabupaten Yilan, Provinsi Heilongjiang, dan Liu Yingjun, dari Kota Dalian, Provinsi Liaoning, masing-masing didenda 100.000 yuan dan dijatuhi hukuman penjara masing-masing dua tahun sepuluh bulan dan tujuh tahun.

Sepasang suami istri di Kota Luohe, Provinsi Henan, Yang Juncheng dan Ding Xiangqin, yang berusia 60-an, sama-sama dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara pada waktu yang tidak diketahui, setelah penangkapan mereka pada September 2023. Polisi menyita uang tunai 300.000 yuan dan barang-barang pribadi lainnya saat menggeledah rumah mereka. Ayah Yang, berusia 90-an dan bergantung padanya untuk perawatan, berada dalam situasi yang sangat sulit.

Meng Qingjie (wanita), seorang pensiunan guru sekolah dasar berusia 72 tahun di Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, ditangkap pada 12 Juli 2024, dan dijatuhi hukuman delapan tahun penjara dengan denda 50.000 yuan pada 26 Maret 2025. Sebelum hukuman terakhirnya, ia telah dipenjara selama total sembilan tahun karena keyakinannya, dan pensiunnya telah ditangguhkan sejak 2018.

Jiang Dexin (pria), seorang warga berusia 56 tahun dari Kota Fushun, Provinsi Liaoning, ditangkap di rumahnya pada 26 Oktober 2024, oleh petugas dari Kota Chengde, Provinsi Hebei, sekitar 400 mil jauhnya. Ia diadili di Pengadilan Distrik Shuangqiao di Chengde pada 4 Juli 2025. Hakim ketua menuduhnya “menghasut, mengumpulkan, dan mengorganisir kegiatan untuk melemahkan penegakan hukum.” Hakim tidak mengizinkan pengacaranya untuk menyampaikan bukti pembelaan atau menghadirkan saksi mereka di pengadilan untuk menerima pemeriksaan silang. Ia menjatuhkan hukuman sembilan tahun penjara kepada Jiang beserta denda 20.000 yuan, beberapa hari setelah persidangan. Setelah tuntutan dimulai pada Juli 1999, Jiang telah dijatuhi hukuman dua kali, dengan total 14 tahun penjara.

d. Puluhan Tahun Penganiayaan

Seperti Jiang Dexin yang disebutkan di atas, beberapa praktisi telah menderita penganiayaan selama puluhan tahun sebelum dijatuhi hukuman lagi. Wang Jinxian (wanita), 69 tahun, dari Kabupaten Yiliang, Provinsi Yunnan, dijatuhi hukuman penjara kelima, 4,5 tahun, setelah penangkapan terakhirnya pada Juni 2024. Ia juga sebelumnya menghabiskan 14 tahun di balik jeruji besi, dan hukuman ketiganya hanya 44 hari setelah ia menyelesaikan hukuman kedua.

Zuo Xiuyun (wanita), 64 tahun, dari Kota Fuzhou, Provinsi Fujian, juga dijatuhi hukuman penjara kelima selama tiga tahun lima bulan, pada awal 2025. Empat hukuman sebelumnya berjumlah total 17,5 tahun. Suaminya menceraikan dia saat ia menjalani hukuman penjara pertamanya.

Yang Jiangwei (pria), 55 tahun, mantan karyawan Perusahaan Instalasi Tenaga Listrik Liangjin Dayang di Kabupaten Suizhong, Provinsi Liaoning, ditangkap pada 19 April 2024 karena memasang stiker tempel bertuliskan “Zhen Shan Ren Hao (Sejati Baik Sabar Baik)” di tiang listrik. Ia dijatuhi hukuman 14 bulan penjara pada Februari 2025. Sejak penganiayaan terhadap Falun Gong dimulai pada 1999, Yang telah menjalani tiga kali kerja paksa dan hukuman penjara 10 tahun, dengan total 17,5 tahun. Ia hanya dapat menghabiskan sedikit lebih dari tujuh tahun bersama keluarganya selama 26 tahun terakhir.

Jiang Yuntian (pria), 58 tahun, dari Kota Guangzhou, Provinsi Guangdong, ditangkap pada 12 Juli 2024 setelah ia memposting informasi tentang Falun Gong di Kuaishou (platform media sosial tipe TikTok). Ia kemudian dijatuhi hukuman 4 tahun, dan bandingnya juga ditolak. Sebelum menjalani hukuman terakhirnya, ia telah menjalani hukuman kerja paksa selama 3 tahun dan hukuman penjara selama 10 tahun. Saat ditahan di kamp kerja paksa, pakaiannya dilucuti dan disetrum dengan empat tongkat listrik secara bersamaan selama lebih dari satu jam. Ia pingsan dan para penjaga menyiramnya dengan air dingin. Setelah sadar, mereka melanjutkan penyiksaan dengan sengatan listrik. Seorang penjaga menyetrum alat kelaminnya dan menertawakan penderitaannya. Ia masih memiliki bekas luka di tubuhnya hingga hari ini.

II. Profil Para Korban

Di antara 498 dari 751 praktisi pada saat vonis dijatuhkan berusia : 1 orang berusia 20-an, 5 orang berusia 30-an, 17 orang berusia 40-an, 105 orang berusia 50-an, 180 orang berusia 60-an, 156 orang berusia 70-an, 33 orang berusia 80-an, dan 1 orang berusia 90-an.

Para praktisi berasal dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pejabat pemerintah, dosen perguruan tinggi, dokter, seniman, pengusaha, perawat, insinyur, petani, dan pekerja pabrik.

a. Praktisi Muda yang Dijatuhi Hukuman

Li Lixia (wanita), seorang dokter berusia 31 tahun di Kota Shijiazhuang, Provinsi Hebei, ditangkap pada 25 Maret 2024. Ia dijatuhi hukuman satu setengah tahun setelah tiga kali sidang pada 20 November 2024, 1 April 2025, dan 24 April 2025.

Sun Shuang (wanita), 36 tahun, ditangkap di rumahnya di Beijing pada 22 November 2023, setelah dilaporkan karena membagikan kalender pada hari itu. Polisi berjanji akan membebaskannya jika ia setuju untuk menandatangani surat penahanan dan catatan interogasi. Ia mempercayai mereka dan menandatangani dokumen tersebut, hanya untuk dibawa ke pusat penahanan dan dikenai tuntutan hukum. Ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara dengan denda 5.000 yuan pada 20 Maret 2025. Ibunya, Wang Shuhui, juga seorang praktisi Falun Gong, ditangkap pada pertengahan Mei 2025 karena berusaha mencari keadilan untuknya.

Tong Mingyu (pria), 43 tahun, dari Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, mulai mogok makan di Pusat Penahanan Distrik Shuangcheng pada hari penangkapannya pada 20 November 2024. Para penjaga memaksanya makan setiap hari. Ia diadili pada 13 Februari 2025, dan dijatuhi hukuman lima tahun tiga bulan pada 27 Februari.

b. Praktisi Paruh Baya Juga Menjadi Sasaran

Zou Bin (pria), seorang warga Chongqing berusia 47 tahun, ditangkap pada 22 Mei 2024, dan dijatuhi hukuman dua setengah tahun pada Februari 2025. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Kaki kakak laki-lakinya cacat dan tidak mampu merawat dirinya sendiri. Zou telah beberapa kali menulis surat kepada polisi, menuntut untuk dibebaskan agar dapat merawat saudaranya, tetapi tidak membuahkan hasil.

Wang Ping (wanita), seorang warga berusia 54 tahun di Kota Chengdu, Provinsi Sichuan, diadili pada 25 Juli 2025. Beberapa anggota keluarganya menghadiri persidangan. Petugas pengadilan mengambil foto kartu identitasnya dan tidak mengizinkan mereka membawa ponsel ke ruang sidang. Ketiga hakim semuanya mengenakan masker selama persidangan. Putranya mewakili mereka sebagai pembela non-pengacara dan mengajukan pembelaan tidak bersalah untuknya. Para hakim menjatuhkan hukuman 2,5 tahun penjara dengan denda 10.000 yuan di akhir persidangan.

Yuan Yiqun (wanita), 55 tahun dan warga Kota Kunming, Provinsi Yunnan, ditangkap pada 8 Agustus 2024, segera setelah ia membukakan pintu untuk ibunya yang berusia 80 tahun, yang baru saja pulang dari berbelanja bahan makanan. Lebih dari sepuluh petugas berpakaian preman menangkapnya. Ibunya sangat ketakutan sehingga kondisi jantungnya kambuh dan dilarikan ke rumah sakit. Yuan diadili pada 20 Januari 2025, dan kemudian dijatuhi hukuman 3,5 tahun.

Pada 6 Oktober 2025, Festival Pertengahan Musim Gugur (hari libur untuk reuni keluarga), keluarga Zhang Zhirong (pria) yang berusia 56 tahun diberitahu bahwa ia telah dijatuhi hukuman empat tahun. Zhang, seorang petani di Kota Laixi, Provinsi Shandong, ditangkap pada 26 September 2024. Ia menjadi kurus kering akibat penganiayaan dalam tahanan. Penangkapan dan hukuman yang dijatuhkan kepadanya sangat berat bagi orang tuanya, yang berusia 80-an. Ibunya jatuh sakit tahun lalu. Tanpa penghasilan pensiunan, ayahnya mencari nafkah dengan memungut dan menjual sampah daur ulang. Istri Zhang melakukan pekerjaan serabutan untuk membayar biaya kuliah anak mereka.

Tong Jing (wanita), 59 tahun, dari Kota Fushun, Provinsi Liaoning, ditangkap pada 9 Agustus 2023, ketika ia pergi ke kantor polisi untuk mengajukan permohonan paspor guna menghadiri upacara wisuda putranya di negara lain. Ia dibebaskan dengan jaminan pada 23 Agustus 2023, dan ditahan kembali pada 7 Maret 2025. Karena ia menolak untuk menghadiri sidang pada 24 Juni 2025, petugas pengadilan menahannya di kursi roda dan membawanya ke ruang sidang darurat di pusat penahanan. Ia tetap diam sebagai bentuk protes sepanjang sidang. Hakim kemudian menjatuhkan hukuman 3,5 tahun kepadanya.

c. Praktisi Lanjut Usia Tidak Terhindar

1) Perintah Pengadilan yang Mengizinkan Praktisi Lanjut Usia Menjalani Hukuman di Rumah Dibatalkan

Dalam perkembangan baru yang mengkhawatirkan, banyak praktisi lanjut usia, sebagian besar berusia 80-an, ditahan kembali untuk menjalani hukuman penjara yang sebelumnya tidak diwajibkan. Sebagian besar dari mereka ditolak masuk ke pusat penahanan atau penjara karena berbagai penyakit. Perintah baru untuk menegakkan hukuman penjara, atau bahkan menjalani kembali hukuman penjara yang telah berakhir, terlepas dari kondisi fisiknya, menimbulkan risiko yang sangat besar bagi kesehatan dan kehidupan mereka.

Wei Jiuxiang, 82 tahun, dan istrinya, Zhang Yanmiao, 85 tahun, dari Kabupaten Mengyin, Provinsi Shandong, keduanya dijatuhi hukuman empat tahun pada 2024. Mereka tidak langsung diperintahkan untuk menjalani hukuman, tetapi polisi menangkap mereka pada Mei 2025 dan membawa mereka ke penjara, meskipun Wei buta dan cacat.

Zhao Guilian (wanita), 82 tahun, dari Kota Chifeng, Mongolia Dalam, dijatuhi hukuman percobaan tiga tahun dalam waktu yang tidak diketahui pada 2023. Petugas pengadilan tiba-tiba muncul di depan pintunya pada awal 2025 dan memerintahkannya untuk menandatangani pernyataan yang menolak Falun Gong. Dia menolak. Polisi menangkapnya di rumah pada Mei 2025 dan membawanya langsung ke Penjara Wanita Mongolia Dalam.

Lebih dari sepuluh petugas dengan empat mobil patroli polisi mendatangi rumah Liu Chunping (wanita) di Kota Jinan, Provinsi Shandong pada 21 Juli 2025, dan menangkap wanita berusia 85 tahun tersebut. Ia dimasukkan ke Penjara Wanita Provinsi Shandong keesokan harinya, dan kunjungan keluarga telah ditolak. Liu dijatuhi hukuman satu tahun pada 9 September 2022, dan ia ditolak masuk ke pusat penahanan setempat setelah gagal dalam pemeriksaan fisik yang dipersyaratkan. Setelah dibebaskan, polisi sering melecehkan dan mendesaknya menjalani pemeriksaan fisik lebih lanjut untuk melihat apakah ia cukup sehat untuk melapor ke penjara. Mereka akhirnya memenjarakannya pada Juli 2025.

Zhao Yungu (pria), seorang pensiunan pekerja pabrik traktor kecil berusia 87 tahun di Kabupaten Bin, Provinsi Heilongjiang, dijatuhi hukuman 3,5 tahun penjara pada 16 Agustus 2024. Ia tetap bebas sebelum dan sesudah persidangannya hingga 11 Juli 2025, ketika polisi membawanya ke ambulans dan mengantarkannya ke rumah sakit untuk pemeriksaan fisik, sesuai perintah pengadilan. Ia dimasukkan ke penjara di Harbin pada 8 Agustus.

Yu Fangzhuang (wanita), seorang warga berusia 92 tahun dari Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, dan Ma Junting (wanita), 86 tahun dari Kota Tai'an, Provinsi Shandong, keduanya meninggal dunia setelah diperintahkan untuk menjalani kembali masa hukumannya yang telah berakhir.

2) Lebih Banyak Kasus Praktisi Lanjut Usia yang Dijatuhi Hukuman

Li Shulian (wanita), 67 tahun, dari Kota Yan'an, Provinsi Shaanxi, ditarik dari tempat tidurnya oleh beberapa petugas polisi pada 3 Januari 2024. Keluarga wanita yang tidak berdaya itu tidak diberi tahu tentang situasinya hingga pertengahan Agustus 2025, ketika mereka menerima pemberitahuan yang menyatakan bahwa ia telah dimasukkan ke penjara pada 21 Juli 2025, untuk menjalani hukuman enam tahun. Tidak jelas apakah keluarganya diizinkan untuk mengunjunginya.

Yang Zonglin (pria), 68 tahun, dari Kota Pingliang, Provinsi Gansu, ditangkap pada 21 Maret 2025, setelah seorang guru menuduh dia berbicara kepada murid-muridnya tentang Falun Gong. Ia diadili di Pengadilan Distrik Kongtong pada 21 Juli dan dijatuhi hukuman satu tahun. Ia mengalami kondisi medis yang parah akibat penyiksaan saat dalam tahanan, termasuk penyakit jantung dan sakit perut. Ia lemah dan kurus dengan punggung bungkuk.

Wang Junheng (pria), seorang warga berusia 76 tahun di Kota Yantai, Provinsi Shandong, dijatuhi hukuman 1,5 tahun sekitar 20 September 2025, dan segera dimasukkan ke Penjara Provinsi Shandong. Istrinya, yang telah lumpuh selama bertahun-tahun dan bergantung padanya, ditinggalkan untuk bertahan hidup sendiri.

Wang Hongfen (wanita), seorang warga berusia 77 tahun di Kota Guiyang, Provinsi Guizhou, dijatuhi hukuman tiga tahun pada September 2025, karena menolak untuk menandatangani pernyataan yang menolak Falun Gong. Karena menerbitkan deklarasi khidmat di Minghui.org untuk membatalkan pernyataan yang sebelumnya dipaksa ditulis untuk menolak dan mengecam Falun Gong, dua wanita lanjut usia lainnya di Kota Guiyang juga dijatuhi hukuman penjara pada paruh kedua 2025, dengan Li Yuanyou, 68 tahun, dijatuhi hukuman 4 tahun, dan Zhan Daihui, 85 tahun, dijatuhi hukuman 20 bulan.

Cao Shibin (pria), 85 tahun, dari Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, adalah seorang pensiunan insinyur senior yang merancang dan mengembangkan senjata ringan dan senjata api kecil. Ia ditangkap pada Januari 2025 karena menulis surat kepada kepala pemerintahan Kabupaten Fuyu, mendesaknya untuk tidak mengikuti rezim komunis dalam menganiaya Falun Gong. Pengadilan setempat menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara dengan denda 10.000 yuan pada waktu yang tidak diketahui. Sekelompok petugas polisi dan petugas medis menerobos masuk ke rumahnya pada 6 November 2025, dan membawanya pergi dengan tandu, meskipun tekanan darahnya sangat tinggi. Ia dirawat di Pusat Penahanan Kabupaten Fuyu. Keluarganya belum menerima kabar terbaru tentang dirinya sejak saat itu.

III. Pelanggaran Hukum di Setiap Tahap Proses Penuntutan

Prosedur hukum dilanggar di setiap tahap proses penuntutan ketika para praktisi dijatuhi hukuman. Tiga warga Kota Huaihua, Provinsi Hunan, muncul di Pengadilan Kabupaten Zhijiang secara terpisah pada 16 dan 17 Desember 2024. Hakim yang memimpin ketiga persidangan dan jaksa yang mendakwa ketiganya sama-sama berteriak, “Jangan bicara tentang hukum kepada saya” selama persidangan.

Di Kabupaten Qingyuan, Provinsi Liaoning, polisi mengancam akan menjatuhkan hukuman yang lebih berat kepada pasangan suami istri jika keluarganya menyewa pengacara dari Beijing untuk mereka.

Berikut adalah detail tambahan.

a. Ketika Kasus Berada di Tangan Polisi dan Jaksa

1) Praktisi Dianiaya atau Dilecehkan Selama dan Setelah Penangkapan

Guo Haicheng (pria), dari Kabupaten Bin, Provinsi Heilongjiang, pergi ke Kabupaten Fangzheng terdekat membeli hasil pertanian untuk usaha kecilnya pada 4 September 2024, hanya untuk ditangkap karena berbicara kepada para petani tentang manfaat kesehatan Falun Gong. Saat menggerebek rumahnya, polisi memukuli dia di depan tetangganya. Dua giginya copot dan dia juga mengalami beberapa luka lainnya. Namun polisi melarangnya untuk mencari perawatan. Lingkungan hidup yang buruk dan pelecehan di pusat penahanan membuatnya sulit untuk pulih. Dia kemudian dijatuhi hukuman dua setengah tahun penjara.

Yu Mei (wanita), 58, dan Wu Shaochuan (wanita), 62, keduanya dari Kota Zhanjiang, Provinsi Guangdong, ditangkap pada 14 Mei 2023. Selama interogasi di kantor polisi, kedua wanita itu diborgol, digeledah, dan foto serta sidik jarinya diambil tanpa persetujuan mereka. Yu menolak untuk patuh dan ditahan oleh beberapa petugas. Mereka memotong jarinya dan mengambil sidik jarinya. Para praktisi dibebaskan setelah 15 hari ditahan dan dibawa kembali ke tahanan pada 16 September 2024. Mereka diadili pada 19 Maret 2025, dan keduanya dijatuhi hukuman tiga tahun pada waktu yang tidak diketahui.

Gao Ying (wanita), dari Kota Beizhen, Provinsi Liaoning, ditangkap pada 24 Mei 2022. Karena menolak menjawab pertanyaan polisi, petugas menampar wajahnya, memukul tulang rusuknya, dan menusuk tulang rusuknya dengan pena. Sisi kiri wajahnya, serta beberapa bagian tubuh dan lengannya, dipenuhi memar. Selama beberapa hari berikutnya, ia berulang kali ditolak masuk oleh pusat penahanan setempat karena suhu tubuhnya yang tinggi. Meskipun ia dibebaskan segera setelah itu, polisi membawanya kembali ke tahanan pada April 2024 dan menyerahkan kasusnya ke kejaksaan. Ia dijatuhi hukuman empat setengah tahun pada pertengahan Januari 2025.

Xu Chunfeng (wanita), seorang warga berusia 62 tahun di Kabupaten Songming, Provinsi Yunnan, ditangkap di rumahnya tengah malam pada 25 April 2024. Karena kondisi kesehatannya, pusat penahanan menolak menerimanya sebanyak tiga kali. Pada saat polisi dengan enggan membebaskannya dengan jaminan tiga hari kemudian, dia belum diberi makan apa pun sejak penangkapannya. Dia diadili pada 23 September 2025 dan hakim memerintahkan petugas pengadilan untuk mencabut mikrofonnya agar dia tidak berbicara, ketika dia mengatakan bahwa dia tidak melanggar hukum dalam menjalankan hak konstitusionalnya atas kebebasan berkeyakinan. Dia menerima vonis dua tahun melalui pos pada 29 September 2025.

2) Penggeledahan Tidak Sah di Rumah Praktisi

Kong Fanwei (pria), seorang warga Tianjin berusia 60 tahun, ditangkap di sebuah pasar komunitas pada 3 Juli 2024, karena menukar uang kertas yang dicetak dengan informasi tentang Falun Gong. Karena sensor informasi yang ketat di Tiongkok, praktisi Falun Gong menggunakan saluran akar rumput dan cara-cara kreatif, seperti mencetak informasi pada uang kertas, untuk melawan penganiayaan.

Polisi menerobos masuk ke rumah Kong sekitar pukul 9 pagi. Sementara sebagian besar petugas menggeledah rumahnya, dua petugas berdiri di luar dan melarang anggota keluarga Kong, yang tinggal serumah dengannya, untuk masuk ke dalam. Polisi tidak pergi sampai pukul 3 sore. Komputer, printer, dan materi informasi Falun Gong milik Kong disita. Ia dibawa ke pusat penahanan pada malam harinya.

Pengadilan Distrik Wuqing mengadakan sidang virtual kasus Kong pada 8 November 2024, tanpa memberitahukan keluarganya, dan menjatuhkan hukuman tujuh setengah tahun penjara kepadanya. Ia dimasukkan ke penjara keesokan harinya.

Yao Yan (wanita), seorang warga Kota Jilin, Provinsi Jilin, ditangkap pada 25 April 2023, setelah dilaporkan karena membagikan materi informasi Falun Gong di daerah pemukiman. Ia dibebaskan dengan jaminan tak lama kemudian. Untuk menghindari penganiayaan lebih lanjut, ia bersembunyi dan dimasukkan ke dalam daftar buronan.

Polisi menerobos masuk ke rumah Yao setelah pukul 19.00 pada 17 April 2024, dengan menyewa tukang kunci. Mereka menuntut untuk mengetahui keberadaan Yao. Suaminya menjawab bahwa ia belum pulang selama sebulan. Polisi kemudian menggeledah ponsel pribadi putra Yao sebelum menuntut untuk melihat ponsel bisnisnya juga.

Ketiga petugas tersebut menggeledah setiap sudut rumah, termasuk di bawah tempat tidur dan lemari sepatu. Mereka mengancam akan mengirim Yao ke penjara jika putranya menolak untuk mengungkapkan keberadaannya. Seorang petugas menunjukkan kepada putra Yao informasi tentang dirinya di daftar buronan online mereka dan mengatakan bahwa ia dapat ditangkap di mana saja.

Ketika polisi mencoba untuk tetap tinggal di sana menunggu Yao kembali, suaminya mengeluh tentang pelecehan tersebut. Seorang petugas menjawab, “Anda memiliki seorang praktisi Falun Gong di keluarga Anda dan Anda masih mengeluh tentang kami yang tinggal di rumah Anda?”

Yao ditangkap pada 8 September 2024, dan dibawa ke Pusat Penahanan Kota Jilin keesokan harinya. Keluarganya mengetahui hukuman penjara 1,5 tahun yang dijatuhkan kepadanya pada Mei 2025.

Ketika Yin Hongwei (pria), dari Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang, hendak pergi bekerja pada 19 Desember 2024, beberapa petugas yang menunggu di lantai bawah menangkapnya dan memasang tudung hitam di kepalanya. Mereka kemudian mengambil kunci dan menggeledah rumahnya. Putrinya, Yin, yang berusia awal 20-an, juga ditangkap di kediaman mereka. Uang tunai, kartu bank, KTP, dan komputer Yin disita.

Polisi juga menggeledah rumah orang tua Yin di gedung apartemen yang sama. Setelah menemukan buku Falun Gong, mereka membawa ayah Yin, yang berusia akhir 70-an, ke kantor polisi, dan menahannya selama beberapa jam. Ketika ibu Yin kembali ke rumah setelah berjalan-jalan di luar, ia sangat terpukul melihat rumahnya berantakan, dan bahwa suami, putra, serta cucunya telah ditangkap. Sebelum ia sempat bernapas lega, polisi kembali untuk melakukan penggeledahan lagi. Ia sangat ketakutan sehingga mengalami serangan jantung.

Selama persidangan Yin dan istrinya pada 19 Juni 2025, pengacaranya membantah klaim polisi bahwa mereka menangkap Yin setelah menemukan materi Falun Gong di rumahnya selama “penggeledahan rutin” dan “menyadari bahwa ia mempraktikkan Falun Gong.” Faktanya, setelah istri Yin, yang juga seorang praktisi Falun Gong, dijatuhi hukuman tiga tahun pada 22 April 2024, polisi telah memantaunya, dan penggerebekan rumahnya adalah untuk mengumpulkan “bukti” terhadapnya.

Pengacara itu juga mempertanyakan apakah polisi menangkap Yin dan putrinya untuk “menjaga stabilitas” menjelang Asian Winter Games yang diadakan di Harbin pada Februari 2025. Dari pada menanggapi komentar pengacara tersebut, hakim memerintahkan untuk mengeluarkannya dari ruang sidang. Ia menjatuhkan hukuman empat setengah tahun kepada Yin dan satu tahun kepada istri Yin sekitar Desember 2025.

3) Membuka Kembali Kasus Lama untuk Menghukum Praktisi

Ma Xiuqin (wanita), seorang pensiunan guru berusia 73 tahun di Kota Heze, Provinsi Shandong, ditangkap pada pukul 7 pagi 11 Juli 2024, selama operasi penyisiran polisi terhadap praktisi Falun Gong setempat. Polisi menginterogasinya siang hari dan membawa dia ke pusat penahanan setempat pada malam hari. Meskipun awalnya para penjaga menolak untuk menerimanya karena tekanan darahnya yang tinggi, polisi memaksa mereka untuk menerimanya. Tekanan darahnya tetap tinggi. Ia tidak dapat berjalan sendiri atau bahkan duduk setelah menggunakan toilet.

Untuk menghukum Ma, polisi membuka kembali kasusnya dari 2020, ketika ia ditangkap karena membagikan pamflet Falun Gong. Saat menyerahkan kasus terbarunya ke kejaksaan, polisi menuduhnya “berusaha melarikan diri,” dan memalsukan keterangan saksi untuk menjebaknya. Ia dijatuhi hukuman 16 bulan pada 5 Desember 2024.

4) Otentikasi Bukti yang Tidak Sah

Selama persidangan gabungan enam praktisi Falun Gong dari Kota Suzhou, Provinsi Jiangsu, pada 31 Januari dan 22 Mei 2024, tiga praktisi bersaksi melawan polisi karena menyiksa mereka selama interogasi dan memaksa mereka untuk membuat “pengakuan” palsu. Mereka menambahkan bahwa lokasi tempat mereka ditahan bukanlah fasilitas penahanan yang diakui secara hukum. Mereka menuntut agar catatan interogasi tersebut dikeluarkan dari persidangan.

Pengacara para praktisi menunjukkan bahwa penggunaan Divisi Keamanan Dalam Negeri Kota Suzhou (di bawah departemen kepolisian) untuk memverifikasi dan mengotentikasi bukti penuntutan merupakan pelanggaran prosedur hukum, karena hanya pihak ketiga yang independen yang dapat memeriksa bukti penuntutan dan mengeluarkan pendapat resmi. Dengan demikian, semua bukti penuntutan seharusnya tidak dapat diterima.

Jaksa penuntut menduga bahwa tindakan para praktisi Falun Gong membaca ajaran Falun Gong bersama-sama, memproduksi dan membagikan materi informasi Falun Gong, mendaftar ke kotak surat Minghui.org, menyewa pengacara untuk membela praktisi lain yang sebelumnya ditangkap, dan mengambil buku Falun Gong dari rumah praktisi yang telah meninggal yang keluarganya memutuskan untuk memberikan buku-buku tersebut adalah ilegal.

Para praktisi dan pengacaranya membantah bahwa tidak ada hukum di Tiongkok yang mengkriminalisasi Falun Gong, dan bahwa semua hal yang mereka lakukan yang tercantum di atas berada dalam hak konstitusional mereka.

Hakim menjatuhkan hukuman kepada para praktisi pada 20 Maret 2025, dengan hukuman penjara mulai dari empat hingga tujuh tahun.

5) Bukti Penuntutan yang Direkayasa

i. Pria Berusia 83 Tahun dengan Atrofi Otak Ditipu agar Menandatangani Pernyataan yang Mengancam Menantunya

Dua warga Kabupaten Yilan, Provinsi Heilongjiang, divonis bersalah secara tidak adil pada 11 Februari 2025. Gao Jing (wanita), 60 tahun, dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan denda 50.000 yuan. Fu Guiqin (wanita), 74 tahun, menerima hukuman dua tahun sepuluh bulan dengan denda 100.000 yuan.

Kedua wanita tersebut ditangkap pada 8 Februari 2024. Meskipun Fu diketahui memiliki tekanan darah sistolik yang sangat tinggi dan kesulitan berjalan sendiri, polisi menggunakan video pengawasan lama yang menunjukkan dia berjalan dengan cepat untuk membujuk pusat penahanan agar menerimanya.

Setelah kejaksaan dua kali mengembalikan kasus mereka dengan alasan kurangnya bukti, polisi menipu ayah mertua Gao, Wang Fuyou, untuk menandatangani pernyataan yang memberatkan dirinya. Wang, 83 tahun, telah didiagnosis menderita atrofi otak, dan pernah menghilang karena tidak ingat jalan pulang. Polisi juga memaksa suami, putra, dan ibu mertua Gao yang berusia 83 tahun untuk memberikan “kesaksian” yang memberatkan dirinya. Liu selanjutnya memalsukan beberapa bukti atas nama anggota keluarga Gao. Dengan bukti “tambahan” tersebut, ia berhasil membuat kejaksaan menerima kasus tersebut setelah percobaan ketiga.

Selama sidang pengadilan Fu dan Gao, hakim membacakan “kesaksian” suami Gao yang memberatkan dirinya. Ketika ia bersumpah bahwa ia tidak pernah mengatakan hal seperti itu, hakim memerintahkan petugas pengadilan untuk mengeluarkannya dari ruang sidang. Baru kemudian dia dan anggota keluarga yang lain menyadari bahwa mereka telah ditipu oleh Kapten Liu untuk memberikan “kesaksian” melawan Gao tanpa sepengetahuan mereka. Gao dan Fu dinyatakan bersalah pada 11 Februari 2025.

ii. Saksi Fiktif Termasuk dalam Bukti Penuntutan Terhadap Insinyur Liaoning

Zhang Huiqiang (pria), seorang mantan insinyur berusia 58 tahun di Pabrik Kimia Etilen Kota Fushun di Provinsi Liaoning, dijatuhi hukuman empat setengah tahun atas bukti yang dipertanyakan yang direkayasa oleh polisi.

Selama sidang pengadilan Zhang pada 6 Maret 2025, jaksa penuntut mengklaim bahwa seorang pria bernama Su Bin “menyaksikan” penggerebekan polisi di rumah Zhang. Pengacaranya menjawab bahwa dia menonton video kamera polisi secara keseluruhan dan tidak melihat siapa pun bernama Su Bin di dalamnya. Namun, hakim bersikeras bahwa ada Su Bin dalam video polisi dan dia melihat foto Su Bin dalam bukti yang diberikan polisi.

Putri Zhang, yang bertindak sebagai pembela bukan-pengacara untuk ayahnya, bersaksi melawan polisi karena memeras pengakuan dari ibunya. Pada hari penangkapan Zhang, 21 Oktober 2024, istrinya memperhatikan bahwa polisi telah merobek setiap halaman kalender yang berisi informasi tentang Falun Gong dan mengklaim bahwa setiap halaman adalah bukti terpisah. Ketika ia mengecam mereka karena memalsukan bukti terhadap suaminya, mereka mengancam akan menangkapnya. Mereka juga menyita beberapa flash disk kosong dan merobek hiasan lama dengan kata “Fu” (“keberuntungan” dalam bahasa Mandarin) di atasnya.

Polisi tidak mengizinkan istri Zhang untuk memverifikasi barang-barang yang disita, dan mereka juga tidak memberikan daftar barang-barang tersebut sebagaimana diwajibkan oleh hukum. Mereka membawanya ke kantor polisi dan menanyakan dari mana mereka mendapatkan kalender itu. Ia mengatakan bahwa ia tidak tahu karena ia tidak membawanya pulang. Polisi menjawab, “Jika bukan Anda, maka itu adalah suami Anda.” Itulah yang menjadi “kesaksiannya” melawan Zhang.

Putri Zhang menambahkan bahwa toko reparasi ponsel tidak mengidentifikasi ayahnya dari video pengawasan toko hingga 9 Desember 2024, namun polisi telah mengeja nama Zhang dalam tanda terima kasus mereka, tertanggal 7 Desember 2024. Meskipun ia menuntut pembebasan ayahnya, ia dijatuhi hukuman penjara empat setengah tahun.

Mirip dengan kasus Zhang, istri Li Zhengxun, 73 tahun, dari Kota Qingdao, Provinsi Shandong, juga terdaftar sebagai saksi penuntut, meskipun ia tidak menandatangani catatan interogasi. Saksi lain yang terdaftar dalam dakwaan tidak hadir di pengadilan untuk pemeriksaan silang selama sidangnya pada 21 Mei 2025.

Materi informasi Falun Gong yang disita dari rumah Li juga terdaftar sebagai bukti penuntut terhadapnya. Li menunjukkan bahwa Administrasi Umum Pers dan Publikasi telah mencabut larangan penerbitan buku Falun Gong pada 2011. Pengacaranya kemudian menambahkan bahwa materi tersebut adalah aset sah Li dan tidak membahayakan siapa pun atau masyarakat luas. Li dijatuhi hukuman satu setengah tahun pada 3 Juli 2025.

iii. Mantan Dosen Senior Dijatuhi Hukuman Lagi dengan “Bukti” yang Sudah Digunakan untuk Menghukumnya

Liu Yongying (wanita), seorang dosen senior berusia 62 tahun di Sekolah Administrasi Sipil Jiangxi di Kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, dijatuhi hukuman tiga tahun tiga bulan dengan denda 10.000 yuan pada 15 Juli 2025. Bukti penuntut termasuk 138 amulet dengan informasi tentang Falun Gong yang terukir di atasnya, yang disita dari mobil Liu, serta barang-barang yang disita dari rumahnya, termasuk 16 buku Falun Gong dan poto pendiri Falun Gong.

Liu menunjukkan bahwa 138 amulet tersebut disita darinya selama penangkapan sebelumnya pada 2 April 2018, dan digunakan sebagai bukti untuk membuatnya dijatuhi hukuman dua tahun, tetapi jaksa penuntut menggunakannya lagi dalam kasus terbaru ini. Amulet yang ditunjukkan di pengadilan kali ini tampak usang dan tulisannya buram. Namun hakim tetap menjatuhkan hukuman kepadanya.

b. Ketika Para Praktisi Menghadapi Persidangan

1) Tuntutan Tanpa Dasar Hukum

Li Lixia (wanita), seorang dokter berusia 31 tahun di Kota Shijiazhuang, Provinsi Hebei, ditangkap malam hari pada 25 Maret 2024. Ia hadir di Pengadilan Distrik Qiaoxi pada 20 November 2024, 1 April 2025, dan 24 April 2025, sebelum dijatuhi hukuman penjara 1,5 tahun.

Li mengajukan banding ke Pengadilan Menengah Kota Shijiazhuang, menuntut pembatalan hukuman yang salah tersebut. Ia juga meminta agar lima petugas polisi yang terlibat dalam kasusnya, dan jaksa Zhang Shiyao dari Kejaksaan Distrik Qiaoxi, yang mendakwanya tanpa dasar hukum, bertanggung jawab atas tindakan ilegal mereka.

Dalam bandingnya, Li menegaskan kembali kurangnya dasar hukum untuk penuntutannya. Jaksa Zhang mendakwanya dengan pelanggaran Pasal 300 KUHP, yang menyatakan bahwa siapa pun yang menggunakan organisasi kultus untuk melemahkan penegakan hukum harus dituntut seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku. Namun, badan pembuat undang-undang Tiongkok, Kongres Rakyat, tidak pernah mengesahkan undang-undang apa pun yang mengkriminalisasi Falun Gong, atau menyebutnya sebagai kultus. Dengan demikian, tidak ada dasar hukum untuk dakwaan dan hukuman selanjutnya.

Zhang juga mengutip sebagai dasar hukum interpretasi hukum Pasal 300 KUHP yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung Rakyat dan Kejaksaan Agung Rakyat pada November 1999. Interpretasi tersebut mensyaratkan bahwa siapa pun yang berlatih atau mempromosikan Falun Gong harus dituntut seberat-beratnya. Li menunjukkan bahwa interpretasi hukum baru yang menggantikan versi 1999 mulai berlaku pada 1 Februari 2017. Interpretasi baru tersebut tidak menyebutkan Falun Gong dan menekankan bahwa setiap dakwaan terhadap siapa pun yang terlibat dalam kultus harus didasarkan pada dasar hukum yang kuat. Karena tidak ada undang-undang yang diberlakukan di Tiongkok yang menyebut Falun Gong sebagai sekte, dakwaan dan hukuman yang dijatuhkan kepada Li berdasarkan interpretasi undang-undang tersebut tidak memiliki dasar hukum.

Bukti penuntutan yang digunakan terhadap Li termasuk buku-buku Falun Gong dan materi lain yang disita dari rumahnya. Ia mengecam jaksa Zhang karena mencatat setiap brosur Falun Gong yang dilipat dua sebagai dua brosur sehingga ia dapat mencapai jumlah bukti minimum yang diperlukan untuk mengajukan tuntutan terhadapnya. Selain itu, dan yang lebih penting, Administrasi Pers dan Publikasi Nasional telah mencabut larangan penerbitan buku Falun Gong pada 2011. Oleh karena itu, semua materi Falun Gong yang dimilikinya adalah sah.

2) Campur Tangan dalam Perwakilan Hukum

Yang Qiaoli (wanita), ibu dari dua anak usia sekolah di Kota Tongchuan, Provinsi Shaanxi, ditangkap pada 8 Januari 2024. Dua saudara kandungnya ditahan selama 15 hari ketika mereka mencoba membebaskannya. Setelah seorang pengacara Beijing menangani kasusnya, polisi mengajukan pengaduan terhadap pengacara dan firma hukumnya ke Biro Kehakiman Beijing, menuduhnya “berani membela seorang praktisi Falun Gong.”

Jaksa Gao Guanghua dari Kejaksaan Distrik Yintai menghubungi firma hukum untuk menanyakan apakah pengacara memang berada di bawah naungan firma hukum tersebut. Gao juga bertanya apakah pemilik firma hukum mengetahui bahwa pengacara tersebut mewakili seorang praktisi Falun Gong.

Gao kemudian menghubungi pengacara secara langsung dan bertanya apakah ia setuju bahwa Falun Gong adalah sebuah sekte. Pengacara tersebut menjawab bahwa baik dia maupun Gao tidak memiliki kredensial untuk menjawab pertanyaan mengenai apakah suatu sistem kepercayaan adalah sekte dan hal itu tidak diputuskan oleh lembaga pemerintah mana pun. Ia juga menyerahkan dokumen hukum yang membuktikan bahwa tidak ada hukum di Tiongkok yang mengkriminalisasi Falun Gong atau menyebutnya sebagai sekte dan bahwa larangan terhadap buku-buku Falun Gong telah dicabut pada 2011.

Gao menolak menerima dokumen hukum dan permintaan pengacara untuk membatalkan kasus tersebut. Ia kemudian mendakwa Yang pada waktu yang tidak diketahui.

Pengadilan Distrik Yintai mendengar kasus tersebut pada 29 Agustus 2024. Saudara laki-laki dan perempuan Yang tidak diizinkan untuk menghadiri persidangan atau mewakilinya sebagai pembela bukan-pengacara. Setelah persidangan, polisi segera membawa Yang keluar dari gedung pengadilan. Ia dijatuhi hukuman enam setengah tahun pada 8 Juli 2025.

Tiga warga Kota Dongying, Provinsi Shandong, dinyatakan bersalah pada 26 Mei 2025. Wang Fan (wanita), 50 tahun, dijatuhi hukuman empat tahun. Suaminya, Du Jianxin, 51 tahun, dan Fu Jian (pria), sekitar 47 tahun, masing-masing menerima hukuman tiga setengah tahun.

Ketiga praktisi tersebut ditangkap pada 29 November 2023. Ibu Du sangat terpukul oleh penangkapan putra dan menantunya sehingga beliau meninggal dunia pada Mei 2024. Setelah keluarga pasangan tersebut menyewa pengacara untuk mewakili mereka, pusat penahanan melarang pengacara mengunjungi kliennya dan mengatakan bahwa ia harus mendapatkan persetujuan dari polisi terlebih dahulu. Polisi, di sisi lain, mengklaim bahwa mereka tidak dapat mengijinkan pertemuan apa pun karena mereka sedang dalam proses menginterogasi pasangan tersebut dan mengumpulkan bukti penuntutan. Faktanya, polisi tidak pernah pergi ke pusat penahanan untuk bertanya pada pasangan tersebut.

Polisi kemudian menyuruh seorang praktisi yang dilecehkan hingga mengalami gangguan mental untuk menandatangani lembaran kertas kosong dan dokumen palsu lainnya yang akan digunakan sebagai bukti penuntutan, yang menurut jaksa penuntut cukup untuk membuktikan bahwa ketiga praktisi yang diadili tersebut melanggar hukum.

3) Dijatuhi Hukuman Tanpa Pengadilan atau Dijatuhi Hukuman Secara Diam-diam

Wang Junping, seorang wanita berusia 77 tahun di Beijing, dilaporkan ketika ia berbicara dengan seorang mahasiswa tentang Falun Gong pada 18 Oktober 2024. Polisi membebaskan dia setelah interogasi singkat, tetapi menangkapnya kembali pada 18 Februari 2025, dan membawanya ke tahanan setempat. Keluarganya dilarang mengunjungi dia dan juga tidak diberi tahu tentang status kasusnya.

Setelah keluarga Wang mengetahui bahwa ia didakwa pada Oktober 2025, mereka menelepon hakim ketua beberapa kali, tetapi dialihkan ke divisi lain di pengadilan setempat. Ketika seseorang akhirnya mengangkat telepon untuk berbicara dengan mereka, mereka sangat terpukul mengetahui bahwa Wang telah dijatuhi hukuman tiga setengah tahun. Ketika mereka bertanya mengapa mereka tidak diberitahu tentang persidangan, orang tersebut mengatakan tidak ada persidangan.

Sama dengan Wang, banyak praktisi yang dijatuhi hukuman secara diam-diam dan keluarga mereka tidak diberi tahu tentang status kasusnya. Beberapa orang tidak mengetahui tentang hukumannya sampai mereka dipindahkan ke penjara. Hal ini tidak hanya mencegah keluarga untuk menyewa pengacara agar mewakili para praktisi, tetapi juga mencegah mereka untuk mengajukan banding dalam jangka waktu yang tepat.

Keluarga Sun Hongzhu (pria) menerima pemberitahuan pada Juli 2025 yang menyatakan bahwa ia dimasukkan ke Penjara Jinan di Provinsi Shandong pada 25 Juni 2025, untuk menjalani hukuman penjara tujuh tahun karena keyakinannya pada Falun Gong.

Sun, seorang warga berusia 73 tahun dari Kota Shouguang, Provinsi Shandong, ditangkap pada 9 November 2024. Polisi menuduh Sun menggunakan sekte untuk melemahkan penegakan hukum dan mengeluarkan surat perintah penangkapan resmi terhadapnya. Setelah itu, keluarganya tidak pernah diberi informasi terbaru tentang dakwaan, persidangan, atau hukumannya. Mereka tidak mengetahui tentang hukuman bersalah Sun dan penahanannya di penjara sampai mereka menerima pemberitahuan dari penjara.

IV. Dampak Penganiayaan terhadap Para Praktisi

a. Kesehatan Fisik Terancam

Setelah ditangkap, banyak praktisi disiksa karena tidak mau meninggalkan keyakinan mereka. Ketika mereka melakukan mogok makan sebagai protes, pihak berwenang memaksanya untuk makan. Meskipun banyak praktisi mengalami kondisi medis yang parah akibat penyiksaan tersebut, mereka tetap dijatuhi hukuman dan dimasukkan ke penjara untuk menjalani hukuman.

Hanya beberapa hari setelah keluarga Lei Yangfan akhirnya mengkonfirmasi hukuman penjara yang dijatuhkan kepadanya setelah ia menghilang selama sepuluh bulan, mereka sangat terpukul mengetahui bahwa ia sekarang dalam kondisi kritis.

Lei Yangfan

Lei, 51 tahun, dari Kota Changsha, Provinsi Hunan, tidak kembali ke rumah pada 14 Mei 2024. Istrinya, Tang Min, langsung tahu bahwa suaminya pasti telah ditangkap lagi karena keyakinan mereka yang sama pada Falun Gong. Dia menghubungi berbagai lembaga pemerintah, tetapi tidak ada yang memberitahu apa yang terjadi pada suaminya. Baru pada awal Maret 2025 dia memastikan bahwa suaminya telah dijatuhi hukuman penjara satu tahun pada 25 September 2024.

Seorang penjaga penjara dari Penjara Wangling menghubungi keluarga Lei malam hari pada 23 Maret 2025, dan mengatakan bahwa Lei mengalami penumpukan cairan di paru-paru dan otaknya. Dia telah dibawa ke rumah sakit pada hari itu dan diberi pemberitahuan kondisi kritis, saat dirawat di unit perawatan intensif.

Keluarga bergegas ke rumah sakit pada sore harinya, disana mereka menemukan Lei dalam keadaan koma. Dia tidak memberikan respons ketika mereka memanggil namanya. Dia kurus kering dan cacat. Banyak petugas, beberapa berseragam polisi dan beberapa berpakaian preman, hadir di ruangan itu. Keluarga tidak diizinkan membawa ponsel ke dalam ruangan, dan mereka juga tidak diizinkan menyentuh Lei.

Hanya beberapa menit, polisi memerintahkan keluarga untuk pergi. Polisi mengatakan bahwa mereka juga memberi izin khusus untuk mengunjunginya. Ketika keluarga menanyakan kondisi Lei kepada dokter sebelum pergi, dokter mengatakan bahwa kondisinya sudah jauh lebih baik. Keluarga menuntut agar polisi membebaskannya. Polisi meminta mereka untuk menunggu sampai ada pemberitahuan lebih lanjut.

Feng Guoqing (pria), sekitar 59 tahun, dari Kota Yichun, Provinsi Heilongjiang, ditangkap pada 4 Desember 2024. Lebih dari 200.000 yuan uang tunai disita dari rumahnya. Karena ia menolak untuk bekerja sama dengan interogasi dan melakukan mogok makan, polisi melepaskan pakaiannya, mengikat dia di tempat tidur dalam posisi terlentang, dan memaksanya makan. Ia dipaksa untuk buang air besar di tempat tidur. Akibat penyiksaan tersebut dia mengalami gagal ginjal pada kedua ginjalnya.

Feng muncul di Pengadilan Kabupaten Nancha pada 20 Juni 2025. Pengacaranya diberitahu pada 5 Juli bahwa ia dijatuhi hukuman enam tahun dan didenda 10.000 yuan. Uang kertas yang dicetak dengan pesan Falun Gong yang disita darinya, disita secara paksa.

Wang Zebin (pria), 53 tahun, mantan karyawan Pabrik Bantalan Kota Harbin di Provinsi Heilongjiang, ditangkap di rumahnya pada 19 Desember 2024. Ia memulai mogok makan pada hari itu dan dipaksa makan tujuh hari kemudian. Perawat gagal memasukkan selang makanan ke perutnya dan menarik selang keluar dengan kasar, menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Ia melakukan mogok makan lagi pada 28 Januari 2025, setelah pusat penahanan melarangnya melakukan latihan Falun Gong. Ia mulai merasakan sakit beberapa hari kemudian dan ditemukan menderita batu ginjal. Ia dioperasi dan dibawa kembali ke pusat penahanan setelah keluar dari rumah sakit. Ia diadili pada 4 Juli dan dijatuhi hukuman tiga setengah tahun pada 13 Agustus.

Fu Yunping (wanita), yang bekerja di Kota Taizhou, Provinsi Zhejiang, ditangkap pada 7 April 2025, karena berbicara dengan seseorang tentang Falun Gong. Polisi menggerebek rumahnya dan hanya menemukan pemutar media dengan ceramah Falun Gong di dalamnya. Untuk mengumpulkan lebih banyak “bukti” terhadapnya, mereka menginterogasi semua rekan kerjanya di sebuah hotel dan menuntut untuk mengetahui apakah dia telah mengatakan sesuatu kepada mereka tentang Falun Gong.

Pusat penahanan menghubungi keluarga Fu pada 19 Juni untuk mengatakan bahwa dia mengalami stroke dan sedang dirawat di rumah sakit. Ketika keluarga mengunjunginya, dia tidak dapat menggerakkan satu sisi tubuhnya atau berbicara. Dia diikat di tempat tidur, tetapi tampaknya pikirannya jernih. Keluarga mengajukan permohonan agar dia dibebaskan dengan jaminan, tetapi hakim yang menangani kasusnya menolak permintaan mereka. Dia dijatuhi hukuman satu tahun sembilan bulan sekitar November 2025.

Dr. Zhao Junfang, seorang dokter spesialis penyakit dalam berusia 63 tahun di Kota Haicheng, Provinsi Liaoning, dijatuhi hukuman tiga tahun pada 23 Oktober 2025. Ketika menunggu hasil bandingnya, ia mengalami tekanan darah sangat tinggi, mati rasa di sebagian tubuhnya, dan pikirannya bingung. Keluarga sangat khawatir tentangnya.

b. Penganiayaan Keuangan Setelah Menjalani Hukuman Penjara

Wang Rongjun (wanita), seorang pensiunan pramuniaga toko berusia 74 tahun, dan putrinya, Na Yan, seorang perawat berusia 40-an, dari Kota Shenyang, Provinsi Liaoning, ditangkap di kediamannya pada 13 Juli 2021. Ibu dan anak perempuan itu sama-sama divonis bersalah pada Februari 2022, masing-masing menerima hukuman tiga tahun dua bulan dengan denda 10.000 yuan.

Setelah dibebaskan dari penjara pada 9 Agustus 2024, Na mengetahui bahwa ia telah dipecat oleh majikannya, Rumah Sakit Keenam Kota Shenyang, selama masa hukuman di penjara, tanpa sepengetahuannya. Dia meminta agar pekerjaannya dikembalikan, tetapi rumah sakit bersikeras bahwa “narapidana yang dihukum” harus dipecat.

Wang menerima tunjangan pensiunannya untuk sebagian masa hukuman yang tidak diketahui, tetapi biro jaminan sosial setempat kemudian menghentikan pembayaran tersebut. Setelah dia dibebaskan pada Agustus 2024, Biro Jaminan Sosial masih belum mengembalikan pensiunannya dan memerintahkan dia agar mengembalikan tunjangan yang dibayarkan selama masa hukumannya terlebih dahulu, jika tidak, mereka akan melanjutkan penangguhan pembayaran pensiunannya.

Liu Jinsheng (pria), 50 tahun, dari Kabupaten Anze, Provinsi Shanxi, dijatuhi hukuman tiga tahun dengan masa percobaan empat tahun dan denda 5.000 yuan pada 25 Desember 2024. Pengadilan banding menolak bandingnya pada 26 Februari 2025, tanpa mengadakan sidang. Majikannya, Perusahaan Listrik Kabupaten Anze, terpaksa memecatnya pada April 2025. Dia sekarang dipantau ketat oleh polisi setempat dan Biro Kehakiman, dan tidak diizinkan untuk keluar kota.

c. Dampak pada Keluarga

1) Pasangan yang Dihukum karena Mencari Keadilan untuk Orang yang Mereka Cintai

Liu Cong, seorang wanita berusia 44 tahun di Kota Huludao, Provinsi Liaoning, dijatuhi hukuman empat tahun dan denda 20.000 yuan, demikian yang diketahui keluarganya pada 19 Juni 2025. Hukuman yang salah tersebut berawal dari upayanya untuk mencari keadilan bagi suaminya, Luan Changhui, seorang insinyur kapal berusia 55 tahun. Ia mewakili suaminya sebagai pembela keluarga selama persidangan. Setelah suaminya dijatuhi hukuman empat tahun pada 30 November 2021, ia mengajukan banding atas nama suaminya. Ketika banding tersebut ditolak, ia mengajukan mosi untuk mempertimbangkan kembali hukuman yang salah tersebut. Pihak berwenang membalas dendam terhadapnya dan menangkap dia pukul 5 pagi pada 12 Juli 2024.

Chu Qingzhen (wanita), dari Kota Laiyang, Provinsi Shandong, ditangkap pada 29 Oktober 2024, setelah polisi mencurigainya menggunakan komputer yang baru dibelinya untuk memproduksi materi Falun Gong. Setelah polisi menyerahkan kasusnya ke kejaksaan, suaminya, Song Xuechun, yang juga seorang praktisi, mengajukan permohonan untuk mewakilinya sebagai pembela keluarga. Namun pada 18 Januari 2025, dua hari sebelum sidang Chu, pengadilan tiba-tiba memberi tahu Song bahwa ia tidak lagi diizinkan untuk membela istrinya di pengadilan. Meskipun ia tetap memutuskan untuk mewakili istrinya, ia ditangkap pada pagi hari 20 Januari, segera setelah ia meninggalkan gedung apartemennya dengan pernyataan pembelaan. Chu kemudian dijatuhi hukuman dua tahun dan Song tiga setengah tahun.

2) Penderitaan Keluarga

Zhao Caixia (wanita), 73 tahun, didekati oleh polisi dan barang bawaannya digeledah saat ia dan saudara perempuannya menunggu untuk naik kereta di Stasiun Kereta Api Kota Harbin di Provinsi Heilongjiang pada 25 April 2025. Setelah menemukan uang kertas yang dicetak dengan informasi tentang Falun Gong, polisi menangkap kedua saudari itu dan membawa mereka ke kantor polisi. Polisi juga menggerebek rumah kedua saudari itu dan menyita buku-buku Falun Gong, materi informasi, dan poto pendiri Falun Gong.

Meskipun saudara perempuannya dibebaskan setelah 15 hari, Zhao ditahan dan dijatuhi hukuman 2,5 tahun. Suami dan putrinya, yang keduanya penyandang disabilitas dan bergantung padanya untuk perawatan, telah berjuang untuk mengurus diri sendiri sejak ia dibawa pergi.

Wang Jianying (pria), seorang pensiunan pegawai pemerintah berusia 81 tahun, dan saudara perempuannya, Wang Yuying, 68 tahun, keduanya dari Kota Gongzhuling, Provinsi Jilin, ditangkap masing-masing pada 7 dan 8 Agustus 2024. Sekitar tanggal 20 September 2024, Wang meninggal di pusat penahanan. Pihak berwenang menawarkan keluarganya 30.000 yuan sebagai imbalan atas kebungkaman mereka mengenai kematiannya yang mencurigakan.

Wang dibebaskan dengan jaminan sekitar 24 September 2024, setelah pemakaman saudara perempuannya. Polisi terus melecehkannya secara teratur. Mereka juga memasang kamera pengawas di rumah tetangganya, menghadap pintu depan rumah Wang. Dia dibawa ke pengadilan setempat dengan kursi roda pada 5 Juni 2025 dan dijatuhi hukuman lima tahun beberapa hari kemudian. Istrinya yang berusia 75 tahun kini ditinggal sendirian di rumah untuk mengurus dirinya, karena putra satu-satunya meninggal pada 2023.

Miao Jianguo, seorang tukang listrik berusia 60 tahun di Kota Jinzhou, Provinsi Liaoning, ditangkap di rumahnya pada 21 Agustus 2024. Polisi menuduhnya mempromosikan Falun Gong dan mencemarkan nama baik pejabat pemerintah dalam permohonan pensiunnya kepada mantan majikannya, Bagian Timur Biro Kereta Api Jinzhou.

Dalam permohonan tersebut, Miao menceritakan masa kerja paksa selama 3 tahun yang dijatuhkan kepadanya pada 2002, hukuman penjara 4 tahun pada 2008, dan hukuman penjara 1,5 tahun pada 2022. Setelah penangkapannya pada 2001, istrinya yang sedang hamil delapan bulan, juga seorang praktisi Falun Gong, sangat tertekan sehingga mengalami abrupsi plasenta, yang mengakibatkan kematian bayi yang belum lahir. Dia tidak pernah bisa mengandung bayi lagi. Dia meninggal pada 2022, setelah bertahun-tahun mengalami penganiayaan, sementara Miao masih ditahan. Semua informasi tersebut menjadi “kejahatan” yang mengakibatkan hukuman penjara lima tahun lagi, yang dijatuhkan oleh hakim pada 16 April 2025. Ia juga didenda 6.000 yuan.

Laporan Terkait:

Dilaporkan pada November 2025: 63 Praktisi Falun Gong Dihukum karena Keyakinan Mereka

Dilaporkan pada Oktober 2025: 32 Praktisi Falun Gong Dihukum Karena Keyakinan Mereka

Dilaporkan pada Bulan September 2025: 43 Praktisi Falun Gong Dihukum karena Keyakinan Mereka

Dilaporkan pada Agustus 2025: 69 Praktisi Falun Gong Dihukum karena Keyakinan Mereka

Dilaporkan pada Juli 2025: 74 Praktisi Falun Gong Dihukum Karena Keyakinan Mereka

Dilaporkan pada Paruh Pertama Tahun 2025: 430 Praktisi Falun Gong Dihukum Karena Keyakinan Mereka

Dilaporkan pada Mei 2025: 79 Praktisi Falun Gong Dihukum karena Keyakinannya

Reported in April 2025: 79 Falun Gong Practitioners Sentenced for Their Faith

Dilaporkan pada Bulan Maret 2025: 61 Praktisi Falun Gong Dihukum karena Keyakinan Mereka

Dilaporkan pada Februari 2025: 68 Praktisi Falun Gong Dihukum karena Keyakinan Mereka

Dilaporkan pada Januari 2025: 97 Praktisi Falun Gong Dihukum karena Keyakinan Mereka